Kerja sama Kaum Muslim dan Kristen Arab di Awal Masa Kekhalifahan dalam Ekspansi Wilayah Kekuasaan

Apakah pada masa awal perkembangan dan perluasan wilayah kekuasaan Islam, yang dilakukan pada masa kekhalifahan Abu Bakr dan Umar Ibn Khattab, tentara Muslim melakukan kerja sama dengan orang-orang Non-Muslim, dalam hal ini Kristen? Jawaban yang bisa kita katakan adalah iya.

khlid-bin-wali-war

gambar diambil dari : http://alchetron.com/Khalid-ibn-al-Walid-1048684-W#-

Bagaimana mungkin hal tersebut bisa terjadi? Bukankah seharusnya mereka tidak mengambil sekutu dari kalangan non-muslim ? Perdebatan idiologis mengenai konteks yang bersifat tafsir, akan saya tinggalkan dahulu sementara ini. Tetapi mari kita lihat sejarah yang terjadi melalui sumber-sumber yang selama ini sering dijadikan pegangan dalam memahami sejarah Muslim, yaitu melalui tulisan Al-Tabari dalam kitab Tarikhnya, khususnya pada volume tiga. Tulisan ini dielaborasikan kembali oleh Wadad al-Qadi dari The Oriental Institute, dengan judul Non-Muslms in the Muslim Conquest Army in Early Islam, diterbitkan oleh the University of Chicago tahun 2016.

Saya akan memulai lebih dahulu, sejauh mana non-muslim bekerja sama dengan pasukan muslim pada masa awal sesudah sepeninggal nabi, terutama dalam masa penaklukan wilayah di Iraq dan Syria.

Telah kita ketahui bersama, bahwa sepeninggal Nabi, kaum muslim melakukan ekspansi keluar wilayah tradisonal mereka di Hijaz. Pusat pemerintahan muslim saat itu ada di Madinah. Pada masa Abu Bakarlah dirancang ekspansi kaum muslim Arab dan dilanjutkan oleh Umar ibn Khattab. Pada masa-masa ini, taktik penaklukan salah satunya didahului dengan didapatkannya informasi mengenai kondisi dari wilayah yang akan ditaklukan. Berasal dari informasi inilah, kemudian penaklukan disusun dengan baik. Informasi yang di dapat  bersumber dari mereka yang berada di dalam wilayah penaklukan itu sendiri, atau mereka yang merupakan anggota suku di wilayah yang akan ditaklukan.

Dalam catatan sejarah yang dibuat oleh Al-Tabari (tarikh, vol.3) mengenai penaklukan di bawah Khalid bin Walid, sudah dimulai dengan melakukan rekrutment informan dari kalangan kristen Arab. Ya saat itu, banyak wilayah yang dilalui Khalid bin Walid dalam usaha penaklukan Iraq dan Syria, masyarakatnya adalah pemeluk agama kristen. Seperti suku Taghlib, mereka umumnya beragama Kristen. Sebagai contoh, setelah perang al-Thiny (12H/633) Khalid melakukan perjanjian damai dengan suku al-Hira. Dan salah satu kondisi dari perjanjian tersebut adalah mereka akan memberikan informasi yang diperlukan oleh pasukan Muslim arab pimpinan Khalid. Disamping itu, ada juga rekrutment terhadap informan dilakukan sebagai kompensasi membebaskan mereka dari tahanan perang, mendapatkan jaminan keamanan pribadi, dan keluarga dan barang-barang milik mereka. Sebagai contoh seorang Taghlib mendapatkan kebebasan setelah memberi informasi mengenai keberadaan kelompok Rabi’a. Ada juga seorang Taghlibi lainnya yang ditangkap di sekitar Al-Anbar yang menginformasikan tempat di mana suku Taghlibi itu sendiri berada untuk ditaklukan.

Kekuatan pasukan muslim bertambah, setelah penguasaan wilayah yang dilalui dalam perjalanan menuju penaklukan Irak. Terutama keikutsertaan dari mereka yang berasal dari suku-suku yang ditaklukan tersebut yang merupakan kelompok non-muslim. Alasan keikutsertaan mereka di antaranya karena perasaan sentimen ke-Arab-an mereka. Artinya, sentimen di dasarkan oleh kesamaan yang lebih luas dari sekedar suku. Seperti dalam penaklukan Iraq, yang saat itu merupakan wilayah Sasanian yang berlatar orang-orang persia atau non-Arab.

Maka dalam masa penaklukan Iraq, bergabunglah beberapa kelompok Kristen Arab di dalam pasukan Muslim tersebut. Kelompok Kristen arab pertama pimpinan Anas bin Hilal al-Namari yang mengajak serta kelompok sukunya, suku Namir. Ada juga pimpinan Ibn Mirda al-Fihri al-Taghlibi yang datang bersama Banu Taghlibi. Adalah Al-Muthanna bin Haritha, pada perang al-Khanafis tahun 13H/634, mendekati Anas bin Hilal al-Namari, dan berkata, “Hai Anas, anda bisa tidak mengikuti ajaran agama saya (Islam), tetapi bila engkau melihat saya berperang dengan Mihran (persia), maka berperanglah pula bersama-sama saya”. Kemudian hal yang sama dikatakan juga kepada Ibn Mirda al-Fihri. Keduanya berperang bersama Al-Muthana didasari pada sentimen identitas sebagai orang Arab untuk menaklukan orang-orang Persia di Iraq.

Pada masa penaklukan Byzantin banu taghlibi juga ikut serta di dalamnya bersama dengan pasukan Muslim. Bahkan saat mereka diminta oleh pimpinan tentara Muslim, Al-Walid bin Uqba untuk memeluk agama Islam karena mereka adalah orang-orang Arab, Umar melarang pemaksaan tersebut.  Peristiwa ini terjadi pada tahun 17H/638M.

Tidak saja sejarawan Muslim seperti al-Tabari dalam kitab Tarikhnya memaparkan upaya kerja sama antara tentara muslim dengan kristen arab dalam peperangan. Tetapi juga catatan sejarah yang ditulis oleh penulis kristen juga mengakuinya. Seperti dalam catatan Chronicle 1234 dan Chronicles Theopanes.  Seperti diungkap Theopanes, antara tahun 631-632, disebutkan bahwa salah satu motivasi dalam membela kelompok muslim karena adanya kompensasi bayaran yang lebih besar diterima oleh kelompok tentara byzantin yang berasal dari kristen arab. Kemudian mereka beralih kepada kolega mereka sesama bangsa Arab Muslim dalam memerangi byzantine.

Demikian sekelumit singkat mengenai peran orang-orang Kristen Arab yang berperan dalam kerja sama mereka dengan tentara Muslim di masa awal penaklukan wilayah Irak  dan Syria pada masa kekhlaifahan abu Bakr dan Umar Ibn Khattab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s