H. LULUNG DAN SAYA

Sebenarnya agak kaget ketika pertama kali mendengar namanya menjadi anggota DPRD DKI dari PPP beberapa tahun lalu. Masak iya jadi wakil rakyat? Saat heboh kasus perseteruan Hercules dengan Preman Tanah Abang jauh sebelumnya, juga sudah terdengar disebut-sebut media tentang H. Lulung. Saat itu, saya tidaklah kaget, karena dia belum sebagai anggota wakil rakyat. Hampir 22 tahun lalu saya pertama mengenal sosok tokoh tanah abang ini. Tentunya dahulu belum sesohor sekarang ini. Perkenalan yang “tidak” direncanakan ini membawa saya kemudian mengenalnya lebih dekat, dan bahkan menggantikan posisinya di organisasi tersebut, walaupun dengan segala hal yang bertentangan dengan naluri saya sebagai anak muda saat itu.

Tulisan ini, sekedar cerita masa yang pernah saya lewati dahulu, karena kini kami bukan saja terpisah jauh oleh tempat, namun tidak lagi pernah berhubungan selama hampir 20 tahun! bahkan awalnya saya tidak berkehendak untuk mengingat-ingat. Hanya saja, masa lalu pastinya akan selalu menjadi bagian hidup kita yang tidak mungkin hapus begitu saja.

Sejak Jokowi dan Ahok masih menjadi gubernur dan wakil gubernur, nama H. Lulung, sebagai salah satu pimpinan DPRD DKI Jakarta, begitu banyak menghiasi media massa. Bahkan terus berlanjut hingga saat ini, saat Ahok menggantikan Jokowi sebagai Gubernur. Sepertinya, tidak saja hubungan antara lembaga yang terus panas, tapi juga seolah sudah memasuki hubungan antara masing-masing personal. Khususnya perseteruan antara Ahok di satu pihak dengan H. Lulung di pihak lainnya.

Dua figur ini, satu mewakili eksekutif dan satu lagi mewakili legislatif, dua lembaga yang secara organisatoris memang akan selalu saling berhubungan, kadang sejalan dalam mendukung, namun ada kalanya legislatif menjadi fungsi kontrol, sehingga lumrah di alam demokrasi seperti yang kita nikmati dalam waktu 16 tahun terakhir ini, hubungan itu bisa saling memanas. Akan tetapi masing-masing lembaga itu sendiri, diwakili oleh figur-figur unik. Ahok, dikenal sebagai seorang yang seringkali berbicara lepas, blak-blakan, dan cenderung bernada tinggi. Akan tetapi, H. Lulung, yang dikenal sebagai tokoh Tanah Abang ini juga memiliki kapasitas kepribadian yang unik. Bisik-bisik orang menyebutnya, dialah dahulu jagoan tanah abang, orang yang jadi seteru Hercules, atau yang menguasai A-Z tanah abang dan mempunyai jaringan luas para jagoan.

Dua puluh dua tahun lalu, tentu saja Lulung atau lengkapnya Abraham Lunggana ini belum dipanggil haji, umurnya masih (seingat saya) sekitar 32-33 tahun. Saya sendiri baru berusia 21 tahun saat itu. Pertama kali mengenalnya saat dia menjadi salah satu ketua cabang Jakarta Pusat, organisasi kepemudaan yang berada di bawah naungan keluarga besar ABRI khusus yang menaungi putra-putri Veteran RI.

Ayah saya kebetulan yang juga seorang veteran, menyampaikan undangan dari organisasi tersebut kepada saya untuk hadir dalam sebuah pertemuan. Karena informasi itu dan keingintahuan saya untuk melihat apa sih organisasi ini kegiatannya, maka saya sempatkan untuk hadir. Seingat saya itu di bulan Oktober 1993.  Pertemuan itu diadakan di sebuah sekolah dasar, dibilangan kemayoran Jakarta Pusat. Di sana H.Lulung, saat itu menjadi ketua organisasi tersebut, hadir  didampingi mantan pendahulunya, namanya Hanafie tinggal di sekitar Manggarai, Jakarta Pusat. Oiya, di organisasi ini, H. Lulung, kami panggil Bung Lulung, begitu juga para pengurus organisasi. Sebutan ini untuk mengingat panggilan para orang tua kami dahulu saat di masa-masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Mereka menyebut untuk meneruskan dan mengingat sapaan akrab para pendiri bangsa ini.

Saya terlambat datang di pertemuan hari minggu tersebut.  Saya baru ketahui diakhir-akhir pertemuan tersebut, yang dihadiri mungkin sekitar 15 orang, ternyata dimaksudkan untuk membentuk ranting organisasi tersebut di Kemayoran, wilayah kecamatan di mana saya tinggal. Saat masuk ke ruang pertemuan, Bung Lulung sedang menyampaikan beberapa kalimat penutup. Sambil meminta ijin masuk, dan berlalu menghampiri bangku kosong di barisan depan dekat pintu masuk, saya mendengar Bung Lulung berkata, “Jadi organisasi Pemuda ini, sebagai bagian dari organisasi pemuda ke-Karya-an, harus mendukung Golkar, dan pemerintahan Orde Baru!”. Kira-kira begitulah potongan diakhir kalimat dari Bung Lulung tersebut.

