Mempertanyakan Asal-Usul Yahudi Ashkenazi

Argumentasi bahwa bangsa Israel, yang dahulu tercerai-berai kini bersatu dalam naungan Negara Israel adalah keturunan dan bangsa yang sama dari nenek moyang mereka 2000 tahun lampau sering terdengar. Argumentasi ini selalu menjadi senjata pamungkas bagi setiap argument apapun yang menggugat, tidak saja eksistensi negara Yahudi tersebut, tetapi setiap isu dalam konflik Israel dan Palestina, terutama mereka yang berada pada lini media sosial. Benarkah argumentasi ini sepenuhnya valid?

Tulisan selanjutnya akan memaparkan informasi yang sesungguhnya bukan merupakan hal baru namun kurang mendapat tempat di media sehingga minim diketahui publik. Tentu saja, hal ini terkait dengan pandangan politik dan kepentingan masing-masing media, disamping untuk menghindar dari tuduhan sebagai bagian anti-semit. Sebuah kata pamungkas untuk mereka-mereka yang mengkritisi keberadaan Israel dan kebijakan politik Israel dalam konflik di Palestina.

Sejak tahun 1948, orang-orang Yahudi berhasil mewujudkan mimpinya untuk memiliki sebuah negara Yahudi yang mereka dambakan, yaitu negara Israel. Mereka seolah telah mendapatkan tanah yang dijanjikan oleh tuhan seperti yang termaktub dalam kitab Torah mereka. Bangsa Yahudi ini berbondong-bondong kemudian melakukan migrasi ke tanah Palestina tersebut. Migrasi itu mereka sebut sebagai Aliyah, yang terjadi dalam berbagai gelombang dalam banyak kurun waktu dari awal abad ke-20 hingga kini.

Para migran itu mayoritas adalah mereka yang bermukim di Eropa, terutama Eropa Timur, Russia dan Amerika. Belakangan juga diikuti oleh bangsa Yahudi Afrika dan belahan dunia lainnya. Bangsa Yahudi yang kini menetap di Israel mayoritas adalah mereka yang berkulit putih. Sebutan bagi mereka yang mempunyai darah Yahudi Eropa disebut sebagai kelompok Yahudi Ashkenazi. Kelompok Yahudi Ashkenazi ini meliputi 90% dari total populasi Yahudi di seluruh dunia. Menurut data dari Jewish virtual library, jumlah Yahudi dunia ada mendekati 14 juta orang, dengan populasi terbesar ada di Amerika dan Israel.(1

Sementara mereka yang bukan dari Eropa yaitu Afrika dan Arab dimasukan sebagai kelompok Yahudi Mizrahi.  Ada juga kelompok Sephardim, adalah mereka yang berakar dari Yahudi Spanyol. Kelompok sephardim ini mempunyai tradisi keyahudian  yang berbeda dengan kelompok Ashkenazi. Kelompok Yahudi Mizrahi berbasis pada tadisi Sephardim. Di awalnya, kelompok Mizrahi ini tidak mengidentifikasikan dirinya sendiri atau mengkotakkan diri mereka, hingga kelompok Ashkenazi  membuat sebuah tradisi sendiri yang berbeda dengan mereka.  Sejarah Yahudi Sephardim bermula dari migrasi Yahudi yang bermukim di Spanyol ke wilayah Afrika Utara dan Timur Tengah, akibat praktek inkuisisi yang diterapkan oleh Gereja Khatolik melalui Raja Ferdinand dari Aragon dan Ratu Isabella dari Castila pada abad ke-15 saat itu, baik kepada kaum Yahudi maupun Muslim spanyol. Inkuisisi adalah sebuah kebijakan kerajaan yang didorong oleh gereja untuk memaksa mereka yang bukan Kristen untuk meninggalkan agama mereka (Islam dan Yahudi) atau mereka terancam jiwanya. Pilihan lainnya adalah meninggalkan spanyol dan mencari tempat hidup baru di wilayah di luar kerajaan.(2

Orang-orang Yahudi, meyakini bahwa mereka adalah satu darah, yaitu keturunan langsung dari Yaqub.  Kini, kaum Yahudi sudah bernaung dalam sebuah negara Israel. Hukum Dasar Israel sebagai negara bagi bangsa Yahudi memasukan hak bagi segenap Yahudi di dunia untuk menjadi warga negara Israel, dan menjaga hubungan dengan mereka yang ada di diaspora. Dari sini diperkuat dengan   sebuah undang-undang, yaitu Law of Return. Undang-undang ini menjamin Yahudi di luar Israel untuk kembali ke Israel dan menjadi warga negara Israel.

Bangsa Israel mengklaim bahwa mereka adalah masih berasal dari satu bangsa atau keturunan yang sama dari bangsa Israel lebih dari 2000 tahun lampau dari tanah Kana’an, atau sekarang ini dikenal Palestina – Israel. Klaim ini karena mereka hidup dalam komunitas tertutup, dan minim kawin campur. Yahudi menganut garis keturunan berdasarkan ibu (Matrilineal) untuk menjaga ke-Yahudiannya. Walaupun di beberapa komunitas Yahudi, semisal sebagian yang ada di Amerika, juga mengakui keYahudian dari garis keturunan bapak (patrilinieal). Karena menjadi sesuatu yang eksklusif, maka klaim bangsa Israel sebagai satu keturunan dari bangsa Israel yang berabad lamanya adalah sesuatu yang dianggap valid. Dari sinilah kemudian Israel dianggap juga sebagai sebuah ras.

