TENTANG NAMA ISRAEL DAN GERAKAN ZIONIST

Seorang teman saya di dalam Wassap Grup, dalam sebuah diskusi melarang untuk memakai sebutan Israel bila menunjuk pada perilaku jelek dari negara Israel terhadap Palestina. Menurut teman tersebut, lebih baik tetap menyebutnya sebagai bangsa Yahudi, karena Israel adalah nama lain dari nabi Yaqub alaihissalam, yang dimuliakan juga di dalam Islam. Jadi Yaqub Alaihissalam adalah juga Israel Alaihissalam, begitu dia menyebutnya. Sementara seorang teman lainnya menyarankan untuk menyebut Negara (Bangsa) Israel dengan sebutan Zionis guna menghindari kontradiksi tersebut.

Jacob

Sebenarnya pendapat dan saran teman di atas bukanlah pendapat yang umum kita dengar. Dalam banyak diskusi pemerhati politik Internasional, justru menempatkan keduanya dalam konteks konflik dua bangsa (negara), yaitu negara Israel dan Palestina. Dan sebaliknya, dunia umumnya memisahkan konflik tersebut sebagai konflik antara orang-orang Yahudi dengan Palestina.

Terminologi yang terakhir ini, yaitu memakai nama Yahudi, memang ditentang dunia Internasional, karena bisa mengarah kepada entitas keagamaan sekaligus ‘ras’ bangsa Yahudi. “Bangsa’ Yahudi ini tersebar di banyak negara, yang belum tentu berhubungan dengan konflik politik di Palestina tersebut. Disamping itu, memetakan konflik antara Yahudi dan Palestina, bisa mengarah pada kebencian rasial terhadap ras Yahudi, dan ini akan mengingatkan banyak orang akan kebencian rasial yang pernah terjadi pada masa Fasisme Nazi Hitler di Eropah.

Lantas, apakah ketika menyebut kekejian negara Israel dengan sebutan Israel menjadi tabu atau dilarang di dalam Islam, karena merupakan nama lain dari Ya’qub Alaihisaalam ? Terus terang saya belum pernah sekalipun mendengar rujukan ini dalam kitab-kitab Hadist. Sebaliknya, banyak sekali rujukan yang bisa kita dapatkan di dalam Al-Quran bagaimana Bangsa Israel, adalah bangsa yang sulit untuk dituntun karena karakter mereka sendiri yang buruk dan bahkan seringkali berbantahan dengan Nabi Musa Alaihissalam.

Sementara  saya sendiri juga belum menemukan secara eksplisit di dalam Al-Quran, bahwa nama Israel adalah nama lain dari Nabi Ya’qub. Kemudian apakah Ya’qub itu sendiri bernama Israel? Bagaimanakah Israel itu muncul dan disematkan kepada Ya’qub?

Di dalam Old Testament, Kejadian 32:28, muncul sebagai asal-usul sebutan lain dari Ya’qub yaitu Israel. Di sana disebutkan dengan jelas bahwa sebutan Ya’qub berganti menjadi Israel karena dia telah memenangkan pertarungan dengan Tuhan.

Ayat ini menerangkan bahwa suatu waktu, Yaqub tiba-tiba diserang oleh Tuhan. Mereka kemudian bertarung dengan sengit semalaman sehingga akhirnya di pagi hari, Ya’qub dirahmati oleh penyerang tersebut, yaitu Tuhan sendiri, dengan diganti namanya dengan sebutan Israel.

Para penafsir Injil dan Taurah sepertinya sepakat, bahwa pertarungan Yaqub ini bersifat methapora atau kiasan.  Kiasan ini merujuk pada pertarungan bersama Tuhan dalam diri Ya’qub.

Dalam nama-nama yang mengandung sifat theoporic (sifat ketuhanan), sebuah nama dibentuk oleh dua unsur. Unsur pertama, nama ilahiah itu sendiri yang kemudian didukung oleh unsur kedua yaitu unsur kata kerja. Demikianlah, maka nama Israel tidak lepas dari dua unsur tersebut. Isra sendiri artinya bertarung atau berjuang. Sementara El sendiri artinya adalah sebutan untuk Tuhan. Sehingga secara harfiah,  Tuhan yang (akan) bertarung. Jadi, nama yang disandang Yaqub, mengandung muatan atau artian ilahiah yang  diatributkan untuk Tuhan, bukan untuk Ya’qub itu sendiri.

Keilahian nama tersebut terus disandang oleh komunitas dari keturunan Ya’qub, sebagai bentuk keinginan mereka menjadi bagian yang terus diingat oleh Tuhan agar Tuhan selalu bertarung demi mereka. (Ha’aretz, Why Is Israel Called Israel, April 20, 2015)

Lantas bagaimanakah hubungan nama Israel dalam konteks ke kinian? Tentu saja kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa nama (negara/bangsa) Israel kini adalah kelanjutan dari keinginan bangsa Israel dahulu kala. Nama yang mereka adopsi sebagai bentuk keinginan agar Tuhan selalu bertarung demi mereka. Bahkan pada saat pembentukan negara Israel sendiri, setidaknya ada nama-nama lain di luar nama Israel yang diusulkan oleh para founding father Negara Israel yang tergabung di dalam kelompok gerakan Zionisme. Sebut saja, ada nominasi nama lain seperti Zion, Zabra dan Judah.

Sementara Theodore Hertzl, pendiri Zionisme itu sendiri tidak mewariskan nama yang pasti yang akan diberikan pada sebuah negara Yahudi yang akan terbentuk seperti yang dia cita-citakan. Dalam dua buah bukunya, baik Der Judenstaat maupun Altneuland, Hertzl tidak menyebutkan hal tersebut. Bahkan Hertzl sendiri meninggal hampir setengah abad sebelum berdirinya negara Israel yaitu di tahun 1904.