Saya sontak kaget mendengar kalimat tersebut, dan saat menghempaskan tubuh saya dibangku kayu tempat para murid SD pada hari Senin hingga sabtu sepanjang waktunya, saya langsung mengangkat tangan meminta bicara sebentar. Bung lulung dan Bung Hanafi, saya lihat kaget saat tiba-tiba saya mengangkat saat selesai, entah pidato atau orasi, bung Lulung tersebut, entah mungkin bingung karena saya yang baru duduk langsung mengaungkan jari untuk mohon bisa bicara sebentar. Setelah dipersilakan, saya menyampaikan pandangan saya, tentang konsep pemuda dalam masa-masa sekarang ini yang diperlukan terutama dalam menjaga kekritisan pemuda. Intinya saya tidak setuju sama sekali jika pertemuan ini kemudian diarahkan untuk langsung menjadi organisasi mobilisasi dukungan tanpa memberikan ruang bagi pemuda untuk tumbuh secara kritis terhadap kebijakan negara yang saat itu Golkar sedang kuat-kuatnya dalam pemerintahan.

Setelah itu Bung Lulung kemudian mencoba meredakan dengan mengklarifikasi seraya membenarkan sebagian pendapat saya, tentu saja dia tetap menekankan maksud tujuan organisasi ini tetap meneguhkan dukungan terhadap Golkar dan pemerintah sudah jadi garis organisasi.  Rupanya, interaksi yang singkat itu membuat seorang Bung Lulung terkesan pada saya. Segera setelah acara pidato berakhir, dibentuklah ranting organisasi ini, dan saya langsung diangkat menjadi wakil ketua organisasi pemuda ini di tingkat Ranting. Ketua ranting ditunjuk Hamzirwan, seorang pemuda dari Indonesia Timur, hampir 38 tahun umurnya seingat saya, yang menjadi fasilitator atau organizer acara pertemuan ini.

Karena dorongan ingin tahu lebih jauh saya pun menerima tanggung jawab dan surat keputusan pengangkatan tersebut dibuat. Dalam pertemuan itu, saya juga diberitahu bahwa bulan depan akan ada pertemuan Musyawarah Cabang Jakarta Pusat. Dia mengundang kami sebagai organisasi ranting Kemayoran untuk datang sebagai peserta. Musyawarah cabang itu bertujuan untuk melakukan pemilihan ketua cabang organisasi pemuda ini untuk masa bakti 1994-1998. Artinya Bung Lulung akan lengser, digantikan oleh pengurus baru. Kebetulan saat itu Bung Lulung sudah terpilih menjadi sekretaris umum organisasi untuk Cabang Jakarta Raya, atau tingkat provinsi, dimana ketuanya saat itu adalah Hariyanto Badjuri. Belakangan saya ketahui dia adalah salah seorang pejabat dilingkungan Pemda DKI, mengendarai mobil BMW terbaru. Saat itu, adalah kendaraan mewah nomor satu di Indonesia. Hariyanto Badjuri saya dengar orang yang membawahi urusan pariwisata di pemda, sehingga menurut kawan saya di organisasi tersebut, ucapan selamat banyak datang dari tempat-tempat hiburan (malam) di Jakarta.

Di organisasi ini, kegiatan kami diarahkan untuk mendukung segenap kegiatan yang dilakukan oleh ABRI dan juga golkar. Maka berbong-bondong kami hadir jika ada acara diadakan oleh dua institusi itu. Pimpinan organisasi ini harus kenal dan mengenal masing-masing panglima di masing-masing wilayah yang setara dengan wilayah lingkup organisasi kepemudaan tersebut. Misalnya untuk tingkat Jakarta Raya, maka kita harus kenal, mendekat serta mendukung Panglima Kodam dan jajarannya, begitu juga dengan pimpanan Golkar berikut jajaran yang dianggap penting untuk tingkat Jakarta. Demikianlah suatu saat saya dengan menumpang mobil Land Cruiser Hijau, Bung Lulung ini, kemudian meluncur ke Kodam, di cawang/cililitan untuk menghadiri pelantikan Pangdam dan Kadam baru, saat itu Wiranto dan Sutiyoso. Kami pun memperkenalkan diri kepada keduanya. Say melihat Yorris raweyai dan Ruhut Sitompul juga hadir di sana mewakili organisasi Pemuda Pancasila.

