Amin al-Husayni dalam Pandangan Prof. Sumanto AlQurtuby (1)

Prolog :Tanggapan atas Profesor Sumanto al Qurtuby

Dari Facebook Profesor Sumanto al-Qurtuby, beliau menulis “Doktrin Hitler dan Hizbut Tahrir” di antaranya menyangkut Amin al-Husayni, Mufti Yerusalem, pada masa 1920-1937. Menurut Prof Sumanto, Amin adalah Hitler Arab yang menjadi mentor Taqi al-Din, pendiri Hizbut Tahrir. Mengenai sosok Amin itu sendiri dari gambaran yang diberikan oleh Profesor Sumanto, baik dari tulisan bagian satu ataupun bagian ke-dua di dalam facebook-nya, sebagi tokoh jahat sejak muda,yang dibawa dari masa dia sebagai tentara Turki yang terlibat dalam pembantaian Kristen Armenia, hingga kemudian dia menjadi Mufti yang aktve melakukan kejahatan terhadap Yahudi bahkan Kristen di Palestina.  

Dari dua bagian tulisan Profesor Sumanto tersebut,  sebagain besar  bersifat pengulangan atau penegasan satu sama lain. Linknya ada di sini HT dan Doktrin Hitler Nazi(1) dan di sini HT dan Dokrin Nazi Hitler (2). Point-point tersebut adalahsebagai berikut:

Pertama, disebutkan Amin adalah Tokoh “Hitler Arab” yang menjadi tentara turki dan bersamanya membantai setengah juta kaum Kristen di Turki pada tahun 1914-1917. Dia membawa pengalaman Genosida ke dalam politik lokal Palestina dan Arab (tulisan ke-1 dan ke-2, selanjutnya ditulis dengan tanda (1)atau (2)).

Kedua, Amin adalah tokoh anti Kristen, Anti-Yahudi dan Anti-Islam yang melawan Idenya (1).

Ketiga, atas nama gerakan Pan Islamisme menyebarkan kebencian terhadap Yahudi dan membangkitkan ideologi anti-semit yang meledakkan pembantaian kaum Yahudi sejak tahun 1920-an, padahal Yahudi sudah hidup selama 2000 tahun di Palestina (1).

Keempat, doktrin pan Islamisme sama persis dengan dokrin Nazi yang anti-Yahudi (2)

Kelima, Amin adalah sosok yang mengimpikan emperium Islam, karena geram akibat tumbangnya kekhalifahan Turki Usmani oleh kemal attaturk tahun 1923/1924. Untuk mencapai itu dia bergabung dengan Nazi Hitler dan Fasisme Italia, Mussolini agar bisa menumbangkan rejim pemerintahan lokal yang “sekuler “ dan “tidak islami”. (1).

Keenam, melakukan segala strategi dan taktik untuk mencapai ambisi pendirian emperium islam, seperti berpatronasi dengan Inggris, memprakarsai Kongres Islam Dunia, sampai berpatron degan Nazi (2). Karena dia berpatron dengan Inggris maka dia diangkat sebagai Mufti Besar Yerusalem dan kepala Pengadilan Islam.

Ketujuh, karena berpatron dengan Inggris kemudian diangkat menjadi Mufti besar Yerusalem dan kepala pengadilan Islam Padahal umat islam seempat menolak dan tidak mendapat suara memadai, karena dia tidak punya kualifikasi sebagai mufti (2).

Kedelapan, untuk mendapat simpati maka dicari kambing hitam,yaitu Yahudi, sehingga inilah yang menyebabkan pembantian kaum Yahudi di tahun 1920-an dan berpuncak pada 1936. Dan tidak saja Yahudi tetapi juga umat kristen (2).

Kesembilan, Amin terlibat pembunuhan tokoh-tokoh Islam, seperti Imam Masjid Al-Aqsha, dan lainnya. (2).

Kira-kira demikianlah, poin yang bisa saya dapatkan. Menurut saya hampir semua kalimat di dalam dua bagian tulisan tersebut, sebenarnya layak saya tulis ulang dan saya nilai banyak sekali yang perlu diluruskan dalam menginterpretasi sejarah yang terjadi saat itu. Ada bagian-bagian pribadi  seorang Amin, maupun sejarah Al-Haj Amin dengan aktivitas sosial dan politiknya  terlihat masih kurang dipahami sama sekali dan bahkan ada yang ahistoris. Tidak punya latar sejarah sama sekali.

