MENGENAL MASYARAKAT ARAB MEKKAH DI AWAL PERLEMBANGAN ISLAM

Islam dan populasi umatnya, adalah signifikan keberadaannya dalam lalulintas peradaban dan perkembangan demografi. Satu dari lima penduduk dunia adalah Muslim, atau secara total kurang lebih berjumlah sekitar 1,5 milyard manusia di dunia ini. Secara teritorial (geographis)mencakup pusat dunia/bumi yang membentuk seperti ikat pinggang dunia.  Bahkan menyebar di persimpangan Amerika, Eropa dan Rusia di satu sisi dengan Afrika, India dan China di sisi lain. Bentangan inilah yang membuat Islam/muslim menjadi penting dalam kancah politik, ekonomi dan budaya. Bahkan menjadi salah satu agama dunia yang paling terkenal selama abad 21 ini sehingga menjadikannya representasi kekuatan universal.

arab-sihoutte

Secara geographis, Islam bisa dilihat dalam lima blok wilayah, yaitu pertamabagian barat dan timur Africa, Dunia Arab (termasuk afrika utara). Kedua, Wilayah Turco-Iranian (termasuk asia tengah, northwestern China, Kaukasus, Balkan, dan sebagian Rusia dan Ukraine). Ketiga, Asia Selatan (Pakistan, Banglades, India). Keempat,  Asia Tenggara (Indonesian Archipelago, Malaysia, Singapore, Thailand). Kelima, representasi pecahan di kawasan Eropa, khususnya di Prancis, Inggris, Belanda, Jerman dan Spanyol) serta Amerika (Kanada dan USA, karibian dan Argentina).

Pertumbuhan islam konsisten seiring dengan waktu tanpa tercabut dari populasinya, kecuali di wilayah Sicilly dan Spainyol, saat mereka terusir dengan paksa pada abad pertengahan.

PERADABAN ARAB

Islam berasal dari sebuah wilayah di jazirah arab, dengan gurun pasir tandus menyelimuti sebagian besar wilayah mereka. Hanya sedikit wilayah yang mampu ditanami, dan mempunyai sumber air. Kondisi alam yang keras ini, hanya bisa didiami oleh penduduk yang mampu mengorganisasikan diri mereka, baik secara individu maupun berkelompok dengan aturan-aturan yang disesuaikan dengan kondisi alam mereka berada.

Secara garis besar, ada dua pola kehidupan di jazirah arab ini. Pertama, mereka yang hidup menetap, dan kedua mereka yang hidup Nomad atau berpindah. Mereka yang mempunyai kehidupan menetap tidak lepas dari kehidupan masyarakat Nomad. Dalam interaksi kedua pola kehidupan tersebut, terjalin sebuah kondisi yang saling melengkapi. Akan tetapi, gesekan bisa juga terjadi, seperti peperangan, antara mereka yang menetap dengan mereka yang nomad. Ujung dari dua pola kehidupan ini adalah bagaimana mereka bisa bertahan hidup.

Bagi mereka yang hidup nomad, mempunyai karakter yang kuat dalam memahami letak geographis wilayah yang harus mereka jelajahi. Mereka mampu menguasai alam, menjalani dan memanfaatkannya untuk spriti kehidupan mereka. Mereka harus memahami, di mana sumber air, jalur perlintasan para pejalan atau pedagang/saudagar antara satu daerah dan daerah lain, pola geographis atau sifat-sifat alam yang melingkupinya.

Kehidupan berpindah ini seringkali menimbulkan gesekan dengan suku-suku nomad lainnya, atau bahkan dengan para pelintas wilayah yang mereka kuasai. Untuk menjaga kehidupan mereka, maka sumber-sumber potensi ekonomi dan potensi hidup harus mereka dapatkan juga. Maka konflik atau penyerangan terhadap suatu wilayah atau suatu arak-arakan pedagang, bisa terjadi karena dua hal ini.