Sebelum musyawarah cabang, kami selaku organisasi ranting yang baru dibentuk seringkali diminta untuk datang malam-malam ke daerah tempat mereka biasa berkumpul di daerah Tanah abang, sekitar jalan pembangunan tiga. Kami berkumpul di sebuah pos penjagaan sebuah gedung, dipinggir jalan sambil ngopi-ngopi. Di situ Bung Lulung seringkali bercerita tentang salah satu kandidat yang sedang dia jagokan untuk menggantikannya sebagai ketua cabang Jakarta Pusat. Namanya Sudarno. Sementara pesaing lainnya adalah Andi browning. Saya kurang tahu banyak latar belakang kenapa Bung Lulung ini lebih memilih Sudarno. Tapi, dari apa yang diutarakan tentang Andi Browning, kelihatannya dia kurang happy. Lulung menganggap Andi tidak banyak diketahui latar belakangnya, selain disebut sebagai orangnya Ari Sigit Hardjojujanto, cucu Presiden Soeharto anak dari Sigit.

Kelihatannya apabila Andi menjadi ketua cabang, maka dia khawatir, kerajaan kecilnya di Jakarta Pusat, yang meliputi kecamatan Tanah Abang, Sawah Besar, Gambir, Cempaka Putih, Kemayoran, Senen dan Menteng sedikit terusik. Ya, ini ada wilayah-wilayah subur bagi organisasi kepemudaan di jama Orde Baru, untuk mencari hidup dan menjalankan organisasinya. Terutama sekali, wilayah seperti Tanah Abang dan sawah besar yang menjadi wilayah bisnis perdagangan dan hiburan malamnya. Saya sendiri tidak begitu tertarik dengan cerita persaingan tersebut, karena saya pikir itu bukan hal yang menjadi cita-cita saya untuk membangun masa depan.

Dari beberapa kali kumpul-kumpul dengan mereka, kami juga selalu membahas dengan teman-teman pengurus di ranting mengena peta kedua kubu yang nanti akan saling berhadapan di dalam muscab. Sekedar pemanasan untuk mengejar ktertinggalan kami dalam menjalankan roda organisasi yang baru berusia satu bulan ini. Dan akhirnya sampailah kami pada saat musyawarah cabang luar biasa tersebut di bulan November 1994.

Saya berangkat ke sebuah gedung di daerah pejompongan untuk menghadiri musyawarah cabang tersebut bersama beberapa teman pengurus. Aroma kegiatan sebuah organisasi kepemudaan dengan latar belakang kemiliteran terasa sekali. Di sana-sini saya melihat pemuda berbaju loreng dengan sepatu lars lengkap dengan baret hijaunya, berjaga-jaga mulai dari jalan di sekitar pejompongan, hingga masuk ke gedung di mana musyawarah itu dilaksanakan. Sementara sebagian besar peserta aktif di dalam muscab ini, mengenakan stelan yang kemeja warna coklat muda serasi dengan celananya. Kami menyebutnya sebagai pakaian dinas harian, atau PDH. Beberapa emblem dijahitkan di lengan dan kiri-kanan dada baju pdh kami, begitu juga dengan seragam loreng militer yang disebut pakaian dinas lapangan, PDL. Suasana mirip di dalam sebuah pertemuan kemiliteran.

Muscab diawali dengan beberapa pidato, dari mulai pembina dari veteran, pembina dari kodim, dan ketua golkar di dprd Jakarta. Setelah itu diisi dengan peraturan dan tata tertib persidangan saat acara resmi musyawarah itu dimulai. Saya sempat menginterupsi saat pimpinan sidang saat ingin menetapkan tata tertib persidangan. Interupsi saya ini sempat menghebohkan. Ya, jika kita paham saat itu, interupsi adalah sesuatu yang sangat-sangat tidak lumrah di era orde baru. Ada satu kali interupsi dalam sejarah orde baru di dalam gedung MPR yang dilakukan oleh Brigjen Ibrahm Saleh dari F-ABRI tahun 1988, yang menggegerkan seisi gedung wakil rakyat tersebut. Bahkan interupsi yang mempertanyakan kapasitas sudharmono sebagai calon wakil presiden itu, tidak sempat berakhir disampaikan karena kemudian Ibrahim Saleh diminta turun oleh Pangab ABRI try sutrisno dan juga Menhankam saat tu LB Moerdani. Ibrahim kemudian diperiksa oleh dokter karena dianggap stress atau gila.

Oiya, kembali lagi dalam cerita awal saya yang menginterupsi yang dianggap aneh itu dan menjadi pusat perhatian seisi peserta musyawarah cabang. Saya saat itu mempertanyakan tata tertib yang menyatakan bahwa semua peserta mempunyai hak suara dan hak berbicara. Namun dalam menggunakan hak bicara, maka diwakili oleh ketua ranting. Inilah yang saya pikir aneh. Namun demikian, hal ini lumrah di masa orde baru saat itu, terlebih bila kita ada di bawah naungan organisai KBA atau keluarga besar abri. Tapi tidak bagi saya yang saat itu merasa sebagai aktivis organisasi mahasiswa, berbicara dan menyampaikan sendiri pendapatnya adalah hak mutlak dan tidak perlu dibatasi. Namun, interupsi saya ternyata tidak mendapat respon positif, dan tata tertib berjalan seperti yang sudah dimuat di dalam draft pimipinan majelis. Hanya saja interupsi saya membuat semua peserta dari berbagai ranting se Jakarta Pusat itu mengenal saya, yang kemudian belakangan baru saya sadari.

