Amin al-Husayni dalam Perspektif Pro Zionist (2)

PANDANGAN SEJARAWAN PRO-ZIONIST

Menengok sejarah perjuangan rakyat Palestina tidak bisa dilepaskan dari akar perjuangan sejumlah keluarga bangsawan Palestina. Pada masa awal dimulainya gerakan zionisme Eropa, kelompok inilah yang mampu menangkap sinyal akan bahaya yang mengancam tanah air mereka. Hal ini disebabkan kelompok bangsawan ini mempunyai latar belakang pendidikan yang jauh lebih maju. Mereka juga mempunyai jaringan yang luas dan tertanam cukup dalam pada masa-masa saat Palestina dan hampir seluruh Arab di bawah kejhalifahan Turki Ottoman. Salah satu keluarga bangsawan tersebut adalah keluarga Husayni. DI mana kemudian mereka yang berminat akan sejarah perjuangan rakyat Palestina sejak masa awal dahulu, akan familiar dengan nama Keluarga ini, terutama akan nama seorang Amin al-Husayni.  Sosok ini memang menjadi figur yang kontroversial di belakang hari, terutama pada masa dimulainya Perang Dunia Kedua.

Muhammad Amin Al-husayni sering digambarkan oleh para Zionist Biographer semacam Maurice Pearlman, Joseph B. Schectman dan Eliahu Elath, sebagai tokoh Muslim fanatik, ekstrim dan keras kepala.  Dia juga digambarkan sebagai orang yang menganjurkan rakyat Palestina untuk keluar dari tanah Palestine untuk menyelamatkan diri mereka sendiri, sekaligus memberikan ruang bagi pasukan liga arab dalam berperang dengan israel saat mereka mendeklarasikan berdirinya negara Yahudi pada 15 Mai 1948. Pandangan ini dipakai sebagai pembenaran bahwa pengungsi Palestina yang keluar dari wilayah mereka, yang sekarang sebagai negara Israel adalah ataskehendak sendiri, bukan sebagai bentuk pengusiran atau pembersihan etnis seperti yang diungkapkan oleh Ilan Pappe’.

Namun pandangan di atas mengandung kesalahan dalam alur pikir yang menginterpretasikan sepak terjang Amin Al-Husayni.  Interpretasi negatif tersebut disebabkan muatan politik partisan dan juga interpretasi yang dapat diperdebatkan. Kemudian gambaran inilah yang dibawa dalam banyak tulisan, untuk mendeskreditkan dan bahkan berujung pada fitnah sosok Amin itu sendiri. Secara lebih luas, tentu ini ditujukan untuk memberikan citra buruk. Dalam banyak laman di internet, cerita tentang Amin al-Husayni, kemudian disangkutpautkan dengan Islam itu sendiri. Padahal tentu saja, ini bukan persoalan nilai sebuah agama. Jauh lebih pada persoalan politik yang tersangkut dengan komunitas, Rakyat Palestina (Arab Muslim dan Arab Kristen) dengan para kelompok Zionist serta pendukungnya, para migran Yahudi Eropa dan Pemerintah Inggris. Dan sangkut paut latar belakang dan aktor-aktor tersebut menjadi sebuah persoalan konflik yang kompleks Dan semakin kompleks seiring dengan berlarutnya penyelesaian konflik Israel dan Palestina hingga sekarang ini.

Citra negatif yang dibangun melalui media masa, dan mereka yang kurang memahami latar belakang sejarah konflik ini, membuat banyak kalangan larut dalam kesalahan persepsi. Gambaran umat Yahudi yang mengalami penderitaan berkepanjangan dari sejarah masa nabi-nabi hingga masa-maa pogrom di Eropa tidak saja di Eropa,  digambarkan dan dinarasikan secara turun-temurun. Hingga konflik mereka di Timur Tengah, terutama berkaitan dengan Palestina adalah kelanjutan penderitaan tersebut.