Kerasnya pola kehidupan nomad, menempa mereka menjadi seorang petarung. Menurut Hugh Kennedy, seorang sejarawan yang konsern terhadap islam mengatakan setiap individu dari mereka dilahirkan sebagai petarung, atau setidaknya berpotensi sebagai petarung. Maka ketrampilan menggunakan senjata, kuda atau onta dan seni bertarung, menjadi bagian integral dan pokok kehidupan mereka yang keras. Walaupun mereka tidak dididik secara militer menurut ukuran peradaban jaman kala itu, kemampuan survival para nomaden ini lebih tinggi. Mereka yang berasal dari kalangan militer sebuah kerajaan berikut kuda-kuda mereka bisa saja tidak survive di wilayah sangat begitu  keras dan ganas dari gurun pasir ini, tetapi tidak untuk para nomaden. Secara kuantitas jumlah mereka yang nomaden tidak sebanyak mereka yang menetap. Tetapi dalam prosentase mobilisasi kekuatan “militer”, dan jumlah yang mampu dimobilisasi jauh lebih besar dari para suku yang menetap.

Maka dalam sejarah peradaban manusia pra-modern, kita mengenal juga bangsa-bangsa nomad seperti bangsa Mongol dari asia tengah yang memahami bagaimana hidup dan bertahan di padang rumput/stepa dan menguasai segenap potensi wilayah tersebut. Bangsa Vikings di Eropah, menjadi sangat sulit ditandingi dalam penguasaan penjelajahan dan pertarungan mereka di laut. Ekspansi wilayah mereka pun sangat luas, menandingi ekspansi sebuah empire dengan sistem administrasi dan militer yang terorganisir dan lebih maju.

PERLINTASAN STRATEGIS

Kembali ke cerita mengenai bangsa Arab. Wilayah Mekkah adalah pusat perdagangan yang menjembatani jalur lintas perdagangan antara Syria, yang saat itu di bawah kekuasaan kekaisaran byzantium (rums/romans), dan Yaman, yang pada periode abad ke 5-6 merupakan kerajaan Yahudi Himyarite. Pada akhir abad ke-6 kerajaan ini ditaklukan oleh kerajaan Ethiopia. Namun kekuasan kerajaan Ethiopia ini tidak berlangsung lama. Mereka kembali ditaklukan oleh kerajaan Persia.

Jalur lintas antara dua peradaban di utara dan Selatan ini menempatkan Mekkah sebagai jalur yang startegis, karena ada di perlintasan kedua peradaban dalam menjalin perdagangan. Selain menjadi tempat lintas perdagangan, mekah juga menjadi tempat ibadah bagi banyak agama dan kepercayaan pada waktu itu.

Dua lagi kerajaan besar yang juga merupakan dua seteru adalah kekaisaran Byzantium dan Kekaisaran Sasanyd Persia. Dua kekaisaran ini saat Rasul dilahirkan ada dalam kondisi perang di antara mereka yang secara langsung saling melemahkan kekuatan keduanya. Perang besar terakhir ini berlangsung selama puluhan tahun  (603-628 CE). Syria dan Iraq/kuffah (Mesopotamia) menjadi padang perang kedua empire tersebut. Kedua wilayah tersebut merupakan representasi dari dua kekaisan besar tersebut. Tentu saja, dengan demikian melibatkan para suku setempat yang menjadi satelite pasukan representasi kedua wilayah tersebut. Di Syria suku yang terlibat adalah suku Ghassanid sementara di iraq adalah suku Lakhm.