Akhirnya sidang yang dilakukan dari pagi itu sampailah pada pandangan masing-masing ranting mengenai figur dan kriteria calon pimpinan cabang pengganti Abraham Lunggana, atau Bung Lulung itu. Sas sus yang beredar di sejumlah peserta memang menguat untuk mendukung saudara Sudarno dibandingkan dengan Andi Browning itu. Ini sesuai dengan arahan yang dilakukan oleh Bung Lulung malam hari sebelumnya, di mana kami pengurus ranting-ranting dikumpulkan di gedung tersebut. Andi browning dianggap di drop oleh penguasa orde baru dan didukung oleh para pembina organisasi yaitu ABRI dan legiun veteran. Jaman itu, memang restu dan dukungan dewan pembina organisasi untuk menggolkan seorang calon pimpinan organisasi sangat kuat dan hampir mustahil dibantah. Tetapi sepertinya Bung Lulung tidak suka dengan orang dengan latar yang dianggap tidak dipahaminya, bahkan dicurigai pula tidak mempunyai latar belakang putra seorang legiun veteran, sehingga diragukan keabsahan dan komitmennya. Dan terlebih Bung Lulung menganggap Andi mempunyai backing kekuatan lain yang sanggup menjadi rival baginya di daerah yang sudah menjadi jaringannya. Paling tidak demikianlah analisa di belakang layar dari teman-teman saat itu.

Dalam pandangan masing-masing ranting, ternyata semua pimpinan ranting bersepakat mendukung bung Sudarno untuk menggantikan Bung Lulung. Saya tidak menyadari kalau langkah inilah yang kemudian mebuat musyawarah menjadi berkepanjangan dan sidang diskors berjam-jam tanpa satu pun saya dengan kepastian kapan sidang akan dilanjutkan. Saya dan beberapa teman di ranting tetap menunggu dan tidak pernah mau tahu urusan apa yang sedang terjadi, kami saat itu begitu naif, bahwa kami sebagai organisasi ranting yang baru dibentuk sebulan sebelumnya tentulah bukan siapa-siapa dalam kompetisi ini. Jadi saya dan beberapa teman sibuk mengobrol di luar arena sidang sambil menunggu sidang berlanjut. Namun tidak demikian dengan Hamzirwan, ketua ranting kami. Dia tidak terlihat batang hidungnya. Saya paham, karena dialah inisiator dan orang yang dipercaya untuk memimpin ranting baru kami, yang dipilih sendiri oleh Bung Lulung. Tentu dia sibuk menggalang dukungan untuk Sudarno, apalagi dia bukan orang baru di organisasi ini seperti halnya saya.

Mungkin sekitar pukul setengah sembilan malam, seseorang menghampiri saya yang sedang bersenda gurau dengan beberapa teman ranting di halaman gedung pertemuan itu. Katanya, saya dipanggil Bung Lulung. Saya pun menghampiri dia yang sudah menunggu di dalam sebuah mobil, sedang bersama seorang berperawakan tionghoa, anggota organisasi ini juga yang baru saya kenal itu. Saat itu Bung Lulung meminta saya masuk ke mobil, dan mobil berjalan perlahan. Dia minta saya menyerahkan surat-surat yang membuktikan bahwa ayah saya adalah seorang veteran perang kemerdekaan, berupa SKEP veteran RI dan kelengkapannya seperti copy bintang jasa jika ada. Saya tanya buat apa, kemudian dia menjelaskan bahwa sidang musyarawah dead lock. Ya, sidang pemilihan ketua pengganti Bung Lulung menjadi dead lock, karena adanya ketidakcocokan antar keinginan peserta muscab dan Bung Lulung yang mendukung Sudarno, dengan keinginan dewan pembina baik dari ABRI, Legiun Veteran dan Golkar, yang menginginkan saudara Andi Browning menggantikan Bung Lulung.

Kemudian Bung Lulung menjelaskan saya bahwa dia sedang mencari jalan keluar dari dead lock ini. Bung lulung mengatakan bahwa saya akan diajukan ke dewan pembina dan pimpinan sidang sebagai pengganti kedua calon pimpinan cabang tersebut. What ??!! – Saya terkaget-kaget dalam hati. Saya tidak tahu bagaimana ekspresi wajah saya di kegelapan di dalam mobil sedan Peugeot  yang sedang melaju perlahan itu, keluar dari halaman arena gedung pertemuan muscab. Belum sempat saya berpendapat, Bung Lulung, kembali meyakinkan saya bahwa ini adalah jalan keluar yang kemungkinan bisa diambil, dan meminta saya tidak usah khawatir, karena dia karena akan membantu sepenuhnya di belakang saya. Satu orang lainnya, yang tidak saya ingat siap,  yang ada di dalam mobil juga meyakinkan saya saat itu untuk menerimanya.