RHINELAND DAN KHAZARIA HIPOTESA

Sejarah terbentuknya negara israel modern adalah dibentuk oleh kaum migran yang berasal dari Eropa Timur. Mereka hidup dalam komunitas sesama kaum Yahudi di benua Eropa kebanyakan dari Polandia, Jerman,  Prancis, Ukraine, Crimea dan beberapa tempat lainnya. Migran yang berasal dari Amerika mnempati pula porsi besar. Mereka juga merupakan keturunan Eropa yag masuk ke amerika sebelumakhirnya aturan keimigrasian diperketat pada tahun 1924. Migrasi ini terjadi selama kurun abad ke -19 hingga abad ke-20 akibat adanya Pogrom di Eropah Timur. Progrom adalah sebuah bentuk perlakuan pembersihan Etnis menyusul adanya huru-hara di Rusia. Mencapai puncaknya ketika pogrom ini diambil alih negara menyusul terbunuhnya Tsar Alexander II pada tahun 1881, yang menjadi tertuduh adalah orang Yahudi. Mentri dalam negeri, Ignatiev,  mengorganisasi pogrom ini dalam tindakan yang sistematis melibatkan aparat negara seperti polisi dan komunitas masyarakat berdasarkan etnis. Partai Revolusioner Narodya pada Agustus 1881, menyerukan orang-orang Ukraina (saat itu adalah bagian Rusia), untuk membunuh setiap orang Yahudi.(3

Di samping itu, Eropa pada masa tersebut sedang bangkit era nasionalisme baru Eropah yang mengidentifikasikan dan mendefiniskan lagi jati diri Eropa mereka.(4 Dan bagi mereka para Yahudi adalah berbeda. Saat itu memang Yahudi kurang berasimilasi dalam tradisi mereka.

Lantas dari manakah bangsa Yahudi yang dikejar dan dianiaya pada masa-masa pogrom tersebut berasal? Dari teori sebaran bangsa Israel di Rusia dan Eropa Timur lainnya, diantaranya diformulasikan dalam hypothesa Rhineland. Hypothesa ini menyebutkanYahudi melakukan migrasi pada masa millenium pertama ke wilayah Italy, kemudian bergerak ke bagian utara Italia dan akhirnya mencapai tepian sungai Rhine antara Jerman dan Prancis. Migrasi in dilakukan saat  peperangan dengan kekaisaran Romawi berakhir  (132 M) yang dikenal dengan revolusi Bar Kokhba. Sebelumnya pada tahun 70 M Kuil kedua Yahudi (The Second Temple) di Yerusalem dihancurkan pula dalam peperangan dengan Romawi. Kekalahan terakhir pada tahun 132 M ini, dan di bawah kaisar Hadrian,  melarang segenap atribut dan praktek keagamaan/pengajaran Torah. Dampak dari kekalahan dan larangan ini membuat sebagian besar Yahudi itu melarikan diri ke Itali (roma). Pilihan ke Itali adalah jalur yang mereka pahami karena kaum Yahudi di antaranya adalah para pedagang dan saudagar yang berdagang ke sana. Dari Itali inilah kemudian secara perlahan menuju Prancis dan Jerman di wilayah sungai Rhine. Dari Rhine ini kemudian mereka bergerak ke bagian Eropah Timur dan Rusia. Kaum Yahudi yang menetap di Eropah Timur dan Rusia ini kemudian yang kini disebut sebagai Yahudi Ashkenazi, yang merupakan Yahudi Migran terbesar yang ada di wilayah Amerika dan Israel menyusul masa-masa Pogrom dan Holocaust.

Sementara ada juga hipotesa lain yang menjelaskan bahwa Yahudi Ashkenazi sekarang ini, sebagian besar bukanlah merupakan keturunan kaum Yahudi yang dahulu bermigrasi ke Eropah Timur. Namun mereka adalah para keturunan orang-orang Khazar yang berasal dari Kaukasus. Khazar adalah kerajaan Yahudi, yang wilayahnya diduga meliputi bagian Ukraine, Rusia, Armenia, Georgia, dan mendekat pada Polandia dan Hungaria.  Terletak membentang antara Laut kaspia dan Laut Hitam.  Membentang dari pegunungan kaukasus hingga tepian sungai Volga. (5

Khazar adalah kerajaan Yahudi pertama setelah kekalahan Yahudi dari bangsa Romawi di luar wilayah mediterrnian. Kerajaan ini eksis antara abad ke-7 hingga abad ke-12, dan menjadi buffer antara dua kutub kekuatan peradaban, kekaisaran Romawi dan Kekhalifahan Abassiyah di Baghdad. Arthur Koestler, mengutip Professor Dunlop dari Columbia University, menuliskan, bahwa Khazar terbentang sepanjang garis kekuasaan Arab terluar kekhalifahan Abbasyid. Kekuasaan wilayah kekhalifahan itu berada bersisian dengan wilayah khazar diperbatasan pegunungan Kaukasus. Bila garis pegunungan ini terlampui, maka disanalah jalan menuju Eropah Timur. Bila bukan karena adanya kerajaan Khazar, maka diprediksi bahwa kekhalifahan islam saat itu akan tembus hingga masuk ke Eropah Timur. Kerajaan Khazar secara resmi memeluk Yahudi sebagai agama resmi kerajaan pada abad VIII sebagai sebuah pilihan politik. Menurut koestler, khazar menghindari kemungkinan dijadikan kendaraan bagi dua empire yaitu Bizantyn dan Ummayah bila memilih salah satu diantara dua agama resmi kekaisaran tersebut.

