Dan Informan Itu Adalah Teman Sesama Aktivis

Catatan:

Tulisan ini pernah dimuat dalam blog multiply saya pada tahun 2006. Namun sayang multipy kini sudah “almarhum” dan tidak lagi bisa diakses sehingga saya banyak kehilangan file2 dan foto2 koleksi yang tertinggal di sana. Kebetulan masih ada satu dua file yang masih tersimpan dalam hardisk, maka saya tuliskan kembali cerita yang pernah ada di blog multiply itu, sekedar sebagai catatan yang tersimpan di dunia cyber. Mudah2an FB akan langeng hingga seterusnya. Nama-nama tersebut dalam tulisan ini telah di up-dated dari tulisan original di multiply.com.Mohon maaf terhadap nama2 yang tersebut di dalam tulisan ini.

=================================

Jam 9.30, 12 Juli 1996, bis yang kami tumpangi, beriringan dua mobil, yang bergerak dari arah Depok dengan mencarter bus dengan trayek Ps. Minggu – Depok, dihadang oleh sejumlah polisi di depan bunderan Indosat. Teman2 langsung terperanjat kaget, disamping itu baru disadari bahwa tidak ada mobil lain di kiri-kanan bis. Ternyata bis kami sudah diisolasi sedemikian rupa. Berombongan polisi berseragam lengkap dengan senjata mereka telah memblokade jalan MH Thamrin yang mengarah ke Istana Presiden. Bis kami dibelokkan tepat di depan bunderan Indosat, sehingga rute berubah dari semula bertujuan ke arah Istana Presiden, untuk kemudian berdemonstrasi di depan kantor Mahkamah Agung. Kini 2 bus ini diisolir dan diarahkan menuju stasiun gambir, menyusuri jalan di depan balai kota DKI, dan akhirnya dihentikan tepat di halaman belakang gedung stasiun gambir.

11 Juli 1996, jam 23.30, setelah rapat di Fakultas Hukum, bersama pengurus SMUI yang dipimpin Didin (selamet Nurdin, sekarang DPRD DKI fraksi PKS), ketua SMUI beserta beberapa ketua senat dan para aktivis, aku dan win muldian (pemred “Suara Mahasiswa UI”), pulang lebih dulu dari yang lain. Rapat di FHUI ini kelanjutan dari beberapa rapat di Pusgiwa UI, yang intinya ingin menyikapi persoalan di Mahamah Agung RI, yang saat itu menjatuhkan vonis pemberhentian terhadap salah satu Hakim Agung mereka yaitu Adi Andojo Sutjipto, berkaitan dengan kekritisannya terhadap pemasalahan di tubuh MA yang diungkapkan kepada pers. Aku diputuskan untuk memimpin Demo. Ini memperkuat keputusan rapat sebelumnya di Pusgiwa UI. Di dalam rapat itu yang kuingat ada Fahri Hamzah (sekarang anggota DPR RI frakti PKS), Imron (ka Senat FHUI), Ramdhan (kini ex.ketua PANWASLU Pilkada DKI), dan lain-lainnya yang tidak aku ingat.

Berjalan kaki, keluar kampus, menyeberangi rel kereta api dan gang Damai, kemudian menuju gang Pepaya, Kober, untuk menginap di kos2an Mame (Rahmat Yananda, OwnerPT. Makna Informasi). Kebetulan dia ada. Hanya beberapa saat ngobrol bertiga, mereview rapat tadi, aku, Mame dan win lebih banyak ngobrolin tentang cewek-cewek kriteria kita masing-masing. Maklum wanita adalah seringkali menjadi bagian teori2 kami, karena beragam misteri yang menyelimutinya, disamping ketidakberanian akan keterusterangan untuk menyatakan kekagumannya secara langsung. Jadilah dia, sosok wanita yang menjadi topik perbincangan di rumah2 kos menjelang dini hari, agar tidur kita bisa dipenuhi mimpi2 seorang ksatria yang dikagumi oleh kaum hawa.