Jadi pendirian sebuah negara Yahudi, dengan nama Israel bukanlah sebuah kesepakatan bulat berdasarkan sifat keilahian, namun adalah sebuah pilihan yang ditentukan secara politik. Keputusan yang dihasilkan berdasarkan voting di antara founding fathers itu memutuskan nama Israel dengan perbandingan 7:3.

Bahkan menyebut sebuah bangsa Israel modern sebagai keturunan dari bangsa Israel kuno saja, adalah sudah salah kaprah. Karena, apa yang disebut bangsa Israel sekarang ini, berbeda dengan apa yang diceritakan di dalam kitab-kitab. Saya sudah menuliskan asal-usul bangsa Israel modern ini sebelumnya.

Kembali kepada soal diskusi di Wassap Grup, di mana seorang teman kemudian mengusulkan untuk menyebut Zionis sebagai rujukan melihat kekejian negara Israel terhadap bangsa Palestina.

Sebenarnya, menyebut zionis untuk mewakili negara Israel tidaklah salah. Tetapi, sebutan zionis itu sendiri lebih kompleks ketimbang hanya untuk diatributkan kepada negara Israel. Tidak semua Yahudi adalah Zionis dan tidak semua Zionis itu sendiri adalah Yahudi.

Zionisme adalah sebuah paham gerakan yang muncul di akhir abad ke-19. Awalnya adalah kelompok fundamentalis Yahudi yang melihat tanah Palestina adalah tanah ziarah mereka. Di mana mereka menganggap tanah Palestina, terutama sekali Yerusalem dan Tepi barat (Judah dan Samaria) adalah tanah lahirnya agama Yahudi. Banyak dari mereka yang menginginkan kematian di tanah kelahiran bangsa Yahudi tersebut. Namun kemudian gerakan ini berrevolusi, menjadi sebuah gerakan untuk mendirikan negara Yahudi di tanah Palestina tersebut.

Keinginan kuat itu muncul ketika adanya kerusuhan rasial dan perlakuan yang sangat diskriminatif terhadap mereka yang menamakan dirinya orang-orang Yahudi di Eropah.Organisasi Gerakan Zionis dunia kemudian lahir, dan berjuang untuk melepasan diri dari perlakuan rasis orang-orang Eropa barat dan timur. Salah satunya adalah wacana untuk mendirikan negara Yahudi. Hertzl memperjuangkan ini bersama organisasi zionismenya.

Mereka kemudian membentuk perwakilan lobby-lobby Yahudi di banyak negara yang berpengaruh, baik di Inggris, Amerika dan juga di Turki. Alternatif yang mereka pilih dari lobby-lobby tersebut berkisar pada koloni Inggris. Sehingga nama-nama yang muncul tidak saja di Palestina, tetapi juga koloni Inggris lainnya Mesir dan Cyprus bahkan di Afrika Timur, tepatnya di Uganda. Khusus untuk masa depan bangsa Israel untuk hidup di Uganda pernah secara serius diusulkan dan dibicarakan oleh Hertzl dalam kongres zionis internasional. (Walter Laqueur, A History of Zionism, 2003 ed)

Kelompok Zionisme ini sangat luas jaringannya. Bahkan pada masa perjuangan awal mereka, Supreme Court Amerika,  sekaligus penasehat presiden Amerika, Louis Brandeis adalah seorang Zionist. Tidak saja itu, mereka juga menyasar gerakan zionis mereka kepada kelompok kristen protestan di Amerika. Kelompok gereja ini dimanfaatkan karena kelompok zionist karena mampu menjadikan isu penindasan rasial bangsa-bangsa di Eropah terhadap kelompok ras Yahudi untuk menarik simpati kemanusiaan yang diemban gereja. (Alison Weir, Against Our Better Judgment, 2014)

Maka sebut saja hingga kini kelompok gereja yang mendukug gerakan zionist ini sebagai kelompok Christian Zionist. Mereka sebagian besar adalah kelompok konservatif evangelist yang hingga kini mempunyai anggota antara 30-45 juta orang. Kelompok ideology ini mendukung setiap langkah politik negara Israel dan mempengaruhi kebijakan luar negeri Amerika. Clifford A. Kiracofe dalam Dark Crusade Christian Zionism and US Foreign Policy, (2009) menggambarkan hal ini.

Jadi bagi kita seharusnya sudah jelas. Zionisme adalah gerakan politik Internasional yang melintas batas negara dan ras dengan tujuan saat ini mengukuhkan berdirinya negara Israel dan tujuan-tujua politik mereka. Mereka tidak saja berasal dari kelompok Yahudi, baik di Israel tetapi juga kelompok-kelompok di luar mereka. Gerakan terbesar mereka ada di Amerika. Tetapi tidak juga menutup kemungkinan, ideologi zionisme yang masif disebar dalam bentuk yang kita tidak sadari mempengaruhi cara dan pola pikir kita dalam melihat konflik yang terjadi di Palestina. Yang jelas adalah, bahwa apapun bentuknya, setiap bentuk penindasan dan diskriminasi manusia atau bahkan bangsa harus ditentang. Dan saat ini, penindasan bangsa atas bangsa menimpa bangsa Palestina.  Hari ini genap Tujuh puluh bangsa Palestina kehilangan tanah mereka, bahkan sistem Neo-Apartheid diterapkan Negara Israel atas bangsa Palestina. Perjuangan dunia atas penindasan masih berlangsung, belum tuntas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s