Amin al-Husayni dalam Pusaran Perjuangan Palestina (11)

MUNCULNYA GERAKAN MILITAN

Dari Kongres ini figur seorang Amin al-Husayni semakin diakui sebagai representasi pemimpin Palestina yang muncul dari background gerakan keagamaan. Namun seperti banyak karakter pemimpin Arab lainnya, mereka sulit menerima pihak yang tidak setuju dengan cara mereka berjuang. Sikap oposisi atau ketidaksetujuan dianggap adalah sikap memenentang. Begitu pula dengan figur Amin al-Husayni sebagai pemimpin. Bersebrangan atau menentangnya, bisa disalahartikan sebagai tindakan yang tidak nasionalis, bahkan berbeda ideology.

Tetapi di lur figur yang semakin menguat pad diri seorang Amin al-Husayni, kongres Islam ini tidak banyak mempengaruhi kekuasan politik Pemerintah Mandate Inggris terhadap kebijakan mereka atas kelompok Zionist. Kondisi ini berkonsekuensi semakin terbentuknya sikap militan di kalangan rakyat Palestina, terutama sejak Black Papers tersebut. Ketidakpuasaan pada akirnya bermuara pada metode perjuangan yang dilakukan oleh kelompok pemimpin tradisional Palestina yang tergabung di dalam Arab Eksekutif, dan juga termasuk Mufti.

Mereka dianggap terlalu lunak dalam memperjuangkan nasib bangsa Palestina, dengan mencoba bermain tarik ulur diplomasi dengan pemerintah mandate Inggris, yang diyakini kelompok militan Zionist ada di belakang pemerintah mandate Inggris, di pusat kekuatan mereka di London. Amin sendiri masih belum tergerak dengan cara militan ini. Bahkan kritik yang dialamatkan kepada Amin oleh kelompok al-Istiqlal, kelompok dipimpin oleh Awni abd alHadi, sebagai penentangan. Sehingga Amin berusaha membuka ‘cacat’ abd hadi dengan mengungkapkan masa lalunya sebagai pengacarayang pernah membantu pembelian tanah di Palestina. Namun Awni abd Al-Hadi sendii dikenal seorang yang semula bersikap moderat kemudian menjadi cenderung militant sejak penafikan Pasfield White Papers.

Bila Mufti mampu mengendalikan al-Istiqlal, tidak demikian dengan gerakan yang dibangun oleh Izz Al-din al-Qassam. Seorang Syaikh yang mempunyai akar tradisional relijius yang cukup dalam dan seorang yang mempunyai integritas dan juga konserna pada masalah sosial, namun memilih sikap yang militant jika diperhadapkan dengan kelompok Zionist dan Pemerintah Mandate Inggris. Bisa dikatkan, walaupun Al-Qassam paham akar persoalan adalah adanya gerakan Zionist dan Inggris, namun pandangannya tidak bisa memisahkan antara dua entitas, antara Zionist dan Yahudi. Memang sulit untuk menerka, apakah seorang Yahudi di Palestina adalah juga Zionist, yang mendukung terbentuknya negara Israel di atas tanah Palestina, atau tetapo seorang Yahudi yang aolitis atau tidak menduung gerakan zionist. Demikian al-qssam memandang bahwa Yahudi, pada akhirnya, dengan adanya gerakan Zionist dan dukungan politik dari Inggris, sudah pasti mendukung berdirinya negara Yahudi. Sehingga musuh yang harus dihadapi, tidak saja perjuangan menentang Inggris, tetapi juga mlawan Yahudi.

AL-Qassam pernah ditolak Amin al-Husayni saat meminta bantuan dana pengadaan senjata. Saat itu, al-qassam memandang lebih penting memperkuat posisi kekuatan bersenjata daripada membangun infrastruktur keagamaan, seperti masjid, dll seperti yang dilakukan Amin saat di awal 1920-an.  Namun demikian Al-qassam tetap mencoba mempersuasi Amin untuk melawan dengan cara bersenjata kepada pemerintah Mandate Inggris. Dia meminta Amin memimpin pemberontakan perlawanan terhadap Inggris di wilayah selatan Palestina, sementara Al-Qassam di wilayah Utaara Palestina. Namun permintaan ini ditolak oleh Amin.

Al-Qassam memilih untuk melakukan konfrontasi bersenjata dengan Inggris. Bagi al-Qassam arus imigrasi dan pembentukan kelompok bersenjata yang didorong oleh kelompok Jabotinsky sudah memberikan sinyal lampu merh bagi Palestina. Al-Qassam tidak bisa menunggu menjadi jauh lebih buruk lagi, dan ini mendapat dukungan kuat dari pengkutnya. Konfrontasi bersenjata yang dilakukan pada tahun 1935 bulan November membawa kematian tragis. Menolak lari dari kepungan tentara Inggris yang memergokinya, dan kemudian tetap memberikan perlawanan. Kekuatan yang tidak seimbang itu merenggut nyawa al-Qassam.