Dengan demikian berbeda dengan Yahudi di kawasan mediterranian yang meyakini bahwa Yahudi adalah keyakinan yang dipeluk oleh keturunan Yakub dari tanah Kana’an. Bangsa khazar, bukanah keturunan Yaqub anak nabi Ibrahim itu tapi bangsa ras Turkic,  Aryan, dan secara genetik juga dekat pada suku bangsa Magyar dan Hun (5

Mengenai adanya kerajaan Khazar yang menganut Yahudi sebaga hasil konversi didapat dalam bentuk literatur dokumen-dokumen Khazar, seperti pertama, korespondensi surat Schechter dan Surat Kievan. Kedua, Laporan dari sejarawan dan penjelajah (travelers) Arab masa itu seperti Ibn Fadlan, Ibn Rustah dan Abd al-Jabbar ibn Muhammad al-Hamdani. Ketiga, sebuah pandangan orang-orang Frank (kini termasuk orang-orang Jerman dan Prancis), dalam Exposition in Matthaeum Evalistam oleh Christian dari Stavelot. Keempat buku karangan Abraham ibn Daud, ha-Qabbalah dan buku ha-Kuzari oleh Yehuda ha-Levi, kedua buku tersebut bercerita tentang Khazar. (6

Populasi Yahudi pada bangsa Khazars tidak saja karena kerjaan secara resmi memeluk Yahudi sebagai agama, namun juga adanya migrasi Yahudi yang berasal kawasan timur tengah,  dan kemudian berasimilasi dan memberikan kontribusi besar adanya konversi bangsa khazar menjadi Yahudi.

Surat seorang Yahudi terkemuka, ahli fisika sekaligus pejabat kerajaan dalam kekhalifahan Islam di Abasiyah semasa Khalifah Abdurrahman III menulis surat kepada Raja Yoseph dari Khazar untuk mengkonfirmasi adanya kerajaan Khazar Yahudi di Kaukasus tersebut. Balas-membalas atas konfirmasi itu pun terjadi. Seorang sejarawan Yahudi asal Rusia, Abraham Kahana (1874-1946) mengkompilasinya dalam sebuah buku yang ditulis dalam bahasa Hebrew dengan judul translasinya  Literature of History, 1922. (7  Sebagai gambaran, pada masa Kekhalifahan Islam Spanyol,  di era abad pertengahan sebelum inkuisisi terjadi, Yahudi mencapai puncak kemasannya dalam bidang budaya dan ilmu, sehingga tidak heran pemuka Yahudi bisa duduk sebagai pejabat di kekhalifahan Islam tersebut.

Benteng Khazars di Sarkel berlokasi di Don River

Benteng Khazars di Sarkel berlokasi di Don River

Khazar mengalami kekalahan dalam perang melawan bangsa Kievan Rus. Mereka mendirikan kekuatan suku Rus yang bersatu didaerah Volga, dengan dipimpin seorang kagan. Kekuatan suku ini terus tumbuh, terutama ditambah dengan bergabungnya para pengembara dan penyamun dari kawasan timur slav yang mengakibatkan melemahnya kekuatan Khazar di daerah tersebut. Akan tetapi bangsa Mongol pada pada abad ke-13 menginvasi Kievan Rus yang saat itu menimbulkan konsekuensi kehancuran besar baik mereka yang non-Yahudi maupun Yahudi. Namun demikian,  tidak membuat semua orang-orang Yahudi terbunuh. Banyak orang-rang Yahudi itu kemudian meninggalkan tanah mereka menuju wilayah aman lainnya. Di antaranya mereka menuju Galicia dan Volhyna wilayah yang berada pada perbatasan antara Polandia dan Ukraina. Selanjunya sebagian para Yahudi kaukasus ini bertemu dengan kaum Yahudi Jerman dan bercampur dalam komunitas yahudi di sana. Sementara sebagian pengungsi lainnya bergerak ke Crimea. Demikian kemudian kita bisa memahami bahwa orang-orang Yahudi kemudian menjadi bagian yang cukup signifikan keberadaannya di Eropa Timur.

BUKAN LAGI RAS NAMUN SEBAGAI AGAMA

Menurut Shlomo Sand,  kaum Yahudi saat ini bukanlah berasal dari satu keturunan sebagai sebuah ras, namun tidak lebih dari sebuah agama, yang tidak berbeda dengan agama lainnya seperti Kristen dan Islam. Kedua agama terakhir ini, melakukan upaya menyebarkan dengan mengajak orang-orang yang masih diluar agama mereka, baik dari pagan atau kepercayaan mereka sebelumnya untuk memeluk agama Kristen ataupun Islam. Yang kedua, Shlomo Sand juga mengungkapkan melalui fakta-fakta sejarah tertulis, bahwa Yahudi, yang diklaim sebagai   keturunan langsung dari bangsa Yahudi dari tanah Kana’an yang kemudian melakukan pengembaran karena terusir sama sekali dari Kana’an, juga tidak sepenuhnya benar. Bahwa benar ada migrasi, namun tidak menjadikan seluruh Yahudi kemudian bermigrasi dari tanah leluhurnya. Sebagian besar mereka tetap berada di tanah Kana’an. Sementara, mereka yang melakukan migrasi melakukan perkawinan dengan mereka yang non Yahudi. Dari perkawinan ini, kemudian terjadi konversi ke dalam agama Yahudi. Bila konversi ini terjadi pada perempuan, maka garis keturunan mereka sebagai Yahudi tidaklah diakui.

Sebagai sebuah bukti otentik bahwa Yahudi menyebarkan pengikutnya dan mengkonversi mereka masuk memeluk Yahudi seperti agama monotheistik lainnya yang dikenal belakangan adalah berupa bukti otentik Yahudi yang berasal dari tanah Arab, bukan dari Palestine. Adalah mereka yang dulu ada di bawah kekuasaan kerajaan Himyar di tanah arab, yang meliputi Saba, Dhu Raydan, Hadhramaut dan Yamnat. (7

Bukti adanya Yahudi di luar tanah Kana’an dan berasal dari Bangsa Arab adalah dengan ditemukannya peti mati (tomb) pada  kuburan dengan inskripsi tertulis pada peti tersebut menjelaskan bahwa mereka berasal dari orang-orang Himyar. Dalam inskripsi tersebut orang Himyar ini menorehkan nama-nama Yahudi pada diri mereka dan juga dua emblem khas Yahudi, di sisi peti mati mereka berupa Candelabra (perangkat tempat lilin berbentuk trisula) dan sebuah Ram’s Horn, atau sebuah alat musik khas Yahudi berbentuk tanduk.