Akibatnya banyak para pedagang dan saudagar menyingkir.  Mekkah sebagai sebuah kota perlintasan dari wilayah Peninsula mengambil alih banyak kontrol dan menjadi perantara antara perdagangan yang beralih antara selatan (yaman) dan utara (Byzantin dan Persia). Ini juga salah satu yang membuat suku Quraysh menjadi begitu bertambah kemakmurannya. Kemajuan ekonomi ini  meninabobokan suku QUraysh sendiri. Sehingga muncul krisis spiritual dan moral, karena kondisi kesejahteraan mereka yang tidak mereka dapat duga sebelumnya. Kekuatan ekonomi ini memecah suku quraysh antara mereka yang kaya da miskin, antara saudagar dan budak. Kelompok-kelompok kaya dan serakah yang menumpuk uang dan membuat bangunan megah untuk kepentingan pribadi. Mereka tidak saja tidak peduli kepada yang miskin, tetapi juga mengekploitasi orang-orang miskin dan para perempuan yang sudah tidak bersuami, dengan cara merampas hak-hak waris mereka menjadi kepemilikan pribadi mereka. Dalam kondisi sedemikianlah Muhammad dilahirkan di Mekkah. Sehingga kelak saat menjadi rasul, banyak sekali ayat-ayat yang berkaitan dengan perintah untuk memelihara anak yatim, tidak boleh menumpuk harta dan merampas hak milik orang lain. Islam dilahirkan dalam suasana ketimpangan sosial dan moral yang begitu dalam. Misi Islam yang di bawa Muhammad, selain misi Tauhid, juga adalah misi reformasi sosial. Menempatkan masyarakat arab saat itu dalam posisi yang equal dihadapan sesama mereka.

POLA KEHIDUPAN MENETAP DAN NOMAD

Tidak diketahui, kapan ditemukan dan siapa yang memulai, Mekkah memiliki batu hitam yang dipahami sebagai batu meteorite, yang menjadi pusat spiritual bagi banyak kepercayaan. Batu hitam ini disebeut Ka’bah, dan dipercaya bahwa Ibrahim melakukan pula ritual ibadah di sini. Sehingga prosesi ibadah ini sudah mempunya tradisi yang panjang selama ribuan tahun sebelumnya. Karena Ka’bah menjadi pusat spiritual bagi banyak kepercayaan yang cukup punya sejarah panjang, sudah barang tentu mereka saling bekerja sama untuk menjaga tempat sakral ini. Dan sebagai penjaga yang terjun langsung tentulah mereka yang menjadi penduduk asli yangmendiami wilayah tersebut. Suku Qurays adalah suku yang mayoritas mendiami wilayah mekkah. Suku ini kemudian menjadi administratur bagi lalulintas mereka yang bermaksud untuk berdagang maupun melakukan ritual ibadah. Qurays bukan suku nomad seperti suku badui, sebaliknya mereka menetap. Sehingga Mekkah adalah pusat konsentrasi suku qurays.

Kondisi ini membawa hubungan yang cukup baik antara dua budaya dengan pola kehidupan yang berbeda karakternya yaitu Qurays (penetap) dan Baduy (Nomad). Sebagai suku yang mengorganisir wilayah dengan jalur lalulintas yang ramai, menjadikan mereka mempunyai banyak kontak dan tingkat kesejahteraan yang cukup mapan. Bahkan sebagian pemimpin suku Quraysh mempunyai banyak property di wilayah syria melalui kontak-kontak yang terpanjang dalam sejarah yang panjang. Sebut saja misalnya Abu Sofyan, seorang rival dan penentang Rasulullah, yang mempunyai estate di wilayah Syria. Inilah yang kemudian kelak memberikan kesepatan bagi keturunannya, yaitu keluarga Muawiyah, mendirikan kekhalifahan di Syria sebagai pusat pemerintahan setelah empat khalifah Islam pertama yang bermukim di Madinah berakhir, yang secara tragis melalui sebuah skisme.

Sementara suku beduin/baduy yang merupakan suku dengan pola berpindah-pindah, memerlukan suku yang menetap. Mereka memerlukan pasokan dalam hal logistik, seperti gandum, olive oil (oil) dan juga wine/anggur. Disamping itu mereka juga menjalin kerjasama dengan suku Quraysh sebagai suku penetap  untuk menjaga kepastian stabilitas Ka’bah sebagai tempat ibadah mereka, saat melakukan perlintasan atau melakukan hubungan dagang. Sebagai suku yang mengorganisasi wilayah, quraysh akhirnya mempunyai kemampuan organisasi/managemen yang baik, yang mejadi alasan kuat lahirnya para pemimpin di antara mereka dengan ketrampilan organisasi. Kepemimpinan ini dengan corak administrautur (leadership) diterima dengan baik oleh suku beduin.

