PAK AHOK, PEMBANGUNAN MANUSIA ITU BUKAN TEORI

Dalam debat calon gubernur DKI Jakarta, Cagub Anies Baswedan menanyakan apa strategi pembangunan manusia dari Cagub Basuki Tjahja Purnama, atau Ahok. Pertanyaan ini sangat baik dan penting sekali untuk didengar. Tapi sayangnya, tanggapan yang diberikan ahok jauh dari yang diharapkan. Alih-alih menjelaskan strategi pembangunan manusia, yang dijelaskan justru pembangunan fisik kembali. Kemudian mengatakan kepada Anies Baswedan, bahwa pembangunan manusia itu hanya teori. Dan bahkan menyinggung pekerjaan dosen yang hanya bicara teori tapi tidak pernah melakukan pekerjaan nyata.
gambar diambil dari http://jateng.tribunnews.com/2016/08/03/pengamat-menilai-anies-baswedan-bakal-jadi-pesaing-berat-ahok

Sayang sekali jawaban Ahok jadi berbelok kemana-mana. Pertanyaan Anies Baswedan simpel tapi serius. Tapi tidak terjawab. Saya yakin, pak Ahok kurang memahami ketika ditanya apa itu pembangunan manusia. Keyakinan saya ini muncul karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari pak Ahok.
Pak Ahok bahkan menyebut kebijakan pembangunan manusia itu berkaitan dengan Perut, Otak dan Isi dompet. Saya cuma bisa katakan bahwa selain otak, maka dua lainnya, perut dan dompet, adalah hasrat pemenuhan kebutuhan primitif manusia dan materialistis. Adapun contoh-contoh yang diberikan lainnya oleh Pak Ahok, juga adalah pembangunan dalam bentuk fisik. Sungai, bangunan dan taman-taman. Mereka semua benda mati tidak ada jiwa di sana, karenanya pembangunan manusia bukan di sana. Mereka itu semua tetap disebut benda mati. Sayangnya pak Ahok malah menyebut pembangunan manusia tidak ada benda matinya itu hanya teori. Padahal Anies tidak sedang mempertentangkan pembangunan benda mati. Dia menanyakan apa konsentrasi kita dalam pembangunan manusia, bukan sekedar konsentrasi pembanungan benda mati.
Baiklah, jadi apa pembangunan manusia itu? Sebelumnya kita pahami dahulu apa itu manusia? Coba kita pikirkan kembali, bahwa manusia tidak lebih dari seonggok daging, kulit, tulang , darah yang diberi nyawa dan bergerak dalam satu kesatuan organ yang disebut tubuh atau badan atau jasmani. Tapi ini sama juga dengan binatang. Tapi yang membedakannya dengan binatang, manusia diberi akal dan jiwa, spirit, disamping emosi atau mental. Pernah dengar bait lagu Indonesia raya kan? “Bangunlah Jiwanya, bangunlah Badannya untuk Indonesia Raya”. Siapa yang dibangun? Ya manusianya untuk Indonesia. Bukan bangunlah gedungnya, bangunlah jembatannya. Atau pernah mendengar kata-kata “Mens sana in corpore sano? di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat”. Di jaman pak Harto ini sangat amat populer. Itu ada dalam slogan olah raga dan selalu terngiang-ngiang setiap saat di sekolah-sekolah dengan senam pagi Indonesia, apalagi saat hari olah raga nasional. Atau pernah mendengar istilah “Corgito ergo sum, aku berpikir maka aku ada”?. Kata-kata terkenal ini dari Descartes, seorang filsuf besar Prancis abad ke-16. Nah kira-kira itulah manusia.
Jadi singkatnya pembangunan manusia itu akan terkait dengan jasmani dan rohani, akal, emosi, moral dan mentalitas. Keadaan seperti ini berbeda dengan membangun taman, gedung sekolah, rumah sakit, membuat sungai yang bersih atau masjid. Semua itu memang penting, namun pembangunan manusia bukan itu. Pembangunan fisik gedung, taman dan lainnya tersebut memang untuk manusia dan kemanusiaan. Tapi itu sekali lagi bukan yang dimaksud dengan pembangunan manusia. Bangunan-bangunan dan fasilitas tersebut memang jadi konsentrasi, sehingga selalu ada dan terus di bangun. Tapi pembangunan yang berkonsentrasi pada bidang fisik ini tidak menjawab sepenuhnya kenapa masih ada kriminalitas, pembunuhan, perampokan? Kenapa masih ada korupsi? Kenapa kita masih menemukan orang tua yang dihardik oleh anaknya bahkan sampai di bunuh? Atau sebaliknya, orang tua membunuh anaknya sendiri? Kenapa masih berperilaku seenaknya sendiri, tidak mau antri, menghardik orang, menyebarkan berita palsu, melanggar rambu-rambu lalulintas?
Tentu itu bukan terkait dengan pembangunan rumah penjara, atau rekrutmen polisi atau mendirikan sekolah hukum, membangun jembatan atau taman, iya kan ? Nah di sinilah pentingnya pembangunan manusia tersebut diperhatikan.