Ya, baik saya bersedia. Kata saya. Bung Lulung berubah senang dan langsung meminta rekan yang berperawakan tionghoa (saya lupa namanya), untuk langsung menuju rumah saya di bilangan kemayoran. Sepanjang jalan, saya tidak berkata apa-apa, bahkan obrolan Bung Lulung di jalan tidak terlalu saya tanggapi. Seolah pikiran saya kosong, bingung dan tidak percaya. Yang muncul di kepala saya adalah kenapa saya yang baru sebulan dan belum mengenal karakter organisasi ini, belum mengenal peta organisasi ini, belum mengenal apa yang sudah dan akan dilakukan di wilayah kekuasaan saya, saya juga tidak dan belum tahu siapa kawan siapa lawan saat saya nanti menjadi ketua. Saya tinggalkan itu menumpuk dan melupakannya sementara di kepala saya saat itu.

Mobil pun sampai di rumah, dan saya menemui  bapak saya, Bung Lulung memberi hormat dan bersalaman seraya memperkenalkan dirinya pada Bapak saya. Demikian memang adat kami di organisasi jika bertemu orang tua, menghormati secara penuh, mengingat jasa yang telah mereka berikan di masa lalu. Kemudian saya mohon kepada bapak saya agar  memberikan copy document kartu anggota legiun veteran, skep, sertifikat bintang jasa gerilya dan bintang jasa lainnya lengkap. Kemudian saya sampaikan pada bapak bahwa saya akan dijadikan ketua cabang pengganti Abraham Lunggana ini. Saya tidak ingat bagaimana wajah bapak saya saat itu, saya cepat berlalu minta ijin untuk kembali ke arena musyawarah. Mungkin saat itu waktu sudah hampir tengah malam.

Rupanya dalam perjalanan kami kembali itu, kami tidak langsung ke arena muscab dilangsungkan, tetapi  menuju ke hotel Sahid Djaya di bilangan Sudirman. Rupanya kami di bawa ke sebuah kamar VIP di hotel tersebut di mana sudah menanti beberapa orang di sana. Saya mendapati ketua dewan pembina LVRI Jakarta Pusat, ketua Pasisospol dari Kodim Jakarta Pusat dan pimpinan sidang musyawarah dan seorang perempuan anggota organisasi, yang belakangan saya kenali sebagai salah seorang penyiar berita di TVRI saat itu.

Rupanya saya sedang diperkenalkan kepada mereka bahwa inilah calon pimpinan alternatif pengganti dan pemecah ketidaksepakatan antara dua kubu. Setelah itu mereka berembuk di dalam ruang yang berbeda. Dan diputuskan bahwa saya dan Bung Lulung segera kembali ke arena muscab dinihari itu, karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul satu atau dua malam.

Sesampainya di halaman gedung musyawarah, saya dan Bung Lulung keluar dari mobil dan tiba-tiba, kami dirubungi oleh peserta musyawarah yang berjalan beriringan ke dalam gedung. Beberapa orang menghampiri dan memperkenalkan diri pada saya dari ranting ini dan itu. Saya heran wah, ini responnya kok cepat sekali? Mereka seolah sudah tahu bahwa saya menjadi calon alternatif pengganti dari kandidat yang dead lock tersebut. Sampai di sebuah ruangan saya disodorkan kertas oleh Bung Lulung berupa kertas dukungan dari semua ranting untuk menjadi ketua cabang, lengkap dengan tanda tangan mereka. Saya terkejut, artinya selama kepergian saya, sudah terjadi sosialisasi pada para peserta di arena musyawarah bahwa sayalah yang harus mereka dukung.

Saya melihat wajah teman-teman satu ranting yang kebanyakan bingung tidak percaya hal itu terjadi, termasuk ketua ranting kemayoran, Hamzirwan. Singkatnya saya kemudian dibuatkan daftar pengurus yang bersama-sama akan dilantik dinihari itu oleh Kepala Komandan Kodim dan Ketua organisasi Markas Daerah Jakarta Raya pagi itu juga, saat itu waktu sudah menunjukkan hampir pukul tiga pagi. Dalam daftar pengurus saya melihat dibawah saya adalah dua orang wakil ketua, yaitu calon kandidat yang gagal Sudarno dan Andi Browning! Saya terkejut, sepertinya saya punya PR besar nantinya. Tapi saya tidak berpikir banyak saat itu. Saya ingin hari ini cepat berlalu dan muscab ini berakhir, dan saya ingin pulang tidur sepanjang hari, berharap, jika ini mimpi buruk maka segera berakhir.

