Memahami Berita dan Isu Pengungsi di Eropa

Berita tentang pengungsi yang seolah secara tiba-tiba mengepung Eropa setiap hari memenuhi media massa internasional. Dan semakin menarik dan menghangat ketika dunia dikejutkan oleh berita tentang korban balita, Aylan Kurdi, balita berusia 3 tahun yang mati karena perahu yang ditumpangi oleh pengungsi tersebut terbalik dalam perjalanan mereka dari Turkey menuju pulau KOS, Yunani. Pembicaraan mengenai tragedi pengungsi ini tiba-tiba juga muncul di media-media sosial.

Tanggapan beragam di media sosial atas pemberitaan mengenai pengungsi, tidak saja mengenai tragedi yang dialami pengungsi tetapi juga negara-negara yang ketumpuan para penngunsi tersebut. Tanggapan sinis terhadap negara-negara tetangga, di kawasan asal para pengungsi, yaitu kawasan timur tengah. Satu contoh adalah tanggapan atas berita yang ditautkan oleh  “aktivis” sosial media seperti dari BBC dan the Washington Post  dalam laman-laman pribadi maupun coment di media sosial.

Dalam website BBC ada satu tulisan yang memuat judul “Migrant Crisis : Why Syrian refugee do not flee to Gulf States?” ditulis oleh Amira Fathalla pada tanggal 2 September 2015. Kemudian ada juga di website The Washington Post, memuat judul tulisan “The Arab World’s Wealthiest Nations are doing next to nothing for Syria’s refugee” ditulis oleh Ishaan Taroor pada tanggal 4 September 2015.

Dan salah satu tanggapan yang muncul dari netizen mengenai kasus pengungsi ini, yaitu kesan buruk langsung tertuju pada negara-negara Arab.  Dan bahkan dalam beberapa topik diskusi di media sosial juga mengkaitkannya dengan muslim sebagai identitas negara asal pengungsi yang tidak mendapatkan perhatian dari sesama negara muslim lainnya di sekitar kawasan penuh konflik tersebut. Sementara kesan baik dan jauh lebih responsif ditujukan pada negara-negara Eropa, yang sesungguhnya berbeda secara ideologi dan kultur namun bersedia memikirkan solusi dan menerima pengungsi. Kesan ini menangkap superioritas kultural ada pada negara-negara Eropa terhadap negara-negara Arab atau dunia muslim. Mereka lebih mau menjadi penolong bagi mereka yang menderita akibat perang dan mencari perlindungan dan kehidupan damai di negara eropa.  Inilah kesan yang salah satunya muncul dari sebagian netizen dalam menanggapi kasus pengungsi syria secara umum dari pemberitaan yang ada.

Sementara itu tulisan dari BBC dan Washington Post tersebut, sebagai contoh kasus yang saya ambil, sebenarnya tidaklah salah sama sekali. Namun sebagian orang tidak dengan tepat memahami kritik di dalam media tersebut. Dan juga kurang memahami konteks antara negara Eropa dalam menangani pengungsi yang mencari suaka tersebut.

Pertama, tulisan di BBC dan Washington Post tidaklah ditujukan untuk menggeneralisir semua negara Arab. Bahkan tidak pula menyebutkannya sebagai sebuah tanggung jawab negara muslim sama sekali terhadap pengungsi di kawasan tersebut secara umum. Sebaliknya tulisan itu hanya tertuju pada negara kaya (Arab Wealthiest Nations). Kritik di dalam tulisan ini menanggapi negara-negara arab yang kaya, yang tidak memberikan perhatian pada pengungsi, itupun pada konteks kemauan untuk turut serta menampung pengungsi. Sementara, negara-negara teluk tetap mempunyai  kontribusi dana pada UNHCR yang menangani pengungsi ini, kecuali Kuwait yang di dalam skema 3RP (Regional Refugee and Resilience Plan 2015) hingga Agustus ini sudah memberikan US$101 Juta dollar,  yang lain dana yang disumbangkan rata-rata tidaklah tergolong besar.

Sementara di luar negara-negara kaya yang kurang tertarik menampung pengungsi itu ada beberapa negara arab lainnya, yang tidak tergolong kaya, namun justru saat in kebanjiran pengungsi. Sebut saja seperti Lebanon yang menampung 1,1 juta pengungsi. Jordania 650 ribu pengungsi, Mesir 230 Ribu pengugsi dan Irak sendiri di perbatasan menampung sekitar 130 ribu pengungsi. Jika ditambah dengan Turkey yang menjadi tempat penampungan pengungsi terbesar 1,9 juta orang, tentu klaim ketidakpedulian  negara-negara mayoritas Islam menjadi tidak valid.

