Amin al-Husayni dalam Pusaran Perjuangan Palestina (10)

KONGRES ISLAM

Setelah bulan Februari 1931 dikeluarkan Black Papers, Mufti Amin al-Husayni menyusun langkah-langkah diplomasi dengan melakukan pendekatan sentimen keagamaan terhadap isu Palestina. Menyadari bahwa ini adalah langkah yang dianggap mempunyai sentimen besar dan melawan sekat bangsa dan negara. Jika menjelang 1920-an, Amin begitu sadar akan nasionalisme Arab, memperjuangkan terbentuk Greater Syria, kini dia mencoba menggalang gerakan Pan-Islam.

Gerakan ini dimaksud untuk memberikan perhatian Isu Palestina di kalangan negara-negara Muslim terutama mereka yang berada di wilayah timur tengah dan sekitarnya. Pemerintah Mandate Inggris keberatan dengan kongres umat islam ini, karena khawatir dijadikan sebagai ajang kebangkitan perlawanan terhadap pemerintah mandate Inggris. Tetapi, Muti meyakinkan pihak Inggris, secara moderate bahwa tujuan kongres ini adalah untuk membicarakan “mengenai hal-hal yang terkait dengan kepentingan umat muslim”. Tetapi tujuan utamanya adalah menginvestigasi isu bahaya Zionist terhadap Palestina dan tempat suci muslim, serta mengkonsolidasikan segala usaha untuk menentang dominasi Inggris dan Prancis, yang saat itu berkuasa di tmur tengah, begitu juga negara Eropa lainnya, Italy di Libya. Kongres ini mendapat respon sekitar dua puluh negara muslim di dunia.

Inggris mendapatkan posisinya dalam dilema untuk melarang kongres islam ini, karena khawatir mendapatkan kecaman anti Islam. Sementara jika tetap diselenggarakan, mereka takut dipermalukan atau bahkan diserang dengan hasil keputusan kongres Islam tersebut. Banyak negara-negara lain  akan terkena seperti Prancis, Italy dan Belanda. Bahkan Italy meminta inggris untuk membatalakn kongres tersebut. Tetapi akihrnya Inggris mengijinkan kongres dilaksanakan dengan beberapa catatan yang akan berakibat kepada Mufti Amin al-Husayni sebagai penganggungjawab. Diantaranya Amin diminta berkomitmen untuk tidak membicarakan isu politik di Libya, Kalifah dan Tembok Ratapan, juga hal yang menyangkut hubungan antara muslim dan non-muslim menjadi tidak baik.

Kongres Islam ini sendiri di dalam tujuan yang dipublikasikan ada enam hal

  1. Kerjasama sesama muslim.
  2. Menyatukan budaya Islam
  3. Mempertahankan tempat suci muslim
  4. Memelihara tradisi-tradisi Islam
  5. Membangun Universitas Islam di Yerusalem
  6. Mengembalikan kepemilikan jalur kereta api hejaz kepada kaum muslim.

Kongres ini walaupun disambut oleh 20 puluh negara muslim, tetapi sekaligus juga ditentang oleh beberapa pemimpin muslim lainnya. Seperti Turki, mereka khawatir bahwa kongres ini akan mencoba menentang nilai-nilai sekuler dari kemalisme yang baru saja mereka dirikan  beberapa tahun. Sementara isu akan dibentuk khalifah juga berhembus untuk mmbuat Suadi Arabia menentang ide kongres islam ini. Ide pembentukan kekhalifahan tentu saja tidak menguntungkan bagi negara-negara arab yang baru terbentuk seperti Arab Saudi, karena itu artinya melepas wilayah kekuasaan yang baru mereka raih di bawah kekhalifahan seperti pada masa Turki dahulu. Begitu pula isu mengenai pendirian Universitas Islam di Yerusalem ditentang oleh Mesir, karena dianggap menyaingi universitas Islam lainnya al-Azhar, di Mesir. Padahal maksud pendiriannya adalah untuk menegaskan bahwa Palestina, adalah termasuk pusat kebudayaaan Islam, dan Unviersitas Islam tersebut nantinya untuk menyaingi universitas Hebrew yang sudah berdiri lebih dari satu dekade sebelumnya.

Jadi, tentu saja semuanya itu hanya rumor dan tidak menjadi tujuan kongres tersebut. Bahkan Mufti mengatakan bahwa apa yang ditakutkan mereka adalah isu yang sengaja dihembuskan oleh kelompok Zionist. Mufti kemudian menyambangi negara-negara tersebut untuk meyakinkan tujuan kongres Islam ini yang sebenarnya.

Akhirnya kongres Islam terselenggara pada tanggal 6-17 Desember 1931. Hasilnya adalah Kongres mengutuk Imigrasi Kaum Yahudi ke Palestina dan pembelian tanah-tanah. Menentang tujuan Zionist melakukan Yahudisasi atas tempat suci muslim. Mendirikan universitas Islam. Memperkuat ikatan solidaritas Islam dan Kristen Palestina. Namun mereka menentang kelompok Kristen Protestant yang mendukung klaim kelompok Zionist terhadap Palestina. Kongres juga menentang negara Soviet, Italy, Prancis yang menindas negara-negara muslim lainnya. Di sisi lain, tidak ada pembicaraan dan pembentukan khalifah seperti yang diisukan sebelumnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s