Satu temuan lagi adalah sebuah struktur bangunan yang dibangun tahun 378 M oleh Malik Karib Yuhamin, dalam inskripsi di bangunan tersebut menyebut “Tuhan yang menguasai langit dan Bumi dan Rahmanan (Pengasih)”. Kata Rahmanan adalah juga kata yang khas dipakai oleh Yahudi (juga Islam dan Kristen kemudian hari), dalam kitab Talmud yang tertulis dalam bahasa Aramaic.

Temuan ini diperkuat dengan penemuan terbaru di kota Beit al-Ashwal, berupa inskripsi yang didedikasikan untuk putra Malik Karib Yuhamin, tertulis dalam bahasa Hebrew, “ditulis oleh Yehudah, amen, shalom, amen,” dan juga dalam bahasa Himyarit, “Dengan kekuatan dan kasih tuhan, yang menciptakan ruh/jiwa, tuhan dari kehidupan dan kematian, tuhan dari langit dan bumi, yang menciptakan segala sesuatunya, yang mensejaheterakan orang-orang Israel”.

Kerajaan Himyar (sekarang Yaman), di Arab Peninsula itu disebut juga memeluk agama Yahudi walaupun umur kerajaan itu singkat sekitar 120-150 tahun. Cerita mengenai dihukum matinya seorang misionaris kristen dari kota Najran di bagian utara Himyar, menginidkasikan bahwa Yahudi merupakan agama yang mendominasi saat itu. Ada banyak legenda mengenai pembunuhan para pendeta yang tertulis dalam cerita-cerita kristiani di Arab mengenai martyr-martyr mereka yang mati di tangan orang Yahudi, di bawah kekuasaan kerajaan Himyarite di bawah pemerintahan Surahbi’il Yakkaf. Kekuasaan Yahudi di Himyar ini terakhir dipegang oleh Dhu Nuwas, atau dikenal juga dengan nama Arab, Yusuf As’ar Yathar hingga tahun 525 M. Himyar jatuh pada kekuasaan Kristen Ethiopia, Axum dipimpin oleh Ela Asbeha (Elesboas) dengan dukungan kerajaan Byzantium, setelah didahului oleh pemberontahkan moyoritas kristen di wilayah Himyar itu. Pada saat ini Himyar resmi di bawah kekristenan.

Namun kekuasaan kerajaan Ethiopia ini tidak berlangsung lama. Pada tahun 570M Himyar ditaklukan kembali oleh kerajaan Persia yang menganut Zoroaster, namun tidak menjadikan bangsa Himyar Zoroastrian. Yahudi Himyar masih ada pada saat itu secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari pemaksaan pindah agama atau menghadapi siksaan baik dari kerajaan Ethiopia maupun Persia. Bukti bahwa keberadaan Yahudi masih ada, adalah saat  tidak lama kemudian Islam mulai masuk dan menguasai Jazairah Arab melalui Nabi Muhammad. Melalui kebijakannya Nabi melarang pemaksaan pindah agama untuk Kristen dan Yahudi di bawah kekuasaan Islam. Dalam perjanjian Madina, nabi menjamin hak-hak yang sama bagi Yahudi kecuali jika mereka berkhianat atau membantu musuh-musuh yang berupaya menyerang kaum muslim.(16 Namun dengan konsekuensi adalah diikut sertakannya mereka dalam pembayaran pajak khusus, sebagai partisipasi mereka dalam bernegara. Sementara umat Muslim harus membayar Zakat untuk diberikan pada fakir miskin dan juga penyelenggaraan pembangunan wilayah. Yahudi inilah yang kemudian sebagian tetap bertahan hingga abad ke dua puluh ini.

Adanya kerajaan dan Yahudi di Himyar (Yaman) ini coba dikubur dalam-dalam pada buku-buku teks sekolah yang diterbitkan setelah tahun 1950-an oleh Israel. Hanya mereka yang menspesialisasikan diri dalam sejarah Jews  Arab saja yang kemudian merujuk pada adanya kerajaan Yahudi di Arab. Politik pendidikan diterapkan untuk menjaga dominasi Jews Askhenazi sebagai jews mayoritas yang mewarisi keaslian Jews dari kanaan dahulu.

Begitu juga Shlomo Sand merujuk pada banya literatur sebelumnya, yang menunjukan pula adanya kerajaan Yahudi. Tetapi beberapa literatur meragukan bahwa konversi terjadi secara masal kecuali hanya pada kalangan elit kerajaan, pejabat negara dan saudagar. Khazars yang merupakan orang-orang asli daerah Kaukasus yang mengkonversikan diri mereka menjadi penganut Yahudi. Dan dari kerajaan inilah, dipercaya, masyarakatnya mengikuti jejak agama resmi kerajaan menjadi Yahudi. Synagog-synagog dibangun pada masa itu oleh kerajaan untuk mengakomodasi sarana ibadah pemeluk Yahudi tersebut. Keturunan Khazar ini seperti sudah disebutkan dalam teori Khazarian, yang menjadi nenek moyang para Yahudi Ashkenazy saat ini.