Sudah saya sebutkan bahwa pembangunan manusia itu ada yang bersifat ruhaniah dan jasmaniah. Yang jasmaniah itu juga penting. Karena itu bagian yang menopang kehidupan ruhaniah kita. Dari dua hal ini, Jasmaniah dan Ruhaniah tersebut secara umum kita bisa masukan dalam dua model strategi pembangunan. Yaitu bidang kesehatan dan bidang pendidikan dalam arti luas. Dua lingkup ini umumnya disebut pembangunan manusia.
Bidang kesehatan di sini bukan dalam arti membangun rumah sakit atau puskesmas. Tapi lebih menekankan pada upaya mendorong, menjamin dan mencegah manusia menjadi sakit, tumbuh sehat dan kuat fisiknya. Lantas seperti apa program konkritnya? Misalnya pemerintah mengintensifkan penyuluhan kesehatan. Meningkatkan penanganan dan pelayanan posyandu yang semula ditingkay rw sekali dalam sebulan menjadi sekali dalam dua minggu dengan tenaga medis dan non-medis yang lebih pengalaman. Atau bisa juga menetapkan kebijakan wajib olah raga yang semula dua jam seminggu menjadi empat-enam jam seminggu. Kira-kira seperti itulah aktivitas kesehatan Semuanya itu meningkatkan  pembangunan fisik manusia, atau jasmani manusia dari sejak bayi hingga manula. Lain-lainnya bisa kita pikirkan sendiri.
Nah bagaimana mengenai pendidikan? Ini juga bukan dengan membangun sekolah semata. Pendidikan di sini dalam arti luas yang berhubungan dengan jiwa manusia tersebut. Mental, sprititual, akhlak atau moral agama, budaya baik di masyarakat, di samping pembangunan otak atau pengetahuan umum. Seperti apa sih contohnya ? Ya, bisa saja pemerintah menetapkan pendidikan budi pekerti atau moral di sekolah-sekolah. Atau melakukan rekrutmen guru-guru agama agar mengajar di surau-surau, di masjid-masjid selepas magrib, selama satu jam sebelum Isya. Hal ini penting untuk mendorong pemahaman mengenai agama sebagai sumber bangunan akhlak atau moral kita. Atau bisa juga pemerintah memasukan kurikulum mengenai buruknya narkotika dan obat terlarang di dalam kurikulum sekolah. Karena kerusakan manusia Indonesia kini juga disebabkan perkara narkoba. Bisa juga pemenerintah mengkampanyekan kembali budaya yang baik di daerah masing-masing untuk menunjukan adab di masyarakat. Pendeknya, ada sentuhan ruhani, budi pekerti, metal dan emosi di samping akal kita dalam membangun aspek ini.
Dari dua kategori ini, hampir di seluruh negara maju di dunia, memasukan kategori kesehatan dan pendidikan sebagai yang paling utama dan berkesinambungan dalam program-program pembangunan mereka. Pemerintah mensubsidi bidang kesehatan dari tingkat penyuluhan hingga pengobatan. Mereka menjamin semua anak mendapatkan pendidikan dengan subsidi dari pemerintah. Dari yang murah hingga gratis agar generasi mereka tumbuh menjadi manusia cerdas. Mereka juga memasukkan kurikulum olah raga jauh lebih banyak dalam seminggu di sekolah. Mereka memasukkan pesan-pesan oral dan budi pekerti yang baik di sekolah-sekolah dasar. Indonesia sudah bergerak ke sana, tetapi masih dalam bentuk kebijakan yang belum menitiberatkan pada unsur manusianya secara keseluruhan. Nah program inilah yang harusnya dipikirkan oleh setiap kepala daerah dan pemerintah pusat.
Pembangunan manusia itu, untuk menciptakan generasi yang kuat, sehat, bermoral dan mental yang kuat dan ini bukan pekerjaan sederhana dan singkat. Tapi memerlukan keseriusan dan kesinambungan dalam waktu yang tidak pernah berhenti. Karena itu, dia tidak bisa diabaikan apalagi tidak dipahami pentingnya. Bila diabaikan, maka generasi kita akan stagnan dalam cara berpikir dan berperilaku. Kita akan kesulitan membangun orang cerdas namun berakhlak, kita akan selalu sibuk mendapatkan berita manusia pintar berkedudukan tinggi tapi korupsi. Kita masih akan sering melihat orang-orang tua yang ditelantarkan anaknya. Kita masih akan melihat anak-anak kita yang tumbuh tapi tidak cerdas karena asupan gizi sejak bayi kurang karena pengetahuan orang tua mereka yang juga kurang. Pendeknya kita akan melihat manusia Indonesia yang tumbuh menjadi manusia, tapi tidak manusiawi. Akibatnya Indonesia tetap berada di belakang negara-negara lain baik pengetahuan dan budayanya. Jadi untuk itulah pembangunan manusia seharusnya mengambil porsinya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s