SEJARAH MUSLIM BURMA PADA MASA RAJA-RAJA

Burma adalah negara yang di masa modern ini berbatasn dengan lima negara yaitu Bangladesh, India, China, Laos dan Thailand. Perbatasan wilayah tersebut mewakili ras dan etnik yang berbeda. Yang paling kontras adalah suku Rohingya yang mempunyai ras India – Bengals (Bangladesh), karena mereka juga mayoritas memeluk agama Islam. Perbatasan wilayah Arakan atau kini Rakhine, yang ditempati suku Rohingya, adalah dengan negara Banglades yang berada di wilayah perbatasan Barat Laut dan Utara. Rakhine sendiri mewakili nama dari sebuah etnis. Karena wilayah Arakan ini berbatasan dengan garis pantai laut Bengal di Samudra hindia, maka menjadi tempat yang memungkinkan kontak kapal-kapal laut asing.

http://www.flickr.com/photos/blessing_flowers/galleries/72157636931617773

Perbatasan masing-masing wilayah tersebut juga mempengaruhi etnis masyarakat perbatasan. Misalnya wilayah Kachin State berbatasan dengan China. Adalah termasuk etnis minoritas di Burma yang diakui negara. Banyak dipengaruhi oleh etnis china, baik dari sub etnis, budaya maupun bahasa. Semisal Zaiwa dan Rawang adalah bagian etnis China dan bagian dari bahasa yang ada di China.

Berbeda pula cerita dengan wilayah Arakan. Ada dua etnis dominan di sana, Rohingya dan Rakhaing/Rakhine. Rohingya itu sendiri berasal dari kata Rwa-Hwaung-Ga-Kyar, artinya Singa dari Kampung Nenek Moyang atau singkatnya mempuyai arti “berani”. Julukan atau nama ini diberikan keptada tentara muslim yang menetap di Arakan. Setidaknya demikianlah yang tertulis di dalam Guardian Monthly, terbitan tahun 1960.

Namun Etnis Rohingya tidak diakui sebagai etnis nasional Burma. Namun demikian baik etnis Rakhine/Rakhaing dan Rohingya sendiri, pengaruh India besar dalam budaya kesaharian mereka. Sementara kelompok Rohingya, berdiam di wilayah paling terluar yang berbatasan dengan Bangladesh di masa modern ini. Membuat mereka mempunya ras yang sama dengan etnis bengal. Kesamaan etnis ini pula kemungkinan yang membuat raja Narameikhla diterima dengan baik oleh kerajaan Bengal saat lari dari Arakan, menyusul invasi kerajaan Ava dari wilayah bagian atas Burma.

Sejarah muslim di Burma,  dimulai pada masa yang jauh ke belakang pada abad ke sembilan. Karena posisi geographis wilayah Burma, merupakan tempat persinggahan para pedagang muslim dari Arabian peninsula dan India yang akan menuju ke wilayah China dan juga Malaka-Sumatera. Pada saat dinasty china di bawah T`ang terjalin kontak dagang yang kuat dengan kekhalifahan Abbasiyah. Para pedagang muslim ini menyebar ke garis wilayah sepanjang India menuju ke arah timur dan mencapai Burma sebagai salah satu tempat persinggahan. Route perdagangan ini selain menuju China, mereka juga melanjutkan rute tersebut hingga ke malaka (Sumatera). Catatan perjalanan ini banyak ditemukan dalam catatan perjalanan yang ditulis oleh para traveler persia seperti Ibn Khordadhbeh (abad ke-9) dan Ibn al-Faqih (abad ke-10), Sementara catatan perjalanan yang sama juga ditulis oleh sejarawan Arab, Suleiman (Abad ke-9).

Sementara penulis dari Burma sendiri,  sempat mencatat untuk pertama kalinya, mengenai kontak mereka dengan  muslim, yaitu saat dua pria pedagang arab diselamatkan dari kapal mereka yang karam di lepas pantai Martaban pada masa Raja Anawratha (1044-1077).  Dalam catatan lain, disebutkan pula bahwa pengganti raja Anawratha,  Raja Sawlu (1077-1088) mendapatkan pendidikan yang diberikan oleh seorang muslim arab pada masa mudanya.