Memang demikian, saya anggap ini mimpi buruk. Saya sama sekali tidak siap mengemban dan memimpin organisasi ini sebelum saya mengetahui luar-dalam karakter organisasi, karakter anggota dan juga peta persaingan organisasi ini. Bahkan saya sendiri juga bingung bagaimana saya bisa membiayai diri saya untuk mondar-mandir ke sana kemari memimpin organsasi ini sementara saya sendiri masih mahasiswa, dengan ongkos masih dari orang tua dan terbatas hanya rumah-kampus dan kembali ke rumah. Belum lagi waktu yang sempit sebagai mahasiswa Teknik ditahun ke tiga, dan sedang sibuk-sibuknya, yang harus saya korbankan demi organisasi.  Bagaimana mengatasi perseteruan dua kelompok yang mungkin saja terjadi karena kedua calon kandidat yang gagal itu kini menguntit saya sebagai wakil ketua. Saya tidak mengenal keduannya saat itu.

Saat melantik kami, Haryanto Badjuri, ketua markas daerah membisikkan saya saat penyerahan pataka bendera organisasi, untuk menemuinya di kantornya di bilangan gatot subroto. Kanwil pariwisata DKI, beberapa hari kemudian. Saya mengiyakan. Pertemuan di ruangan haryanto badjuri itupun terjadi, bersama dengan dua orang pengurus ranting kemayoran yang saya ajak serta dan saya dimasukkan pula dalam kepengurusan organisasi di tingkat cabang Jakarta Pusat ini. Setelah berkenalan masing-masing, saya kemudian seperti curhat apa yang kegalauan saya terhadap proses yang terjadi, terhadapa kemungkinan-kemungkinan perseteruan dua kubu berlanjut dalam masa kepemimpinan saya dan idealisme saya sebagai anak muda, seorang mahasiswa yang masih hijau. Saya memang seolah menjadi terbuka kepada Bung Haryanto Badjuri, demikian saya memanggilnya. Usia kami, menurut dia terpaut 18 tahun, artinya saat itu dia berusia sekitar 40 tahun. Dia pun terkejut ketika mengetahui betapa masih belianya saya untuk memimpin organisasi pemuda ini.

Namun saat mendengar kegalauan dan idealisme sebagai anak muda yang masih hijau itu, ternyata justru menimbulkan simpati luar biasa dari si Bung ini. Kemudian dia mengatakan bahwa saya tidak perlu khawatir akan gesekan-gesekan yang terjadi nanti, di a mendorong saya untuk jalan dengan apa yang ingin saya lakukan, kemudian berjanji untuk membantu dan memback-up saya habis-habisan. Mendengar itu, semangat saya yang saat itu galau menjadi tegak. Saya merasa ada yang bisa membantu menuntun saya saat itu.

Singkatnya, saya pun mencoba menjalankan organisasi menyelenggarakan rapat-rapat pengurus. Kami menempati kantor di sebah rumah di bilangan jalan Diponegoro tepat diapit, kalau tidak salah kedutaan besar Itali dan Pihilipina dan di depan rumah dinas Panglima KSAL. Rumah ini milik sekretaris umum saya, Bung Edi orang tuanya adalah mantan sekretaris Presiden Soekarno. Saya mulai membenahi administrasi organisasi dan menyelenggarakan kegiatan latihan dasar militer sebagai kegiatan tahunan buat organisasi di sebuah wilayah di puncak bogor dituntun oleh prajurit-prajurit ABRI saat itu. Saya juga secara ex-officio adalah komandan Batalyon satuan paramiliter organisasi itu sendiri ditingkat Jakarta Pusat. Artinya saya punya orang-orang sipil berseragam militer dan mendapatkan sedikit pendidikan militer. Saya harus terbiasa kemudian membalas hormat ala militer seperti dari mereka. Walau tidak terbiasa dalam dunia mahasiswa yang egaliter, namun saya harus paham dunia yang sedang saya geluti ini. Mereka berbicara kepada say, seperti hormat dan melihat saya sebagai sosok pimpinan yang harus dipatuhi. Ya jaman orde baru dahulu, seseorang harus patuh, ewuh kepada pimpinan. Dia menjadi sosok yang dihormati, dipatuhi dan dilayani, apalagi ini adalah organisasi underbow ABRI.

Saya kemudian diajak oleh Bung Lulung ke tanah abang, diperkenalkan dengan beberapa rekan Bung Lulung di sana. Saya diajak pula untuk pergi ke beberapa tempat hiburan, di dalamnya saya diperkenalkan dengan beberapa orang, yang tentunya saya tidak ingat siapa-siapa mereka itu. Yang jelas sepertinya mereka adalah orang-orang yang disegani di sana namun begitu hormat pada Bung Lulung.