Penderitaan ini memberikan kesan simpati yang kuat. Memotret kaum Yahudi sebagai kaum yang lugu namun lemah  serta teraniaya. Dan itu masih terus digambarkan dalam masa-masa perjuangan mereka dalam mengambilalih tanah Palestina dan mendirikan negara Yahudi, Israel di sana. Bahwa provokasi dan bahkan ide terhadap holocaust melalui pembunuhan sistematis dalam kamar gas, atau yang sering disebut sebagai Final Solution, disebut sebagai ide yang muncul dari seorang Amin al-Husayni, seorang pemuka dan pemimpin pergerakan rakyat Palestina. Ide ini kemudian disampaikan kepada Hitler untuk dilaksanakan. Cerita ini dibangun berulang, tentu saja dalam bingkai Narasi Zionist. Perdana Mentri Benyamin Netanyahu beberapa bulan lalu sempat memunculkan kembali isu usang ini, walaupun mendapatkan banyak penolakan. (https://www.theguardian.com/world/2015/oct/21/netanyahu-under-fire-for-palestinian-grand-mufti-holocaust-claim ).

Kesalahan lain dari para biographer tersebut menurut Philip Matar, juga tidak memakai sumber-sumber yang tidak dipublikasikan (oral source) dari tokoh-tokoh penting yang terlibat. Kebanyakan mereka mengambil sumber-sumber barat yang pro zionis dan lemah dalam pemahaman mereka mengenai sosok keluarga Al-Husayni, politik bangsawan dan masyarakat Palestina. Namun demikian tetap saja masih banyak pengamat yang lebih suka memakan informasi narasi Zionist ini ketimbang mendalami sejarah Amin al-Husayni dan menempatkannya dalam konteks latar belakang  perjuangan Rakyat Palestina untuk keluar dari cengkraman Pemerintah Mandate Inggris dan Kelompok Zionist baik di Palestina maupun mereka yang mengontrolnya di banyak negara berpengaruh di Eropa dan Amerika.

Problem lainnya adalah banyaknya asumsi-asumsi Ahistoris dari banyak tulisan, dan kemudian tersebar di Intenet. Asumsi bahwa sosok Amin mempunyai perilaku yang statis antagonis sejak awal karirnya. Informasi ahistoris ini banyak juga diadopsi sebagai pembenaran mengenai sepak terjang sosok Amin Al-Husayni, terutama dari mereka yang memang tidak mendukung perjuangan Palestina atau pro Israel/Zionist. Tetapi ironisnya juga dipakai oleh mereka yang tidak memahami lebih jauh atau lebih dalam mengenai konflik Israel-Palestina yang melibatkan Amin Al-Husayni dari semenjak awal kemunculan isu gerakan zionisme di akhir abad ke-19 ini.

Untuk itulah di dalam tulisan ini, sebisa mungkin mengambil porsi yang lebih berimbang dalam melihat sosok Amin al-Husayni. Tujuan tulisan ini, pertama, ingin memberikan informasi dan perbandingan yang lebih dalam dan luas mengenai sosok Amin al-Husayni, terutama sekali dengan masa-masa awal dari konflik antara rakyat Palestina dan gerakan Zionist di mana Inggris menjadi salah satu pendukungnya.  Kedua, memberikan counter balance terhadap informasi yang salah dalam menangkap sosok Amin al-Husayni terutama terkait dengan perjuangan rakyat Palestina, baik yang tidak sengaja kita pahami ataupun memang ditujukan oleh mereka sebagai jebakan propaganda.

Saya tidak menampikkan, bahwa sepak terjang Amin al-Husayni sendiri, selain sebagai tokoh penting dalam pergerakan rakyat Palestina, juga tidak lepas dari cara berpolitiknya yang salah, terutama ketika dia memutuskan untuk berpihak pada Nazi pada masa petualangannya di Eropa. Namun, dalam tulisan ini, mudah-mudahan kita bisa melihatnya dalam kaca mata yang lebih luas. Apakah pilihan tersebut adalah naluri seorang Amin al-Husayni yang anti-Yahudi/anti-Semit seperti yang banyak ditangkap banyak orang atau ada hal lain yang merasionalkan sikap Amin al-Husayni sebagai sikap politik semata, bukan karena alasan ideologis atau rasisme.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s