Kematian al-Qassam tidak berarti meredam perlawanan, justru sebaliknya. Bahkan nama al-Qassam jauh lebih popular saat setelh kematiannya. Dia menjadi simbol perjuangan, martyr bagi tanah air Palestina. Inspirasi yang muncul ini semakin membuat perlawanan terhadap Inggris dan kaum Yahudi meningkat. Sementara Amin sendiri masih keberatan dengan metode yang diambil kelompok al-Qassam,  Al-Istiqlal dan kelompok masyarakat lainnya. Namun pada 15 April, saat Amin sedang melakukan pertemuan dengan kepala Komisi Tertinggi Pemenrintah Mandat Inggris keempat, john Wauschope, pecah kekerasan. Sekelompok pendukung al-qassam menghentikan sebuah bus, dan membunuh seorang Yahudi dan melukai dua lainnya.

Momen ini dibalas sehari setelahnya oleh kelompok Haganah, kelompok para milieter Zionist pimpinan Jabotinsky dengan mebunuh dua orang petani Palestina. Begitu juga terjadi pemukulan sejumlah orang Palestina,  saat prosesi pemakaman orang Yahudi yang menjadi korban kelompok pendukung al-qassam. Konflik ini kemudian tercium di Jaffa, bahwa ada sejumlah orang Palestina yang terbunuh. Maka mereka pun mengadakan pembalasan, dan membunuh sembilan orang Yahudi. Pemerintah Inggris memutuskan negara dalam keadaan darurat, menyusul konflik beruntun tersebut.

Penulis Joseph Schechtman mengatakan bahwa Muftilah yang menginspirasi kerusuhan, dengan memprovokasi Palestina di Jaffa. Schechtman menurut Philip Matar, adalah zeorang zionist Revisionist, yang mencari kesalahan kerusuhan pada diri Mufti Amin al-Husayni. Tudingan ini terkait dengan kunjungan Mufti ke Jaffa sehari sebelum kerusuhan tersebut.

Fakta sesungguhnya adalah, ketika Mufti masih sedang mengadakan pertemuan dengan Kepla Komisii Tinggi Pemenrintah Mandat Inggris, John Wauchope bersama dengan beberapa delegasi pemimpin Arab Palestina. Pertemuan itu untuk menyampaikan beberapa masukan secara langsung untuk menepis propaganda yang dibuat oleh kelompok Zionist di London. Kerusuhan yang terjadi kemudian menghentikan menghentikan pertemuan itu sementara waktu. Kemudian, Mufti menuju Jaffa untuk melihat situasi sesungguhnya pada siang hari tanggal 18 April 1936. Rumor juga terjadi pada hari yang sama di Yerusalem, ada pembunuhan orang Arab di wilayah pemukiman orang Yahudi. Dewan Tertinggi Umat Islam (Supreme Muslim Council), kemudian menginvestigasi dan kemudian Mufti menginfomasikan kepada Wauchope, tidak benar mengenai rumor tersebut, dan mengatakan tidak akan ada lagi kerusuhan. Dan bahkan menjanjikan kepada Pimpinan Pemerintah Mandat Inggris tersebut pada tanggal 21 April akan mencegah berlanjutnya kericuhan di kalangan Muslim. Di Yerusalem, mufti meminta Imam menyampaikan pesan untuk menenangkan massa yang masih panas karena adanya penyerangan kaum Yahudi. Usi shoat Jumat, walaupun massa yang masih marah itu meminta Amin untuk ikut bergabung dalam demontrasi, Amin menolak. Dan Amin mengatakan kepada mereka bahwa tindakan mereka berdemontrasi adalah tindakan bodoh karena Polisi Inggris akan menangani secara serius dengan menembak angsung para demontran.

Lantas, bagaimana kerusuhan yang akhirnya memicu revolusi pada masa 1936-1939 itu terjadi ? Kelompok militan yang memang sudah semakin membesar akibat kekecewaan cara penanganan kebijakan dari pemerintah Mandat Inggris menjadi salah satu inisiatornya. Kelompok Istiqlalis tetap menggalang massa yang marah tersebut. Di beberapa kota mereka menunjuk seorang pimpinan untuk penggalangan massa untuk melawan kelompok Zionist. Kelompok radikal bersenjata Zionist di satu sisi memang sudah menyiapkan diri untuk menghadapi moment yang mereka anggap masa-masa kritis yang mungkin terjadi, yaitu kontak senjata.  Sementara massa yang marah dari orang-orang Palestina, tidak saj ditujukan pada kelompok Zionist, tetapi juga pemerintah Mandat Inggris.