Sementara sebaliknya suku quraysh memandang suku beduin karena mereka mempunyai keahlian dalam bidang militer/pertahanan dan penyerangan.  Mereka bisa dimanfaatkan untuk melakukan kerja sama bila diperlukan atas ancaman yang merusak. Bentuk simbiosis mutualisma ini memerlukan keahlian dalam menjaga hubungan timbal balik di antara keduanya. Karena bila salah dalam memanage, maka suku baduy ini bisa menjadi sumber kekacauan sendiri dan kekerasan pun bisa terjadi.

Perpaduan antara kemampuan organisasi dari suku quraysh dan militer dari kaum badui ini memberikan pondasi dasar yang kuat bagi nantinya pembentukan pasukan muslim, yang mencoba menghapuskan sekat antar suku. Ikatan yang dibangun  kemudian didasarkan berdasarkan kesamaan keimanan, kesamaan dalam menerima agama Islam yang dibawa Rasul.

BUDAYA SYAIR

Disamping dari dua sistem kehidupan dan karakter tersebut, ada satu hal yang sangat baik yang menyatukan dan menjadi bagian kehidupan sehari-hari mereka, yatu tradisi keindahan dalam bernarasi. Kita menyebutnya sebagai Puisi/Syair/tembang. Hingga kini dalam masyarkat Arab Modern, satu hal yang amat menyenangkan bangsa Arab bila berbincang dengan bangsa non-Arab, adalah jika mengangkat topik tentang literature, puisi atau keindahan bahasa Arab, dibandingkan bila memperbincangkan masalah politik. Budaya narasi dalam bersyair ini sudah mengakar kuat jauh sebelum Islam lahir. Biasanya mereka menurunkan cerita-cerita, baik cerita nyata ataupun fiksi atau yang menjadi legenda dalam narasi puisi. Dari para penyair, diterima oleh masyarakat sekitar, disebarkan, diulang oleh orang tua dan diturunkan kepada anak mereka, diturunkan kepada cucu mereka, dan seterusnya. Kesenangan mereka dalam narasi syair/puisi dalam kemasan tutur bahasa yang indah, membuat bangsa Arab ini mempunyai ciri daya ingat yang kuat. Mereka menghapal dan mengingat syair-syair yang menarik hati, atau cerita-ceita legenda dan mampu memendamnya atau menambahkan syair lain yang baru di dalam ingatan mereka dalam rentang waktu yang cukup lama.

Kebaikan lokal inilah yang menjadi kekuatan bagi lahirnya tiga hal besar dalam Islam awal. Pertama, tersimpannya semua wahyu didalam ingatan para sahabat dan rasul sendiri. Kedua, terkumpulnya Hadist-hadist nabi. Dan ketiga, lahirnya Sirah Rasul (pertama ditulis oleh Ibn Ishaq). Juga dalam tradisi cerita-cerita kebajikan dalam tradisi keislaman awal yang dikembangkan oleh para sahabat, para Tabi-tabi’in.