PENELITIAN GENETIK

Munculnya thesis pembanding dari teori Rhineland, Khazars theori, menjadikan keberadaan ashkenazi jews yang selama ini dengan percaya diri mengidentfikasikan diri mereka sebagai keturunan orang-orang Kana’an menjadi pertanyaan luas. Namun demikian sejak Artur Kostler mempopulerkan Kerajaan Yahudi Khazars pada tahun 1976, sebagai nenek moyang bangsa Yahudi Ashkenazy, belum terlalu mengganggu bangsa Israel modern. Namun sejak Shlomo Sand membangkitkan lagi teori yahudisasi pada kerajaan dan bangsa Khazar, serta mengungkapkan bahwa Yahudi tidak lebih sebagai agama seperti halnya agama lain di dunia, memberi daya tarik lebih para peneliti. Tentunya fenomena baru ini mempunyai dampak politik luar biasa bila terus membesar dan diperbesar, terutama bagi eksistensi dan klaim bangsa Israel modern di Palestina saat ini.

Kajian-kajian sejarah mengenai asal-usul bangsa Israel ini kemudian banyak diangkat kepermukaan. Di antara perspektif sejarah berdasarkan catatan dan temuan arkeologis yang dijadikan referensi para peneliti teori ini, pendekatan lain coba dimunculkan. Diantaranya dilakukan oleh ahli genetik terkemuka di Amerika sekaligus seorang Yahudi, Harry Ostrer. Dia seorang Profesor pada bidang pathology dan genetik, Yeshiva University, New York, Amerika.

Ostrer menyangkal semua perspektif sejarah dari Shlomo Sand bahwa Yahudi Ashkenazi adalah keturunan bangsa Khazars.(8 Sebaliknya Ostrer menguatkan pendapat tradisional yang dipercayai sebagian besar Yahudi Ashkenazi bahwa mereka merupakan bagian dari bangsa Israel dua ribu tahun lalu. Dalam temuan genetik terhadap Yahudi, terutama Yahudi ashkenazi didapati keseragaman yang lebih besar dibandingkan mereka yang berasal dari Yahudi Sephardim. Artinya perkawinan diantara sesama mereka lebih besar sehingga menguatkan dugaan bahwa mereka Yahudi Ashkenzi berasal dari satu turunan, artinya mereka digolongkan dalam satu ras.

Ehran Elhaik, seorang ahli genetik dalam riset post doctoralnya, menampik bahwa bangsa Israel yang sekarang ini, terutama ashkenazi adalah keturunan dari orang-orang pada masa lalu. Sebaliknya penelitian genetik Elhaik menguatkan pendapat arthur kostler dan juga Shlomo sand, bahwa ashkenazi jews berasal dari keturuan bangsa khazars.(9

Dalam kompilasi diskusi yang disajikan dalam penelitiannya, argumentasi Elhaik adalah membandingkan antara hipotesa Rhineland dengan hipotesa Khazars.

Apakah Yahudi dari Eropa Timur dan Eropa Selatan secara genetik ebih dekat ke bangsa khazar atau lebih kepada masyarakat yang berasal dari timur tengah di mana Yahudi dahulu kala berasal? Dari Rhineland Hypothesa, Yahudi Eropa diharapkan bisa menunjukkan tingginya sistem hidup endogamy (dengan kawin sesama ras mereka untuk menjaga keYahudiannya) khususnya mereka yang berdarah eurasian (campuran Asia Eropa) dan lebih mendekati kesamaan pula populasi mereka yang berasal dari timur tengah dibandingkan dengan mereka yang hidup bertetangga dengan yang bukan Yahudi.

Hasil analisa Elhaik melalui analisa uji genetik yang komplek secara konsistent memetakan nenek moyang Yahudi Eropa berasal dari masyarakat Kaukasus bagian selatan, atau adalah dahulunya bagian selatan dari kerajaan Khazar. Dan temuan ini mengkonfirmasikan hal yang tidak mampu dijelaskan dalam hypothesa Rhineland mengenai adanya komponen besar kaukasus yang terdapat pada Yahudi Eropa.

Lebih lanjut Elhaik pada kesimpulannya menolak konsep Yahudi Eropa berasal dari populasi yang mengisolasikan diri mereka secara eksklusif menjaga ke Yahudiannya. Bahwa  penelitian genetik yang dilakukan oleh Doron Behar dan juga Harry Ostrer, disebut mempunyai bias dalam sampel yang diambil karena tidak menyertakan analisa komparatif  sampel dari masyarakat non-Yahudi di daerah Kaukasus.

Akan tetapi dalam penelitian selanjutnya dalam menjawab keraguan Elhaik, Behar  menunjukkan sampel dari populasi lebih luas dalam wilayah yang disebut-sebut sebagai bagian dari kekuasaan bangsa khazar, yang meliputi wilayah kaukasus, juga tidak menunjukkan adanya buti bahwa Yahudi Ashkenazi berasal dari wilayah ini.(10 Lebih lanjut Behar mengidentifikasi adanya bias dalam menyimpulkan populasi yang diambil oleh Eran Elhaik, yang mengambil sampel pada kawasan armenia dan georgia. Keraguan itu didasari bahwa kedua wilayah di bagian selatan kaukasus tersebut mempunyai bagian genetik nenek moyang yang sama dengan mereka dari kawasan timur tengah karena kedekatan wilayah tersebut. (11 Sehingga apabila disimpulkan bahwa Yahudi Ashkenazi berasal dari bangsa khazar atas sampel di wilayah armenia ini tanpa menyimpulkan pula bahwa mereka bagian dari genetik timur tengah, menjadi masalah dan meragukan.