Akan tetapi, kontak pertama muslim dengan wilayah Burma tidak meninggalkan jejak komunitas yang besar dan menetap kecuali hanya beberapa individu yang tidak signifikan jumlahnya. Baru pada awal abad ke-tiga belas, ketika Bengal menjadi wilayah kekuasaan kerajaan Muslim Moghul pada tahun 1203, pengaruh Islam mulai menyebar.

Hingga tahun 1430 pengaruh Islam di Bengal belum dirasakan signifikan dalam kekuasaan di wilayah yang kini masuk wilayah Burma, khususnya Arakan. Adalah Raja Narameikhla yang berkuasa di Arakan yang berbatasan langsung dengan kerajaan Bengal. Pada saat itu, berdiri berbagai kerajaan-kerajaan kecil setelah Kerajaan Pagan yang menguasai hampir seluruh wilayah yang sekarang dikenal dengan nama Burma, jatuh oleh invasi Kerajaan Mogol di bawah Kubilai Khan. Munculnya kerajaan kecil pasca jatuhnya Kerajaan Pagan, mendorong terjadinya gesekan antar raja-raja di wialayah yang baru “merdeka” tersebut. Pada tahun 1404 terjadi serangan terhadap kerajaan Arakan dari kerajaan Ava. Serangan ini memaksa Raja Narameikhla  pergi mencari perlindungan ke kerajaan Bengal di bawah kekuasaan Raja Ahmad Shah.  Di sini Naramaikhla mendapatkan gelar, nama muslim yatu Sulaiman Shah. Arakan memang sudah membangun jalinan erat dengan kerajaan Bengal karena wilayah mereka yang berbatasan langsung dengan kerajaan Bengal. Disamping itu,  kerajaan Arakan tidak merasakan ancaman dalam menjalin hubungan dengan Bengal.

Dukungan dari kerajaan Bengal kepada Raja Naramaikhla atau Sulaiman Shah menjadi sangat berarti ketika kerajaan Bangal memberikan pasukan kepada Narameikhla sebanyak 50000 orang untuk merebut kembali Arakan. Upaya ini berhasil di lakukan, sehingga  Arakan kembali jatuh ketangan Sulaiman Shah. Bersama ribuan pasukan muslim yang di bawa dari Kerajaan Bengal ini, kemudian mereka menetap di Mraung (Mrauk-U) dan mendirikan masjid bernama masjid Sandikhan. (Masjid ini masih berdiri saat buku Moshe Yegar mengenai muslim di Burma ini ditulis pada tahun 1960-an, tetapi kini sudah dhiancurkan). Kerajaan ini kemudian menjadikan Mrauk-U (Mrohaung) sebagai ibu kotanya, hingga pada tahun 1785 kerajaan Arakan ditaklukan oleh kerajaan Burma.

Ketika di bawah Raja Sulaiman Shah inilah, dikeluarkan koin dengan dua sisi mata uang berasal dari dua identitas yang berbeda. Sisi pertama memakai bahasa Burma untuk nama sang raja. Kemudian sisi yang lain memakai bahasa persia untuk gelar raja. Koin ini merupakan bentuk yang diadopsi dari sistem yang ada pada kerajaan Bengal. Dengan demikian Arakan pada masa Raja Naramaikhla telah memasuki suatu peradaban baru, sebuah masa yang modern. Terlebih ketika Arakan mendapatkan otoritas penuh sebagai kerajaan terlepas dari bayang-bayang kerajaan Bengal. Tetapi nama-nama muslim terus dipakai oleh para Raja Arakan ini, disamping itu komunitas penduduk  muslim terus membesar. Ada dua pendapat menganai agama raja Arakan ini. Mose Yegar menyebut, walaupun banyak jabatan penting di dalam kerajaan dikuasai oleh  muslim, begitu juga bentuk institusi pemerintahan dan budaya mengadopsi sistem islam dari kerajaan Moghuls, tetapi Raja mereka tetap beragama Budha. Sementara Muhammad Yunus, menyebut bahwa kerajaan Arakan, kerajaan Islam dengan Raja-rajanya memeluk agama Islam sejak Narameikhla memeluk Islam pada masa pelariannya ke kerajaan Bengal pada tahun 1404.