Tidak berapa lama, kita mencoba tidur karena besok pagi2 sekali harus mempersiapkan Demo ke Kantor Mahkamah Agung di samping istana presiden itu. Walau agak susah, karena di kepalaku masih terbayang apa yang besok akan aku lakukan. Sedikit agak cemas juga, karena ketika itu pemerintah sedang terus menerus dihujat oleh PDI yang saat itu Megawati baru saja digulingkan oleh pemerintah. Sehingga mereka terus-menerus memakai kantor pusat DPP PDI di Jalan Diponegoro sebagai tempat orasi dan demo2. Belum lagi isu dan kampanye pemerintah mengenai para pelanjut PKI didukung oleh dedengkotnya yang masih hidup yang kembali menyusup di antara lsm2, termasuk tuduhan kepada PDI yang sudah dimasuki para mantan PKI. Ormas2 Islam juga banyak yang menghujat lsm2, yang diduga telah disusupi oleh PKI, di antaranya PRD-nya Budiman Sudjatmiko.

Pagi jam 6.20, Aku, Win, dan Mame sudah keluar dari kost. Berpakaian rapih. Aku selipkan jaket kuning didalam tas untuk persiapan Demo siang nanti. Mengisi perut di warteg Barel (Balik Rel, FHUI), selesai jam 7.00. Kemudian kita bertiga menuju halaman parkir FHUI, kulihat sudah menunggu teman2 dari senat, Didin, Imron, dan beberapa yang lain aku tidak kenal dan ingat lagi. Sempat sedikit berkoordinasi, tiba2 seorang teman sesama aktivis yang juga telah lama kukenal di HMI, menghampiriku dan menarik lengan bajuku.

Aku menyingkir dari teman2. Mame’ melirik kearahku, wajahnya agak curiga melihat perangaiku dan teman tersebut. Setelah dirasa berjarak, sambil berjalan sang teman berbicara pelan setengah berbisik. “Rud, tadi malam seusai rapat demo dikampus, gw langsung pergi ke Depok. Jam 3 pagi gw ketemu sama Sutiyoso (Pangdam Jaya waktu itu.). Maksud gw, ingin ngelindungin temen2 terutama yang dari HMI, kalau nanti ada sesuatu, gw bisa bikin aman lu2 semua.”

“maksudnya apa ?” Aku bertanya heran, tapi tetap dengan intonasi yang tenang. “Iya, gw udah bilang sama pak sutiyoso, bahwa teman2 dari UI, mau bergerak ke MA, gw minta mereka dikawal dengan baik” begitu katanya. Aku terhenyak kaget, tapi coba aku control. Kelihatannya Mame’ terus mengamati dari kejauhan.

“Sekarang gw ingin lu ketemu sama teman2 dari kodam, mereka udah nunggu dari jam 6 pagi” lanjut sang teman lagi. “Dimana?” tanyaku. “Dibelakang. Yuk, gw tunjukin”.

Aku dan teman tadi berjalan beriringan ke bagian belakang dari gedung depan fakultas hukum. Hingga akhirnya kutemui dua orang dimaksud. Seorang berkulit agak hitam, rambut ikal seleher dengan kemeja putih dan sepatu hitam berkilat. Satunya lagi berpakaian biru, agak hitam juga. Keduanya yang sedang duduk2 santai dibangku kayu, tempat biasa teman2 mahasiswa duduk2 bersenda gurau menunggu jam kuliah datang. Dan keduanya langsung tersenyum ramah saat dikenalkan oleh sang teman, sambil mengulurkan tangannya kearahku, untuk menawarkan untuk bersalaman.

Aku senyum kecut menyambutnya, sambil menyebut namaku. Aku tidak mendengar dengan baik nama keduanya ketika berkenalan, karena pikiranku tidak fokus pada sesi perkenalan itu. Pikiranku melayang mencoba menebak apa yang akan kusampaikan pada mereka.

“Bagaimana dek rencananya?”, tiba2 yang memakai baju putih itu bertanya. Kelihatannya dia lebih berwenang dibanding teman satunya lagi.