Untuk itu saya mencoba mengupas lebih tuntas, baik sosok Amin itu sendiri, latar belakang keluarga dan kedudukannya di masyarakat maupun aktivitas politiknya dalam konteks sejarah pergerakan nasionalisme Palestina pada masa akhir pemerintahan Turki Utsmani, awal pendudukan pasukan kolonial kerajaan Inggris dan masa-masa konflik sosial dan politik antara orang-orang Arab Palestina (muslim dan non-muslim) dengan kelompok  Yahudi terutama yang didorong oleh gerakan Zionisme dan Pemerintah Mandat Inggris.

Konteks di atas penting sekali diangkat karena dari tulisan Prof. Sumanto, sama sekali tidak melihat adanya kaitan antara aktivitas Al-Haj Amin Husayni dalam konteks politik yang sedang merambah dunia Arab umumnya yang berimplikasi secara khusus pada Palestina saat tersebut. Pergerakan kelompok pejuang Palestina (arab) melawan Turki, kemudian saat penolakan mereka terhadap masa depan tanah Palestina yang akan diserahkan kepada kelompok Zionist untuk dijadikan sebagai tanah air bangsa Yahudi di kemudian hari dan juga konflik antara Palestina dengan Pemerintah Mandat Inggris serta gerakan kelompok Zionist dalam usaha mencaplok Palestina dengan berkelindan terhadap Inggris dan dunia internasional, yang perlu dilihat pula.

Sebaliknya, Profesor Sumanto, melihat sosok Amin Al-Husayni sejak masa mudanya, pada usianya yang masih belasan tahun, sebagai sosok yang antagonis dengan lumuran darah dari pembantaian kristen Armenia saat menjadi tentara Turki. Pengalaman genosida itu kemudian digambarkan dibawa masuk menjadi ideologi kekerasan seorang Amin Husayni di tanah Arab dan Palestina, terutama kepada kaum Yahudi, dan kemudian juga kepada kaum kristen di sana. Gambaran ini jelas memberikan bingkai buruk terhadap Amin al-Husayni pada masa yang justru dia masih tergolong lugu, dan belum mempunyai pengalaman apapun.

Tulisan ini dan berikutnya saya sajikan secara bertahap (sampai saat ini saya sudah siapkan 11 bagian dari kemungkinan 12-13 bagian), untuk menengahi bahwa apa yang dipahami oleh Profesor Sumanto banyak sekali kontradiksi dari sejarah Amin al-Husayni sendiri. Dua buah buku Biography yaitu pertama, karya Philip Mattar berjudul “The Mufti of Jerussalem, al-Hajj Amin al-Husayni and the Palestinian National Movement”. Yang kedua adalah buku dari Ilan Pappe’ “The Rise and Fall of a Palestinian Dynasty : The Husaynis 1700-1948” menjadi sumber utama saya dalm tulisan ini. Profesor Ilan Pappe’ seorang Israelis yang juga merupakan salah seorang tokoh New  Historian, sejarawan yang menulis ulang sejarah Israel, keluar dari narasi yang dibangun oleh pemerintah Israel. Dengan mengemukakan fakta-fakta dari sumber otentik di sisi Israel dan fakta-fakta yang terdokumentasi dari sisi Palestina. Konsekuensinya, dia dan banyak penulis dalam kategori New Historian, diragukan nasionalisme ke-Israel-annya. Bahkan sebagian mereka dijuluki Jews Self Hating, karena sikap obyektivitas keilmuwan mereka.

Kemudian saya juga melengkapi sumber-sumber dari tulisan ini dari buku dengan tema-tema lainnya yang bersangkut-paut di dalamnya. Seperti saat Palestina di bawah pemerintahan Turki, juga tema  pergerakan nasionalisme Palestina, Pergerakan nasionalisme Arab, Sejarah Zionisme, Biography tokoh revivalist zionist Jeev Jabotinsky, sejarah berdirinya Stern Gang dan beberapa tema dari buku lainnya yang membentuk tulisan ini. Di akhir tulisan akan saya sertakan daftar pustaka dari sumber-sumber tulisan ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s