Setelah Narameikhla wafat, kerajaan ini meneruskan ekspansinya ke wilayah utara. Bahkan hubungan dengan Bengal menjadi berjarak. Ada kasus-kasus penjegalan atau perampokan yang dilakukan oleh orang-orang Arakan terhadap mereka dari Bengal. Pada abad ke tujuh belas, Portugis mencapai Bengal dan Arakan dalam ekpedisi lautnya. Maka terjalinah kontak antara Portugis dengan Arakan, dan bahkan kerajaan Arakan memberikan tempat operasional bagi para pelaut dan tentara Portugis di wilayah mereka dan juga tentunya untuk mendapatkan keuntungan  komersial dari perdagangan dan sumber daya alam mereka. Sebagai kompensasinya, portugis menjadi pelindung kerajaan. Saat itu kerajaan Moghul di bawah Sultan Akbar pada abad ke 16 menguasai Bengal, sehingga kembali memberi ancaman terhadap eksistensi kerajaan Arakan yang lebih kecil.

Mendapatkan dukungan dari Portugis ini, membuat Arakan tetap melanjutkan aksi-aksi penjegalan terhadap Bengal dan bahkan menangkap banyak penduduk Muslim Bengal di wilayah Arakan. Mereka yang tertangkap ini sebagian menjadi budak, tetapi sebagian lain dimanfaatkan menjadi tentara kerajaan. Catatan perjalanan seorang penjelajah Portugis bernama Sebastian Manrique yang menetap pada tahun 1629 hingga 1637 mencatat banyak hal penting mengenai hubungan kerajaan Arakan dengan Muslim, baik dari Bengal maupun muslim Arakan. Posisi-posisi penting kerajaan dipegang oleh Muslim, bahkan Menrique mencatat walaupun muslim memegang posisi kunci di kerajaan dan masyarakat, mereka tidak merasa risih pula memperbudak muslim lainnya yangberasal dari Bengal.

Kerajaan Arakan akhirnya mendapatkan serangan yang serius dari kerajaan Moghuls ketika pada satu masa, kerajaan Arakan menerima pelarian Shah Shuja, putra mahkota kerajaan Moghuls yang berebut tahta dengan saudara lelakinya bernama Aurangzeb. Tetapi Shah Shuja kemudian dibunuh karena diduga ingin melakukan pemberontakan terhadap Raja Arakan, Sandathudama yang telah memberikan suaka pada Shah Shuja. Aurangzeb berang ketika mendengar bahwa Arakan membunuh saudaranya. Serangan pun akhirnya dilakukan mengalahkan kerajaan Arakan walaupun dibantu oleh Portugis. Usai kekalahan dan kematian ,  kerajaan Arakan ini membuat situasi kerajaan tidak stabil. Sisa pasukan Shah Shuja yang dibawa pada masa pelariannya ke Arakan, pada akhirnya mengambil alih kerajaan Arakan.

Tetapi kelanjutan kerajaan ini tidak sekuat saat kerajaan ini didirikan oleh Dinasty Narameikhla atau Sulaiman Shah. Sejak akhir abad ke-17 tejadi banyak pergantian raja, yang umumnya berumur satu hingga tiga tahun saja. Bahkan seringnya pergantian terjadi karena adanya pembunuhan terhadap Raja. Kondisi ketidakstabilan dalam kekuasaan ini berakhir ketika terjadi penaklukan kembali oleh Kerajaan Burma. Sekitar 40 tahun kemudian, Inggris datang dan menyapu Burma di bawah kekuasaan mereka melalui tiga periode perang yang berakhir pada tahun 1885. Periode ini menandai berakhirnya sistem kerajaan di Burma, dan dimulainya masa kolonialisasi hingga terbentuknya negara Modern Burma tahun 1948.

Sumber Tulisan :

“The Muslims of Burma, a study of a Minority Group”, Moshe Yegar, Otto Harrassowitz, Wiesbadden, 1972.

“A History of Arakan (Past and Present)”,  Mohammad Yunus, 1994.

“Burma’s Lost Kingdoms, Splendours of Arakan”, Pamela Gutman, Orchid Press, Bangkok, 2001.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s