Penelitian genetik Eran Elhaik, bukanlah satu-satunya penelitian yang menolak bahwa Yahudi Ashkenazi mempunyai garis keturunan langsung dari nenek moyang mereka di timur tengah. Professor Martin Richards,  kepala Archeogenetics Research Groups di Universitas Huddersfield, Inggris dan co-Author pada hasil penelitian sebuah tim yang seluruhnya berjumlah 17 orang, menyimpulkan bahwa Yahudi Ashkenazi mempunyai nenek moyang dari masa Pra Sejarah di Eropa Barat dan Eropa Selatan. (12 Research ini didasari pada Mitokondrial DNA, atau garis dari turunan perempuan (ibu), yang menunjukkann hingga 40% adalah Eropa. Sementara sisanya bervariasi namun bukan merepresentasikan nenek moyang dari Timur Tengah atau pun Kaukasus.(13                Dengan demikian disimpulkan bahwa telah terjadi perkawinan antara mereka yang merupakan lelaki Yahudi dengan wanita Non-Yahudi. Pada proses ini terjadilah konversi dari kepercayaan lama si wanita kemudian menjadi Yahudi.

Yang menarik di sini, penelitian tim dari Inggris ini (dengan sebagaian besar anggota tim adalah mereka yang berasal dari Portugis), tidak menunjukkan adanya faktor keturunan dari kawasan kaukasus atau dalam hal ini menurut Ehran Elhaik berasal dari bangsa Khazar. Namun demikian juga tidak menunjukkan mereka berasal dari kawasan timur tengah, seperti yang dirujuk oleh Harry Ostrer dan Doron Behar.

Studi genetik pada akhirnya menyimpulkan sebuah hasil yang masih bisa diperdebatkan, karena tidak mampu menjelaskan dengan optimistik mengenai asal-usul yahudi Ashkenazi, apakah mereka merupakan Yahudi dengan nenek moyang yang berasal dari Timur-tengah atau eropa. Jika pun ada kesepakatan, bahwa ada bagian dari timur tengah, maka seberapa dominan mereka adalah orang-orang Yahudi dari garis keturunan ibu, sebagaimana yang umum diyakini bahwa mereka berasal dari satu ras Yahudi tanpa konversi di garis keturunan ibu ini.

Jika penjelasan genetik ini ditarik lagi dalam kajian sejarah dalam Hypotesa Rhineland, maka akan  menambah panjang deretan pertanyaan yang tidak bisa diungkap dengan jelas. Seperti yang ditulis  Shlomo Sand, bahwa tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa ada gelombang besar migrasi dari Palestina ke Eropa. Kemudian juga besarnya laju pertumbuhan populasi Yahudi dari sekitar lima puluh ribu orang hingga delapan juta orang dalam kurun 4 abad padahal laju pertumbuhan tersebut tidak terjadi pada masyarakat erop non-Yahudi sebelum revolusi Industri. Hal ini mengingat adanya penderitaan yang terjadi pada msayarakat eropa umunya dan Yahudi Khususnya. Perang, kematian penyakit, pemaksaan untuk merubah keyakinan agama, perbudakan, keterbatasan ruang ekonomi untuk hidup, dan pogrom. Pertumbuhan yang tidak alamiah terhadap Yahudi eropa menjadi mustahil dan hanya bisa dijelaskan oleh keajaiban.

BUKAN EKSODUS TOTAL

Sejarah pengembaraan kaum Yahudi ke berbagai belahan dunia, utamanya mereka yang kemudian bermukim di Eropa Timur, dikembangkan oleh sebuah cerita revolusi atau pemberontakan mereka dari tanah Judea dan utamanya di kota Jerusalem dan wilayah sekitarnya, yang terjadi dalam dua gelombang. Pertama, setelah kehancuran second temple yang didahului pemberontakan kaum Yahudi terhadap kekaisaran Roma pada masa 66-73 M. Menurut Flavius Josephus, sumber utama mengenai perang, malapetaka ini merenggut hingga  memakan korban hingga satu juta orang. Selebihnya mereka menyelamatkan diri dan hidup dalam pengembaraan danpengasingannya.

Kedua, saat terjadi revolusi bar-kokba, perlawanan pemberontakan yang dipimpin oleh simon Bar Kokba atas penerapan pajak yang tidak adil oleh kekaisaran Roma pada tahun 132M. Cerita mengenai korban dan pelarian kaum Yahudi di pengasingan juga terjadi.

Akan tetapi semua argumentasi adanya pelarian kaum Yahudi dalam dua revolusi tersebut, menurut Shlomo sand, bukan berarti adanya pengusiran dan eksodus total pada kaum Yahudi. Mereka tetap ada dalam tanah Kanaan. Bahwa ada korban satu juta seperti yang disebut oleh Josphus cenderung data yang dibesarkan oleh sejarawan abad pertama tersebut. (7

Populasi penduduk  Jerussalem diperkirakan mempunyai penduduk sekitar 60-70 ribu jiwa pada tahun 70M. Dan seorang arkeologist Israel Mogen Broshi, dalam perhitungannya mengenai jumlah penduduk seluruh tanah kanaan pada abad keenam atau saat berada di bawah kekuasaan Byzantium, hanyalah sekitar satu juta orang. Artinya untuk wilayah yang lebih besar meliputi, bekas kerajaan israel dan kerajaan Judah, 500 tahun sesudah revolusi masih berkisar satu juta jiwa.

Dan dari literature sejarah yang dibuat oleh cassius dio mengenai revolusi Bar Kokba sendiri tidak sama sekali menyebut adanya Pengusiran total, walaupun memang ada pelarian kaum Yahudi. Namun bukan serta merta dua arti kata ini bisa saling berkait erat untuk mengatakan seluruh kaum Yahudi habis.

