INTERVENSI KEKUATAN ASING PADA MASA AWAL KRISIS POLITIK DI SYRIA : CATATAN MEDIA DAN JURNALIS

Tulisan ini saya buat untuk kembali melihat ke belakang sebagai penyegar ingatan kita apa yang sesungguhnya terjadi sebelum konflik yang begitu kompleks itu membesar. Dalam pengantar tulisan saya di atas, sudah saya sebutkan bahwa kekuatan asing sudah mendesain konflik di Syria untuk menggulingkan pemerintahan Asaad secara cepat melalui konflik senjata. Informasi ini terekam dengan jelas melalui media massa pada masa awal munculnya aksi demontrasi terhadap pemerintah Bashar Asaad. Di samping itu, seorang mantan Jurnalis al-Jazeera dengan jelas menjadi saksi adanya kekuatan asing jauh diawal-awal ketika demontrasi baru berlangsung.

MASJID UMMAYYAD, DAMASCUS
(sumber gambar diambil dari : https://nz.pinterest.com/pin/312437292874979179/)

Melalui penuturan seorang mantan Journalist TV Aljazeera berbahasa Arab, Ali Hashim, kita bisa membaca dengan jelas bahwa konflik ini memang didesain sejak awal sebagai konflik bersenjata dengan ditunggangi oleh pasukan asing. Belakangan Ali Hashim, terpaksa berhenti dari stasiun TV Aljazeera, karena apa yang dilihat dan dia tangkap dengan kamera di dalam liputan langsung di lapangan tidak boleh disiarkan oleh Al-Jazeera.

Ali Hashim adalah seorang jurnalis profesional yang sebelumnya bekerja sebagai jurnalis di Manar TV Lebanon dan setelah itu selama lima tahun bekerja untuk BBC. Kemudian dia pindah ke Al-Jazeera, sebagai reporter yang meliput berbagai kejadian politik di Libanon dan Libya. Ketika muncul awal demonstrasi Arab spring di Syria, dia meliput di perbatasan Libanon dan Syria. Di sinilah kemudian dia menyanksikan sesuatu yang tidak biasa terjadi, sebelum terjadinya konflik bersenjata yang meluas di Syria. Saat itu menurutnya, Al-Jazeera, seperti halnya semua stasiun TV lainnya, hanya fokus meliput kondisi demontrasi sipil dengan pemerintah Bashar Asaad. Akan tetapi sesuatu terjadi di wilayah perbatasan tersebut.

Ali melihat dengan mata kepala sendiri, banyak orang-orang bersenjata, berpuluh-puluh senjata di tangan mereka bergerak di sepanjang garis perbatasan Libanon menyebrangi sungai dan masuk menuju wilayah Syria. Saat itu menurut Ali, setiap orang masih berbicara mengenai revolusi damai di Syria, atau revolusi tanpa perlawanan senjata. Akan tetapi apa yang dia saksikan di wilayah perbatasan tersebut, mempunyai nilai berita yang berbeda, ini sebuah cerita besar.

Ali kemudian menyaksikan, ketika kelompok bersenjata tersebut masuk ke wilayah syria, kemudian mereka terlibat konflik bersenjata dengan Angkatan Bersenjata Syria (Syrian Army) di perbatasan tersebut. Konflik ini tentu saja mengindikasikan bahwa  sesuatu yang besar telah terjadi. Ali berpikir, bahwa ini akan menjadi headlines berita dengan mengambil porsi breaking news, karena berpuluh orang dengan senjata lengkap, seperti Kalashnikovs dan RPG, ada di tangan mereka yang memasuki wilayah Syria.

Ali Hashim saat itu tidak bisa mengidentifikasi kelompok bersenjata dari siapakah yang sedang bergerak masuk melalui perbatasan Lebanon dan terlibat kontak senjata dengan Syrian Army. Saat itu menurutnya belum ada indikasi mengenai adanya perlawanan bersenjata dari kelompok yang kemudian dinamakan Free Syrian Army atau (FSA), yang baru muncul setelah 6-7  bulan setelah itu. Menurut Ali, dia menyaksikan kontak senjata di perbatasan ini dua kali, satu pada bulan April. Namun saat itu dia tidak menangkapnya dengan kamera. Tetapi pada bulan May 2011, kali ini dia mengabadikannya dengan Kamera. Artinya, kontak senjata dengan kelompok asing di perbatasan terjadi setidaknya satu bulan sejak aksi demontrasi dimulai di Deraa, Syria ada Maret 2011.

Namun ketika dia mengontak atasannya di Al-Jazeera mengenai apa yang dia saksikan dan tangkap dengan kameranya, mendapat reaksi balik mengejutkan. Mereka tidak menyetujui apa yang dilaporkan oleh Ali, sebaliknya meminta Ali untuk kembali ke posnya di Beirut Libanon. Atau dengan kata lain tidak meliput hal tersebut. Alhasil, liputan yang dilakukan oleh Ali Hashim tidak pernah ditayangkan oleh stasiun TV A-Jazeera tersebut. Al-Jazeera adalah stasiun TV besar yang dimiliki dan pembiayaannya didukung oleh pemerintah Qatar, yang berkedudukan di Doha dan berdiri tahun 1996. Menurut Ali, dia tidak melihat bahwa penolakan atas liputan yang dilakukannya adalah penolakan langsung yang diputuskan para kolega kerjanya. Akan tetapi, penolakan ini dibuat karena tekanan dari pemilik stasiun televisi raksasa tersebut.