Organisasi yang saya pimpin ini, memang di masa Bung Lulung erat kaitannya dengan dunia keras di malam hari.  Bahkan saat saya mengatakan pada Bung Lulung di mobil land cruiser hijaunya, saat saya di bawa kerumahnya, bahwa saya ini hanya seorang mahasiswa biasa, anak seorang ayah pensiunan dan ibu seorang guru SD, tidak punya banyak fasilitas apalagi uang untuk mendukung mobilitas saya. Bung Lulung hanya mengatakan nanti Bung Rudi akan tahu sendiri jalannya. Itulah sebabnya saya perlu diperkenalkan dengan teman-teman yang saya temui di tempat-tempat hiburan itu, yang tidak pernah saya ketahui apakah mereka menjadi anggota organisasi pemuda ini. Namun sepetinya mereka mengetahui organisasi ini dan Bung Lulung sebagai sosok yang mereka hormati. Ya, bisa jadi saya akan mengetahui bagaimana saya mengongkosi diri saya sendiri untuk menjalankan organisasi ini satu saat nanti.

Saya menyadarinya hal itu, bahkan saat bertemu dengan Bung Haryanto Badjuri, dia sempat berjanji, jika saat tahun 1997 nanti pemilu saat usia saya baru 24 tahun, artinya tiga tahun lagi sejak saat itu, saya akan didukung untuk menjadi calon anggota DPRD DKI Jakarta. Karena background sebagai mahasiswa UI, aktivis dikampus, dan yang terlebih penting previlege yang didapat sebagai pimpinan organisasi pemuda karya dan kekaryaan di bawah naungan Golkar, yang otomatis didukung untuk menjadi wakil-wakilnya di gedung wakil rakyat tersebut. Memang saat itu pemilihan umum yang dilakukan tidak seperti di era reformasi yang memilih langsung orang. Saat orde baru, rakyat hanya memilih gambar, mereka tidak perlu mengetahui siapa sosok wakilnya di legislatif. Dan sebagai keluarga besar golkar, organisasi sayap golkar sudah pasti pimpinannya mendapatkan jatah menempati posisi wakil rakyat nantinya pada saat pemilu. Termasuk saya nanti, seperti yang dijanjikanoleh Bung Haryanto Badjuri itu. Saya dalam satu kesempatan juga diperkenalkan oleh Bung Lulung kepada ketua Golkar DKI saat itu di gedung DPD Golkar DKI.

Namun saya tidak sejauh itu memikirkan keuntungan-keuntungan yang mungkin saya dapatkan. Saya meyakinkan diri saya, bahwa saya sebagai mahasiswa tidak mungkin idealisme yang saya dapat dikampus bisa dibeli. Saat awal itu saya sempat begitu tertekan memikirkan apa yang akan terjadi nanti saat saya memimpin organisasi ekstra kampus ini. 180 derajat berbeda dengan apa yang saya lakukan di kampus yang penuh dengan aktivitas dan retorika idealisme. Namun organisasi pemuda ini adalah dunia riil. Dunia di mana hidup sesungguhnya berjalan dan diperjuangkan disini, dijalanan, dipasar-pasar digedung-gedung kekuasaan. It’s not business as usual as student! Seorang teman psikologi saya, Dadan Erwandi, sekarang dosen di UI, sempat membawa saya berkonsultasi ke psikolog Prof. Sarlito Wirawan di klinik profesionalnya di Pancoran. Sarlito adalah dosen kawan saya tersebut, dan karena dianggap sebagai mantan aktivitis juga dan bisa memahami tekanan yang saya alami.

Beberapa teman juga menjadi pendorong saya agar tetap tenang dan menjaga idealisme saya. Warnidah haryo, Indra Djaya Piliang (sekarang kabalitbang Partai Golkar), Rifky Mochtar, dan Juliansyah, adalah beberapa teman baik di Kelompok Study Mahasiswa maupun di HMI tempat saya bernaung dan beraktivitas di kampus UI. Warnidah yang kemudian menjadi ketua senat Psikologi UI itu, sempat merekam cerita-cerita pengalaman saya dari mulai masuk organisasi ini hingga tekanan yang saya alami.

Iya, pada akhirnya saya harus memilih, bahwa mumpung saya masih muda, maka idealisme itu harus tetap dijaga. Inilah yang bisa menjaga nilai moral kita kelak. Iya, saya menolak akhirnya untuk disamakan dengan perilaku yang sudah lumrah berlaku di dunia riil organisasi yang salah dijalankan oleh banyak orang  saat itu. Dari hal kecil hingga hal besar bisa saja datang silih berganti. Saya tidak menanggapi saat seorang teman meminta tolong bantuan karena tahu saya memimpin organisasi pemudan dan mampu menggerakkan mereka sesuai keinginan saya demi kepentingan pribadinya saat itu.  Pada satu kesempatan ujian saya adalah menolak dengan tegas, saat saya sedang memimpin latihan dasar militer di puncak, di mana saya disodori perempuan-perempuan nakal oleh rekan di organisasi tersebut yang mengetuk pintu kamar saya. Saya ambil air wudhu dan sholat di dalam kamar itu, memohon perlindunganNya.