Begitu kuatnya budaya narasi syair, maka tidak mengherankan jika kemudian Rasul saat menyebarkan Islam, begitu mudah diterima oleh masyarakat kala itu. Kenapa begitu mudah diterima? Karena sedemikianlah Allah juga menurunkan wahyu kepada Rasul, melalui Jibril, dengan bahasa yang juga begitu indah. Ayat-ayat yang diterima nabi secara berangsur selama 22 tahun ini, yang dikemas dalam redaksi “Syair” yang indah ini, salah satunya  mampu menundukkan bangsa Arab tersebut. Bisakah kita bayangkan, jika bukan karena keindahan Quran ini, mereka bisa diterima dengan baik oleh masyarakat Arab ? Bisakah, budaya nomad Baduy, ditundukkan jika wahyu diturunkan dalam bahasa yang kasar ? Bisakah Quraysh dengan tingkat kepercayaan dirinya sebagai “orang Kota” yang “intelek” ditundukkan bila tidak hatinya ditundukkan oleh keindahan yang melebihi kepercayaan diri mereka tersebut? Mungkin saja bisa, namun bisa saja ceritanya akan lain lagi.

TRANSFORMASI MENJADI MASYARAKAT ISLAM

Ketika wahyu Allah diterima nabi, dan harus disebarkan untuk merubah sebuah masyarakat dengan kepercayaan lama yang mapan, maka Nabi perlu menundukkan hati mereka.Akan tetapi patut dicatat, maksud ditundukkan di sini bukanlah menggantikan total sama sekali budaya yang tumbuh dari akar kesukuan mereka. Karena Islam disampaikan untuk menegaskan prinsip-prinsip monotheisme, maka yang memang tergantikan total kemudian adalah prinsip dan sikap hidup kejahiliyahan mereka. Yaitu sikap dan prinsip percaya dan mempercayai kekuasaan spiritual yang salah, yaitu politheisme ataupun sikap hidup paganisme. Artinya, kehidupan spiritual mereka mengalami revolusi total. Dihancurkan dan dan digantikan dengan kehidupan spiritual yang baru. Yaitu spirit Monotheisme, spirit ketauhidan dalam Islam.

Sementara sikap hidup atau budaya yang tumbuh di dalam masyarakat, tidak mengalami perubahan seradikal kehidupan spiritual mereka. Artinya, kesenangan berpuisi, kemampuan berperang, bahkan ikatan kesukuan atau kekeluargaan masih tertanam dalam. Perbedaan dalam cara pandang antara sebuah kepentingan dunia, masih terlihat jelas. Kepentingan kekuasaan, pengaruh sosial dan bahkan ekonomi  tidak berarti terkikis. Mungkin itulah yang juga menyebabkan Allah juga mengingatkan kita semua, bahwa kita diciptakan dengan banyak perbedaan, berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Saling mengenal bukan berarti kita berkenalan semata, tapi memahami, menghormati. Karena ayat saling mengenal ini adalah ayat yang mengajak kita untuk menjadi pribadi yang positif. Bukan mengenali untuk menggali hal buruk dan menjadikan sebagai titik permusuhan.

Begitulah, karena masih ada sisi lain yang tidak bisa dirubah seratus persen, Nabi pun masih pula mendapatkan hambatan dalam penyebaran Islam. Sebelum mereka menerima Islam, muncul pula perasaan-perasaan kecemburuan, persaingan, terutama dalam status sosial dan kekuasaan.  Ketidaksiapan menerima sesuatu yang baru, apalagi yang tidak sama sekali berakar pada tradisi lama, yaitu Polytheisme dan Paganisme, menjadi pula alasan kuat mereka menolak Monotheisme. Gesekan-gesekan yang sifatnya non-spritual atau dalam konteks modern, sama halnya dengan pergesekan politik juga terjadi. Karena selain menyampaikan pesan ilahiah, nabi juga merupakan pemimpin. Kepemimpinan yang menaungi banyak orang dengan banyak karakter dan kepentingn,  menyebabkan Nabi juga menjadi tokoh politik.  Hijrah adalah juga sebuah keputusan politik Rasul, karena kekuasaan yang dipegang oleh suku Quraysh saat itu masih begitu kuat dan mengancam keberadaan Muslim yang masih lemah.