Lebih lanjut Sand mengelaborasi fakta yang ditemukan dalam sejumlah sumber catatan rabbinical (pendapat ulama-ulama yahudi yang dijadikan rujukan)  oleh Chaim Milikowsky dari Bar Ilan University, bahwa terminologi Pengasingan atauGalut dalam bahasa hebrew yang digunakan, ada pada definisi  penaklukan atau tunduk secara politik. Dan pemahaman ini bukan juga berarti adanya pengusiran dan eksodus. Bahkan dokumen rabbinical lainnya menyebutkan bahwa mitos pengsingan sebenarnya diadopsi dari mitos yang dibangun seiring dengan menguatnya kekuasaan kekristenan pada saat itu untuk menyebut kaum Yahudi ada dalam hukuman tuhan karena penolakan mereka pada Jesus dan juga penyaliban yang dilakukan atas Jesus. Beberapa sumber tulisan kristen, seperti Justin Martyr,  juga membangun cerita pengasingan tersebut sebagai bentuk hukuman kolektif atas bangsa Yahudi.  Dan seiring dengan kemenangan kekristenan dimana agama ini menjadi agama resmi kerajaan romawi,  maka mitos pengasingan, dosa kolektif, pengembaraan kaum, menjadi semakin melekat dan menjadi sesuatu yang dipahami atau diyakini oleh kaum Yahudi itu sendiri. (7

Jadi apabila saat ini klaim bahwa mereka adalah bangsa yang mengembara, terasing atau terbuang, adalah sebuah makna politis yang sangat substantif bagi diri mereka. Sama halnya seperti mendefinisikan diri mereka sebagai bagian dari keturunan abraham, ishak dan Jacob (Yaqub). Keduanya menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa mereka berhak menjadikan klaim teologi mereka sebagai orang-orang pilihan tuhan dan berhak atas sebuah tanah sebagai teritorial nenek moyang mereka, yaitu tanah Palestina.

MOTIF POLITIK KEMBALI KE TANAH YANG DIJANJIKAN

Keinginan kuat kaum Yahui untuk kembali ke tanah “leluhur” mereka, bukanlah kesadaran religius, namun sebaliknya sebuah kesadaran politik atas tekanan dan diskriminasi yang dialami di Eropa. Pada abad ke-19, herzl yang berpendangan sekular dan hidup dalam asimilasi terperangah dan seolah tersadar, bahwa yahudi tidak bisa terus-menerus berada dalam masyarakat yang tidak memandang mereka. Dipicu oleh kasus  Alfred Dreyfus, seorang tentara Prancis yang diduga menjadi Mata-mata bagi Jerman. Kasus ini mencuatkan kepermukaan kekuatan yang dianggap sebagai anti-Yahudi, anti-semit di berbagai lapisan masyarakat Prancis.Herzl yang saat itu sebagai reporter menyaksikan kebangkitan anti-semit di Prancis, dan mulai secara kerasmemikirkan dengan sungguh-sungguh langkah buat menyelematkan kaum Yahudi Eropa. Herzl menginisiatifi kongres jewish pertama hingga ke enam antara tahun 1897 hingga 1902. Dan pada kongres pertama ini terbentuk World Jewish Organization di Basle. (14

Organisasi Yahudi Dunia ini mengadopsi program politik dengan agenda membentuk negara Yahudi. Lobby-lobby politik dilakukan oleh Herzl. Usulan kuat untuk mendapatkan kembali sejarah mereka di Palestina, membawa mereka melakukan lobby tersebut pada kesultanan Ottoman. Namun upaya di awal ini tidak banyak membuahkan hasil walaupun dilakukan dengan persuasi yang baik. Lobby kepada kerajaan inggris, sebagai salah satu kekuatan imperialis yang menguasai banyak wilayah juga dijajaki. Bahkan tawaran yang kuat dan dipertimbangkan dengan baik oleh Herzl datang, yaitu ketika kemungkinan menempatkan kaum Yahudi diaspora di Uganda, wilayah Afrika. Herzl membawa ini ke dalam kongres keenam di Basle, dan meyakininya sebagai suatu harapan yang perlu dipertimbangkan oleh Organisasi Yahudi Dunia untuk mempercepat terbentuknya negara Yahudi dan menyelamatkan mereka dari Pogrom. Akan tetapi usulan ini walau diterima oeh 297 suara dan ditolak oleh 278 sementra 100 abstain tidak menghasilkan penetapan bulat. Protes keras terjadi, yang pada akhirnya Herzl mengalah dan tetap pada usah mendapatkan Palestina sebagai tujuan akhir berdirinya Negara bagi kaum Yahudi.

Titik terang pun akhirnya didapat, ketika Balfours menjanjikan sebuah masa depan bagi kaum Yahudi di Palestina pada tahun 1917. Perayaan deklarasi itu dilakukan di London Opera House pada tanggal 2 Desember 1917.(13 Perjanjian ini sendiri sebenarnya melangkahi apa yang sudah dijanjikan kepada bangsa Arab di bawah pimpinan suku Hashemite, Syech Hussein dengan Gubernur Jendral Inggris, McMahon  yang berkedudukan di Mesir. Isi di dalam perjanjian yang dibuat dua tahnu lebih awal, 1915, menjanjikan tanah Palestina tersebut akan berada di bawah kekuasaan McMahon sebagai kompensasi bantuan bangsa Arab dalam berperang melawan kekuasaan Ottoman di Jazirah Arab tersebut. Dualisme wajah Inggris akan janji, atau lebih tepatnya pengkhianatan perjanjian Hussei-McMahon ini kemudian menjadi awal pemicu ketidakpuasan berikutnya, di mana bagian perjanjian antara organisasi zionis dunia lebih mendapatkan tempat dan realisasinya.

Sekarang kembali pada ke pertanyaan, sesungguhnya siapakah kaum Yahudi yang saat ini didominasi oleh kaum ashkenazi, dan meliputi separuh populasi di negara Israel ini? Apakah mereka adalah keturunan yang sama dari bangsa Yahudi dengan klaim nenek moyang mereka pada 2000 tahun lampau? Yang jelas, ini menjadi sebuah perdebatan yang mempunyai dasar pijak yang kuat. Keberadaan Yahudi Eropa Timur yang memungkinkan bercampurnya mereka dari keturunan bangsa Khazar dengan bukti-bukti kuat dari peninggalan sejarah dan catatan keberadaan mereka patut menjadi bagian kesimpulan keberadaanYahudi Eropa masa kini. Tidak bisa tidak, karena populasi Yahudi Eropa yang besar tidak akan mungkin bila tidak ada kontribusi besar proses konversi bangsa Khazar menjadi Yahudi.