Dan puncaknya secara tiba-tiba saya diminta untuk mendukung Andi Browning untuk maju mewakili organisasi ini untuk menjadi calon ketua KNPI Jakarta Pusat. Yang saya kaget pula, dukungan kepada Andi Browning ini datang dari Bung Haranto Badjuri, ketua Markas Daerah yang berjanji memback-up saya habis-habisan beberapa waktu lalu, dan artinya juga di dukung oleh Bung Lulung pula. KNPI adalah wadah organisasi yang menaungi, saat itu 33 oranisasi ekstra mahasiswa dan pemuda. Saya kecewa dengan fait accompli kedua orang itu untuk meminta saya mendukung Andi Browning, yang walaupun dia menjadi wakil saya saat itu, tapi saya tidak percaya.

Akhirnya dalam sebuah pertemuan di markas cabang kami di jalan Diponegoro, saya katakan dengan tegas dihadapan Bung Lulung, beberapa pengurus dan undangan dari wilayah lainnya, bahwa saya tidak akan memberikan surat dukungan organisasi kepada Andi Browning. Bahwa Andi Browning pernah suatu saat melobby saya didalam pertemuan di hotel HI bahwa dia ingin memberikan penghasilan bagi organisasi dengan cara mengamankan dan mendistribusikan labelisasi minuman keras yang  memang dibuat oleh pemerintah dan diserahkan bisnis labelisasi itu kepada Ari Sigit. Ya saat itu cukai produk banyak dibuat pemerintah dan diserahkan previlegenya pada swasta yang menjadi kroni penguasa, termasuk labelisasi minuman keras di jaman orba ini, dengan alasan agar bisa terkontrol oleh pemerintah. Padahal, demi keuntungan kroni semata.

Saya tegaskan dihadapan Bung Lulung, bahwa bahkan seorang Bung Haryanto Badjuri tidak bisa mendikte saya untuk hal ini. “Coba pikirkan, bagaimana mungkin KNPI yang menaungi 33 organisasi pemuda, dipimpin oleh seseorang yang pekerjaannya adalah mengamankan proses labelisasi dan mendistribusikannya!, tidak sekali-kali,” kata saya.

Saya melihat Bung Lulung tersenyum tapi entah apa artinya. Namun singkatnya setelah itu, saya pun mendengar bahwa akan ada musyawarah cabang luar biasa untuk menggantikan saya. Semakin kencang. Dan saat itu saya menetapkan dalam hati, saya sudah berusaha menegakkan apa yang saya yakini, jika memang ini yang dikehendaki mereka, saya tidak perlu menghabiskanenergi untuk melawan. Apalagi tidak lama kemudian saya membaca berita di koran bahwa rekan-rekan di organisasi pemuda ini, dipimpin oleh Haryanto Badjuri dan Bung Lulung, berdemontrasi di gedung YLBHI mencela pembelaan YLBHI atas orang-orang yang dianggap penghianat bangsa, seperti Sri Bintang Pamungkas dan Yenni Rosa Damayanti. Mereka hadir dan dianggap sebagai otak dalam demontrasi presiden Suharto di Desden, Jeman, yang membuat murka sang presiden dan mencapnya penghianat. Padahal beberapa waktu sebelumnya saya sendiri bersama teman-teman di kampus berdemontrasi mendukung Sri Bintang Pamungkas di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, bahkan karena saya tidak mengenakan Jaket Kuning, saya sempat menjadi sasaran aparat sehingga terkena pentungan dan hampir semua kancing baju saya lepas dan sedikit sobek karena tarikan aparat dan teman yang ingin menyelamatkan saya dari tangkapan aparat polisi.

Jadi lengkaplah sudah apa yang harus saya lakukan kemudian. Saya harus tuntaskan juga. Kemudian saya menulis surat pengunduran diri saya, sebagai ketua organisasi ini. Saya tujukan kepada ketua Markas Daerah Haryanto Badjuri. Saya memilih untuk tetap menegakkan kepala. Saya sadari, di usia saya memang belum saatnya saya berkiprah sendiri di sini. Setidaknya pengalaman ini menjadi pengalaman hidup yang akan saya catat nanti. Saya kembali ke kampus, kembali beraktivitas di kelompok study mahasiswa melakuan diskusi dan penelitian multidisipliner ke daerah-daerah untuk berbagai topik. Di organisasi ini saya sempat menjadi  ketua pengkajian ekonomi dan pembangunan mendampingi Mohammad Qodary (sekarang direktur eksekutif IndoBarometer) sebagai ketua umumnya. Dan juga sempat memimpin HMI baik sebagai salah satu ketua Litbang dan kemudian sekretaris umum di cabang Depok. Saya menikmati dan menyenangi dunia mahasiswa saya kemudian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s