Aku berpikir sejenak. Selanjutnya, aku ceritakan saja apa maksud demo ini dan kemana tujuan perjalanannya. Entahlah, seharusnya aku tidak perlu bercerita tentang hal ini, tapi kupikir sejenak, buat apa lagi disembunyikan toh, tanpa kuberitahu pun sesungguhnya mereka sudah tahu, karena temanku ini juga mengetahui detil acara demo ini. Dia ikut sampai habis rapat tadi malam. Aparat kodam berpakaian preman itu sendiri tidak berusaha untuk memberikan masukan atau bahkan memintaku untuk menghentikan rencana demo. Cuma dia berpesan, bahwa demonstrasi yang akan kita lakukan berdekatan dengan Istana Presiden, karena memang bersebelah-belahan.

Usai perkenalan singkat yang memuakkan itu, aku dan sang teman kembali pada teman2 yang lain. Selesai memimpin doa, aku  dan teman2 lainnya menuju mobil bis yang kami carter dari rute di depok ini. Kira2 ada 60-70 orang dibagi dalam dua bis. Wajah teman2 aku lihat bercampur antara cerah dan cemas. Maklum, banyak di antaranya belum pernah ikut berdemo. Berbagai rencana yang sudah dipersiapkan semalam, tidak terlalu banyak kupikirkan. Aku sendiri tidak menceritakan apa yang terjadi di belakang gedung FHUI sebelumnya pada teman2. Hanya saja, aku diberitahu sebelumnya oleh sang teman tadi, bahwa disamping aku, Didin ketua Senat Mahasiswa UI juga sudah diberitahu mengenai apart kodam jaya yang ada dikampus. Aku sendiri tidak berusaha mengkalrifikasikan kepadanya. Kita berdua tidak berkomunikasi ttg hal ini. Kayaknya, sepakat untuk TST. Bagiku yang penting rombongan ini berjalan saja dulu.

Mame beberapa kali mengingatkanku untuk tidak melepaskan TOA pengeras suara dariku, sembari memperingatkanku agar jangan berdekat2an lagi dengan temanku tadi. Aku bilang ok, nggak apa2 kok. Jam 8 lebih sedikit, saat teman2 mahasiswa lainnya yang tidak ikut berdemo, berdatangan untuk kuliah, kami rombongan demonstran berangkat. Sepanjang jalan, aku terus berpikir apa yang nanti akan terjadi? Bagaimana aparat itu menyikapinya? Entahlah saat itu pikirku, aku lebih suka memandang keluar jendela, kosong. Sesekali menjelaskan pertanyaan teman2 rencana yang akan dilakukan saat berdemo nanti. Aku jelaskan sesuai dengan rapat semalam. Aku tidak bilang kemungkinan2 lain dari demonstrasi ini.

Dan akhirnya, saat memasuki jalan MH Thamrin, selepas Hotel Indonesia, ku lihat beberapa motor dan mobil patroli berada di sisi belakang bis kami. Tidak ada mobil lainnya di kiri kanan bis. Padahal ini adalah hari jum’at, hari kerja, saatnya lalulintas ramai. Teman2 tidak banya yang menyadari. Tapi tidak denganku. Inilah saatnya mereka, para aparat beraksi. Inilah dampak yang sepanjang jalan tadi terus kupikirikan.

 Ruang BNI46 di stasiun gambir dikosongkan sebagian, untuk tempat kami berunding dengan letkol Tritamtomo, dari Garnizun Ibu Kota, yang kebetulan kantornya tepat di depan staisun gambir. Aku, Fahri Hamzah, Didin, dan seorang temanku yang memberikan informasi ini ke Pak Sutiyoso, mewakili mahasiswa demonstran

Iya, inilah dampak informasi yang mengalir dari ruang rapat para aktivis kampus malam itu. Mengalir ke ruang2 kekuasaan dan aparat kemanan negara, di mana tidak banyak mahasiswa, bahkan seorang aktivis kaliber sekalipun bisa mengetahui dan memahaminya.

Beberapa bulan kemudian, saat pulang setelah pelatihan LK-II bersama-sama Anas Urbaningrum dan berbincang-bincang banyak hal, aku tidak sama sekali tergerak untuk memberitahhunya (dan sudah menjadi komitmen hati kecilku), bahwa di dalam kepengurusan PB HMI, salah satu para ketuanya adalah Informan ini.

 * kupersembahkan kepada teman2 yang pernah merasakan nikmatnya mengarungi dunia aktivis plus, yaitu yang bekerja dengan dua nurani*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s