Jika selama ini, bukti genetik bahwa mereka berasal dari satu keturunan gen yang sama, juga mendapatkan kesimpulan yang masih belum pasti. Karena studi-studi lebih lanjut juga mengungkapkan hasil yang berkebalikan. Dua hal yang bertentangan dalam penelitian genetik pada akhirnya tidak bisa dijadikan sebuah kesimpulan tunggal. Bahkan pertanyaan terhadap hasil-hasil riset yang mendukung bahwa ada keterkaitan Kaum Yahudi ashkenazi dengan nenek moyang mereka dari timur tengah, menjadi bias. Seperti terungkap dalam pengakuan Ehran Elhaik,dalam korespondensi email dengan Prof. Harry Ostrer yang diperlihatkan kepada Rita Rubin seorang jurnalis. (15 Awalnya Elhaik meminta ijin bekerja sama dengan melihat data penelitian Harry Ostrer. Namun dalam balasan suratnya Harry Ostrer meminta agar hasil riset yang nanti didapat, tidak memfitnah  kaum Yahudi. Tentu saja ini mengarahkan peneliti untuk tetap mendukung opini bahwa Kaum Yahudi Ashkenazi adalah keturunan yang sama dengan nenek moyang mereka dari tanah Kanaan dahulu seperti yang dikehendakinya. Sebuah kepentingan terlihat dalam sebuah korespondensi ini. Kepentingan yang bermotif di luar kaidah keilmiahan ini tentunya tidak boleh ada dalam diri seorang peneliti.

Sementara itu juga patut kita pahami bahwa Negara Israel adalah sebuah produk sistem kolonialis. Di mana ini adalah satu-satunya negara yang dibentuk berdasarkan tawar-menawar dari sebuah negara super power kepada suatu kaum yang berasal dari banyak negara, baik di dasari ras, kalkulasi politik ataupun klaim teologis. Tentunya proses pembentukan negara ini sangat berbeda, yaitu dengan memindahkan banyak orang dari berbagai kewarganegaraan untuk berhimpun di suatu tempat dan mengambil mayoritas lahan yang sama sekali tidak pernah disentuh oleh mereka yang datang menempatinya. Klaim keturunan dari bangsa 2000 tahun lalu yang sungguh absurd untuk kemudian mendapatkan hak memiliki tanah di tempat yang dia tidak pernah merasakan pernah menjadi bagian dalam hidupnya. Logika yang sulit dipahami dan seharusnya tidak terjadi. Bagaimana seandainya keturunan sebuah bangsa, katakanlah orang-orang Suriname keturunan Jawa yang sudah bermigrasi 200-300  tahun lampau kemudian datang kembali ke Jawa dan mengambil hak orang-orang yang menempati tanah tersebut karena dianggap mempunyai klaim masa lalu? Walaupun tentu kita tahu bahwa mereka adalah keturunan Jawa, namun bisakah dengan cara-cara demikian terjadi? Atau bahkan memaksakan diri untuk menjadikannya negara tersendiri. Tentu saja akan muncul konflik. Begitu juga bangsa-bangsa lainnya di dunia ini, katakanlah orang-orang australia kembali datang ke Inggris dan mengklaim sebagian wilayah Inggris adalah menjadi wilayah mereka karena mereka keturunan bangsa Inggris. Mustahil. Namun demikian itu terjadi dengan Israel di Palestina, bahkan sejak 1967 meluas dengan pendudukan mereka atas wilayah Tepi Barat dan Gaza.

Literatur:

  1. https://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/Judaism/jewpop.html
  2. Andersen, J M. 2002. “Daily life during the Spanish inquisition”. Wesport: Greenwood Press.
  3. Johnson, P A. 1987. “A History of Jews”. New York : Harper Collins
  4. Armstrong, K. 2004. “Perang Suci dari perang salib hingga perang teluk”. (terjemahan). Jakarta : Serambi Ilmu Semesta
  5. Koestler, A. 1976. “The Thirteen Tribe : the Khazars Empire and it heritage”. New York : Random House
  6. Brook, KA. 2006. “The Jews of Khazaria”. Maryland : Rowman & Littlefield Publishers, Inc.
  7. Sand, S. 2009. “The Invention of Jewish people”. London : Verso
  8. Ostrer, H. 2012.” Legacy a genetic history of the Jewish people”. New York : Oxford University Press.
  9. Elhaik, E. et al. 2013. “The missing link of Jewish European ancestry : contrasting the Rhineland and the Khazarian hypotheses”. Genome Bio Evol 5:61-74.
  10. Behar, D M. 2013. “No evidence from Genom-wide data of a Khazar origin for a Ashkenazi jews”. Human Biology, v.85, no.6, pp. 859-xx.
  11. Haber, M. Et al. 2013.” Genom-wide diversity in the levant reveals recent structuring by culture”. PloS Genet. 9:e1003316
  12. M.D. Costa et al. 2013.” A substantial prehistoric European ancestry amongst Ashkenazi maternal lineages.Nature Communications,doi:10.1038/ncomms3543.
  13. Scheneer, J. 2010.” The Balforus Declaration”. New York : Random House.
  14. Comay, J. 1995. “Who’s who in Jewish History after the period of The Old Testament”. London : Routledge
  15. http://forward.com/news/israel/175912/jews-a-race-genetic-theory-comes-under-fierce-atta/
  16. Watt, W. Motgomery. 1956. “Muhammad at Medina“. London : Oxford University Press.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s