Penggalangan secara organisasi ini pada akhirnya juga mendapat dukungan dari Jamal al-Husayni, pimpinan partai keluarga Husayni. Tetapi Amin al-Husayni pada titik ini pada tanggal 19 April masih menolak untuk mengambil jalan kekerasan. Keberatan Husayni ini juga menyangkut pertimbangan posisi dia sebagai Mufti, yang secara hukum ada di bawah otoritas pemerintah mandat Inggris. Dia merasa, bahwa Inggris akan dengan mudah menurunkan dari posisi Mufti sebagaimana mudahnya dia diangkat sebagai Mufti. Konsekuensi ini tentu berpengaruh apakah konfrontasi politik dengan pemerintah Mandat Inggris akan berhasil atau justru sebaliknya? Jika sebaliknya yang terjadi, tentu saja amat merugikan dia, karena dengan begitu akan kehilangan kontrol dari kekuasaannya yang leluas dalam mengatur masyarakat Muslim di Palestina. Dan bisa jadi akan jatuh ke tangan mereka yang selama ini menjadi rival keluarga Husayni. Inilah pertimbangan pragmatis Mufti Ami al-Husayni, yang ternyata sedang mendekati masa-masa kritis.

Masa-masa kritis dalam memutuskan untuk tidak berkonfrontasi langsung dengan pemerintah mandat inggris akhirnya berakhir pada tanggal 26 April 1936. Dimulai dengan organisasi Komisi Tertinggi Masyarakat Arab, yang trbentuk pada tahun 1934, menysusul bubarnya Arab Eksekutif yang dipimpin Musa al-Kazim yang meninggal di tahun tersebut. Mufti terpilih memimpin Komisi Tertinggi Masyarakat Arab (Arabs Higher Committee) bersma perwakilan dari partai, pemuka dan komunitas arab. Di antaranya adalah Partai Arab Palestina (Jamal Husayni), Partai Pertahanan Nasional (Raghib al-Nashashibi), Parai Reformasi (Husayn al-Khalidi), Blok Nasional (Abd al-Latif Salah), Kongres pemuda (Ya’qub al-Ghussayni, Komunitas Kristen Yunani (alfred Rock), Kelompok Kristen Orthodox Yunani (Ya’qub Farraj), dan kelompok Al-Istiqal (abd al-Hadi).

Mendapat tekanan yang besar dari mayoritas rakyat Palestina untuk bergabung dengan mereka menentang kebijakan Inggris dan Gerakan Zionist yng semakin hari semakin membesar, membuat mufti pada 26 April akhirnya memilih begabung dengan kelompok Konfrontasi. Mufti kemudian mengirimkan Manifesto kepada Kepala Komisi Tinggi Pemerintah Mandat Inggris, JohnWauchope menunjukan sikap Frustasi Rakyat Palestina. Manifesto tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Kelompok Yahudi selalu mendeklarasikan maksud mereka untuk membuat Palestina sebagai Tanah Air Israel, dan untuk kaum Yahudi seluruh dunia.
  2. Usaha mereka untuk terus melakukan Imigrasi dan pembelian tanah-tanah adalah salah satu cara mereka untuk mencapai tujuan tersebut, mendirikan negara Yahudi di Palestina.
  3. Pemerintah Inggris selalu menafikan Hak-hak kaum Rakyat Palestina, keberadaan rasa nasionalisme Palestina, dan permintaan mereka terkait kepentingan nasional mereka. Sebaliknya, pmerintah Inggris malah menerapkan kebijakan pemerintah Kolonial dengn memfasilitasi migrasi kaum Yahudi dan melepas tanah palestina kepada mereka.
  4. Pemerintah Inggris tidak menggubris hak-hak rakyat Palestina manakala bersentuhan dengan deklarasi Balfour, yang berefek pada sebuah wilayah negara yang tidak diperuntukan buat kaum Yahudi, namun untuk orang-orang Arab Palestina, seperti yang termaktub di dalam janji yang diberikan kepada Raja Faysal bin Hussein.
  5. Penerbitan White Papers tahun 1930 yang mengatakan tidak akan ada penambahan imigrasi dan tanah namun yang terjadi sebaliknya, pemerintah Inggris membantu meningkatnya imigrasi kaum Yahudi lebih dari yang ernah terjadi sebelumnya.
  6. Kegegalan pemerintah meredam kerusuhan telah menimbulkan korban kerusuhan. Rakyat Palestina percaya, jika kebijakan pemerintah inggris terus berlanjut seperti ini, akan membawa rakyat palestina kehilangan segala-galanya. Maka perjuangan rakyat palestina akan digerakkan oleh perjuangan terhadap eksistensi mereka, mempertahankan hak-hak nasional dan wilayah Palestina.

Kemudian Mufti menutup manifestonya dengan harapan bahwa Kepala Komisi Tinggi Pemerintah Mandat Inggris dapat mendukung dan merubah secara mendasar kebijakan pemerintah Inggris.

Manifesto yang juga sekaligus diungkap ke hadapan publik inilah yang menjadi sebuah titik balik, Amin al-Husayni, untuk pada akhirnya memilih secara tegas sikap keberpihakannya secara frontal, baik sebagai figur yang menentang Zionist sekaligus kebijakan Pemerintah Mandat Inggris. Dengan demikian sang Mufti, telah memutuskan segala resiko yang selama ini menjadi bahan pertimbangan atas sikapnya yang moderate terhadap pemerintah Mandat Inggris. Jika dahulu sang Mufti berupaya meredam sikap militan rakyat Palestina terhadap Inggris, kini Mufti lebih mengikuti kehendak rakyat Palestina.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s