Kita ketahui bahwa Qatar, bersama Saudi Arabia adalah dua negara timur-tengah yang secara terang-terangan mendukung pergantian kekuasaan di Syria. Kedua negara ini melihat Bahsar Asaad sebagai salah satu musuh di kawasan tersebut. Tetapi khusus Qatar, ini adalah perubahan besar dalam cara pandang politik regional yang mereka mainkan. Sebelumnyanya pemerintah Qatar berhubungan sangat baik dengan Syria. Seringkali Bashar Asaad mengunjungi Qatar, bahkan pada tahun 2008, dua pemerintahan ini mendirikan perusahaan patungan raksasa yang disebut Syria-Qatar Holding Company (SQHC) dengan investasi patungan sebesar $5 billion. Tetapi sejak peristiwa Arab Spring, perubahan angin politik di pemerintahan Qatar terjadi. Mereka  memutuskan untuk beraliansi dengan Saudi Arabia dan Amerika dalam menjatuhkan pemerintah Bashar Asaad.

Tentunya kelompok bersenjata yang melintasi perbatasan Lebanon – Syria adalah bukti kuat bahwa memang ada turut campur dari negara asing untuk menjatuhkan Asaad bahkan sejak awal sebelum terjadinya demontrasi besar menentangnya.

Sebagai bukti lain adalah ketika Syrian Army menangkap truk bermuatan senjata dan bahan peledak bahkan dilengkapi  Kacamata untuk melihat di malam hari (night-vision goggles). Truk tersebut  beasal dari Irak. Menurut sopir truk tersebut, dia membawa senjata masuk ke Syria dari Irak dengan mendapatkan bayaran sebesar $5000. Informasi ini dimuat oleh kantor berita Reuters pada tanggal 11 Maret 2011. ( http://www.reuters.com/article/us-syria-iraq-idUSTRE72A3MI20110311 ). Pada masa di mana Syria masih dilanda demonstrasi damai, menyusul penangkapan 15 remaja yang menuliskan grafiti untuk menurunkan presiden Bashar Asaad, meniru grafiti yang ada pada unjuk rasa di Mesir.

Melihat momen pengiriman bersenjata terjadi pada masa demontrasi damai berlangsung tentu menjadi sebuah sinyal khusus kemana akhirnya krisis politik tersebut akan di bawa. Dan moment yang mungkin sudah bisa diduga pun terjadi ketika demontrasi berdarah pecah di Masjid Al-Omari. Ketika itu, 4 demonstran meninggal dunia tetapi ada 7 anggota polisi juga terbunuh pada tanggal 18 Maret 2011. Jatuhnya korban, terutama dipihak polisi menandai adanya kontak senjata antara demonstran dan aparat. Sepertinya inilah yang menjadikan salah satu titik perhatian serius bahwa senjata sudah masuk ke tengah-tengah para demonstran. Bahkan penembakan dari atas atap gedung pun terjadi. Tidak diketahui siapa yang melakukan penembakan dari atas gedung ke arah demontran tersebut. Namun ini tentu saja menimbulkan jauh lebih banyak kekacauan dan korban. Bashar Assad kemudian mengirimkan pasukan bersenjatanya ke Deraa karena adanya kontak senjata yang menyebabkan aparat keamanan juga menjadi korban.

Konfirmasi bahwa senjata telah diselundupkan ke tengah-tengah demonstran di awal masa demontrasi damai tersebut terkonfirmasi setahun kemudian. Melalui wawancara BBC berbahasa arab, Jendral Anwar Al-Eshki, seorang penasehat kerajaan Saudi Arabia, mengakui bahwa ada senjata masuk dan disimpan di dalam masjid Omari, Deraa. Anwar, mengatakan bahwa Senjata ini digunakan sebagai upaya perlawanan terhadap pemerintah Syria. Link di bawah ini menunjukkan wawancara tersebut. (silakan dirubah settingnya agar bisa mendapatkan translasinya ke dalam bahasa Inggris).

Intervensi kelompok kepentingan dari luar Syria, seperti yang ditunjukan dari bukti-bukti media dan saksi mata mantan Jurnalis Al-Jazeera, kini kita bisa memahami bagaimana memotrt konflik Syria, perang sipil ini terjadi. Bahwa pembunuhan dan penghancuran Syria memang sudah didisain sedemikian rupa melalui konflik bersenjata. Namun akhirnya, hingga saat ini kita masih menyaksikan, bahwa desingan peluru, ledakan bom, runtuhnya bangunan-bangunan, bahkan yang bersejarah sekalipun masih terjadi. Tangis anak-anak yang kehilangan orang tuanya, bahkan orang tua yang meratapi kematian anaknya, tidak pernah absen dari berita dunia. Darah masih terus mengalir. Mengalirnya darah itu adalah bukti-bukti kuat bahwa aliran senjata dan dana dari luar Syria, mempunyai kontribusi besar bagi kehancuran mereka. Kita tidak tahu kapan kehancuran ini akan berhenti. Kita hanya berharap, nafsu para pemimpin berwajah manis namun dengan bentangan tangan berlumur darah, yang memback-up terus berlangsungnya perang akan terhenti. Entah terhenti oleh apa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s