Tetapi, lambat laun mereka bisa menerima Risalah nabi yaitu Islam. Jalinan kuat untuk melindungi kepercayaan dengan jalinan kesamaan Iman di antara masyarakt Quraysh dan Baduy saat itu, menjadi sebuah simbol kekuatan baru. Di sini konsep kehidupan spiritualisme mereka berganti total. Tentu saja, adalah penting pula menempatkan para sahabat Nabi ,  juga sebagai pembuka jalan bagi tersebarnya Islam pada masa itu. Usman, Umar dan Abu Bakar adalah para pemuka suku saat itu.

Satu persatu suku-suku di luar Mekkah menerima Nabi dengan Islam. Dan salah satunya bisa kita sebut adalah suku Taqafis. Suku ini mendiami wilayah Thaif. Thaif adalah kota tua, telah ada jauh dari masa kuno (Ancient). Suku ini dikenal sebagai penjaga kesakralan dan kesucian mekkah dari luar kota mekkah sendiri. Suku Thaif juga menempatkan AL-Lata sebagai “Tuhan” mereka di sana. Thaif berada di wilayah ketinggian / perbukitan di dekat Mekkah yang dikelilingi oleh kebun dan orchard flower. Suku ini menjadi tulang punggung saat pasukan muslim menaklukan Iraq di bawah kepemimpinan Khalid bin walid.

Sebelum Nabi Muhammad dilahirkan, kemapanan sistem interaksi antara suku baduy dan pemukim setempat sudah begitu kuat. Baik dalam konteks perdagangan maupun jalinan pemahaman dalam hal tradisi ibadah. Dalam sejarah Nabi yang diceritakan dalam bentuk cerita-cerita legenda (disebut legenda, karena sebelum menerima kenabiannya, tidak secara jelas tertulis kisah hidupnya, atau banyak dibicarakan sebagai pusat perhatian, kecuali dalam beberapa karakter yang terbatas, karena masih belum disadari atau belum dianggap siapa-siapa), juga melakukan perdagangan hingga ke syria (romans). Dalam perjalanannya tersebut seringkal juga nabi bertemu dengan para pemuka agama, terutama mereka  yang  kristen.

TANTANGAN DAN EKSPANSI MUSLIM PASCA WAFAT SANG RASUL

Setelah Rasul wafat, maka kepemimpinan Muslim dipegang oleh Khalifah, tiga diantaranya yang awal adalah yang berperan dalam ekpansi kekuasaan wilayah Islam jauh lebih luas. Dalam masa Abubakar dan Umar, ekspansi hingga ke Iraq dan Syria, menaklukan kekuasaan Byzantium di Syria dan Sasanian di Iraq/Iran. Namun kepemimpinan ketiga orang ini dengan cara mengontrol dari jarak jauh, yaitu medinah. Tidak ada sumber yang cukup (?) untuk menjelaskan bagaimana mereka mengorganisasi  ekspansi muslim di wilayah yang amat jauh tersebut. Namun yang pasti, bahwa pada masa kepemimpinanan sahabat iniah mereka banyak menempatkan orang-orangkepercayaan mereka, sesama suku untuk memimpin pasukan dan menduduki wilayah kekuasaan baru.

Usman menunjuk Muawiyah di Syria menjadi Gubernur di sana, yang kemudian menjadi khalifah. Mereka adalah orang-orang kaya pada masa rasul. Muawiyah yang merupakan putra Abu Sufyan di wilayah Syria, mempunya warisan estate atau wilayah di Syria. Kemungkinan ini juga disebabkan oleh hubungan dagang atau kontak yang sudah terjalin lama dengan wilayah syria, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya di atas.

Jika pada masa Rasul, dominasi Rasul begitu terlihat dan dirasakan saat beliau memimpin. Akan tetapi saat beliau wafat, tidak ada tanda yang jelas bahwa Rasul menunjuk siapa pemimpin muslim setelah dia. Pada akhirnya, sebelum keputusan bulat di sepakati, Abu  Bakar di baiat oleh Umar untuk menggantikan Nabi. Tidak banyak yang meragukan sosok Abu Bakar selama ini. Sebagai orang yang termasuk pertama memeluk Islam beliau juga dikenal sebagai loyalis kepada Rasul. Dan dialah yang menyertai nabi hijra ke Medina, melalui masa-masa berat tersebut.