Tapi persoalannya adalah bahwa fasilitas di negara-negara tersebut sangat tidak mendukung bagi pengungsi untuk hidup  yang layak seperti warga negara mereka sendiri. Kondisi demikian bisa dipahami karena menerima arus gelombang besar pengungsi bukan persoalan mudah bagi negara penerimanya. Kita bisa menyebut, pertama, adalah dana yang besar dibutuhkan untuk itu. Dari membangun shelter, infrastruktur air bersih dan limbah, penanganan layanan kesehatan baik prasarana dan tenaga medis, penyediaan pendidikan bagi anak-anak usia sekolah,   hingga upah pekerja untuk menjalankan sistem kantng-kantong pengungsi. Belum lagi mereka harus memastikan tidak adanya gesekan sosial yang peluangnya sanagat besari terjadi.

Anda bayangkan saja, jika dua juta pengungsi harus ditangani turkey, itu layaknya membangun sebuah kota baru. And bayangkan Bogor mempunya jumlah penduduk 1,8 juta jiwa, maka kira-kira sebanyak itulah bantuan makanan harus disediakan oleh pemerintah Turkey, juga para NGO yang terlibat di dlaamnya. Jika standard ruang untuk hidup bagi satu orang menurut WHO itu 7-9 meter2, maka Turkey harus menyediakan ruang 15.2  km2 hanya untuk tempat tinggal saja. Bagaimana jika di tambah dengan infrastruktur sosial, membuat lapangan pekerja untuk mengurangi beban subsidi dan lain-lain. Demikianlah kondisi yang harus dibangun oleh pemerintah Turkey membangun kehidupan bagi pengungsi tersebut.

Sementara, kenapa kita mengapresiasi negara Eropa yang bisa memberikan standard yang jauh lebih baik pada pengungsi ? Jawabannya tentu saja tidak bisa disejajrkan dengan negara-negara penampung seperti Turkey, Jordan  atau Lebanon itu. Negara-negara Eropa hanya menerima pengungsi untuk suaka dengan tempat sangat terbatas. Berbagai pertimbangan masing-masing negara tentunya berbeda-beda. Beberapa pertimbangan itu bisa dari aspek pendanaan, politik, ekonomi dan kekhawatiran gesekan sosial.

Jumlah yang masih terus ingin disepakati oleh masing-masing negara difasilitasi oleh Uni-Eropa masih belum bulat dihasilkan. Dan teruse terjadi perubahan dari rencana awal setelah melalui berbagai ketegangan diplomasi masing-masing negara anggota Uni Eropa tersebut. Hungaria misalnya, menurut Perdana Mentri Viktor Orban,  merasa bahwa Pengungsi akan menjadi bebas sosial karena ada perbedaan budaya dan agama di antara komunitas Eropa dan Timur-tengah. ( http://www.independent.co.uk/news/world/europe/refugee-crisis-why-hungarian-prime-minister-viktor-orban-sticks-to-his-antimuslim-script-10487494.html ).

Tetapi berita terakhir dari hasil pertemuan negara-negara Uni Eropa, menyerukan negara-negara Eropa untuk mensepakati agar menerima 160 ribu pengungsi selama dua tahun ke depan. (http://www.theguardian.com/world/2015/sep/08/angela-merkel-eu-refugee-sharing-plan-may-not-be-enough-germany-europe ).  Jerman mengambil peran lebih besar dengan mengakomodasi sekitar 31 ribu dan Prancis 24 ribu, Spanyol hampir 15 ribu, Polandia 9 ribu, dan Belanda 7 ribu. Inggris sendiri berjanji untuk mengambil pengungsi sebanyak 20 ribu dalam ima tahun ke depan.http://www.aljazeera.com/news/2015/09/eu-sets-deadline-relocate-160000-refugees-150909093620184.html .

Jumlah bilangan pengungsi yang jauh lebih sedikit dan terbagi dalam beberapa negara Eropa inilah yang membuat para pengungsi ini kemungkinan dapat lebih baik penanganannya. Alokasi pendanaan dan distribusi para pengungsi ke berbagai wilayah negara Eropa meringankan biaya terhadap pengungsi. Di Jerman mereka akan mendapatkan standar perlakuan yang sama dengan warga negara jerman lainnya seperti yang digaransi oleh Asylum Procedure Act yang berlaku di Jerman hasil amanedemen terakhir pada 22 November 2011.

Namun demikian langkah Uni Eropa ini jauh lebih baik bila kita bandingkan dengan negara-negara teluk yang kaya namun tidak mengakomodasi para pengungsi Syria dengan berbagai alasan. Sehingga isu pengngsi itu sesungguhnya, seberapa besar kita mau berkontribusi dan dalam bentuk apa kontribusi itu dilakukan untuk menangani bencana kemanusiaan di Syria. Bukan siapa paling superior dan siapa yang inferior. Karena bencana kemanusiaan itu harus ditangani dengan empati kemanusiaan bukan lainnya apalagi politik menang-menangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s