Akan tetapi bagi sebagian yang lain, dengan wafatnya Nabi, berarti putuslah “kontrak” mereka dengan Rasul. Sebagian mereka merasa bahwa, membayar Jizya kepada Madinah bukan lagi merupakan kewajiban. Dan sebagianyang lain, juga melihat bahwa ini adalah kesempatan untuk menentang kekuasaan/elit Muhajirun di Madinah.

Sosok seorang Nabi, bagi mereka membawa pengaruh terhadap kedudukan dan kesejahteraan. Maka setelah nabi meninggal, muncul keinginan untuk mengambil bagian dari dominasi yang dahulu dimiliki Rasul. Hal ini bisa kita lihat saat banu Hanifa (bagian timur arabia) mengangkat nabi mereka sendiri, yaitu Maslama. Mereka menghendaki pembagian wilayah arabia, satu bagian milik Qurays dan satu bagian milik mereka.  Ada juga kelompok dari North-East, mengangkat sendiri nabi dari kalangan mereka yang disebut Sajah. Nabi-nab yang mereka akan ini, tentu saja bermotif politik, kekuasaan dan kesejahteraan di belakangnya. Karena dengan demikian otoritas dalam mengatur diri sendiri bisa mereka dapatkan. Tapi tentu saja ini bukan perkara mudah bagi mereka, terutama ketika kaum muslim yang telah berbaiat kepada khalifah menganggapnya sebagai pengingkaran keismalam.

Gerakan pengingkaran baik secara politik maupun ideology ini disebut ridda. Atau mereka yang menjadi  murtad kembali. Gerakan ini dipandang membahayakan keutuhan ummah dan wilayah. Oleh karenanya, sahabat memutuskan untuk memerangi gerakan pengingkaran kembali ini kecuali mereka menjadi muslim atau tunduk dengan membayar Jizya.

Akan tetapi masih banyak pula suku-suku yang setia kepada kepemimpinan di Madinah. Mereka ini diantaranya adalah Banu Shayban yang membantu Khalid bin Walid memimpin perang terhadap banu Hanifa. Dan ini juga awal dari penaklukan wilayah Arabia Peninsula hingga memasuki wilayah Iraq (sasanian empire). Begitu juga Amr bin AlAsh dikirim ke wilayah syria hingga menaklukan pula kekaisaran byzantin di sana.

Salah satu analisa dibuat oleh sejarawan Hugh kennedy dalam memahami perkembangan Islam ke banyak wilayah di luar Madinah, bahkan hingga ke kekuasaan Byzantium di Syria dan Sasanian di Iraq, adalah alasan budaya hidup kaum Baduy.

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa kaum Baduy mempunya ketrampilan militer yang kuat, sementara hidup mereka juga bergantung pada para suku-suku yang menetap. Mereka seringkali menyerang suku-suku lain dan mendapatkan bayaran dari para suku yang menetap. Namun sebagai bangsa yang kemudian tunduk dalam sebuah agama baru yaitu Islam, mereka menerima dokrin bahwa segenap muslim adalah satu-kesatuan UMMAH. Sehingga mereka dilarang untuk saling menyerang atas dasar persaudaraan itu. Prinsip inilah yang pada saat itu membuat sekat-sekat antar suku menjadi tidak lagi berlaku, namun demikian bukan berarti perasaan kesukuan itu terkikis habis. Identifikasi latabelakang kesukuan masih tetap ada. Namun pada masa awal Islam setelah Muhammad, energi perang yang didapat dari kelompok suku nomad, seperti Baduy ini disalurkan dengan menempatkan mereka sebagai tentara dengan melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah non-muslim, hingga penaklukan kekaisaran Byzantium di Syria dan Sasanian di Iran/Iraq.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s