Category Archives: Amin al-Husayni

Amin al-Husayni dalam Pusaran Perjuangan Palestina (11)

MUNCULNYA GERAKAN MILITAN

Dari Kongres ini figur seorang Amin al-Husayni semakin diakui sebagai representasi pemimpin Palestina yang muncul dari background gerakan keagamaan. Namun seperti banyak karakter pemimpin Arab lainnya, mereka sulit menerima pihak yang tidak setuju dengan cara mereka berjuang. Sikap oposisi atau ketidaksetujuan dianggap adalah sikap memenentang. Begitu pula dengan figur Amin al-Husayni sebagai pemimpin. Bersebrangan atau menentangnya, bisa disalahartikan sebagai tindakan yang tidak nasionalis, bahkan berbeda ideology. Continue reading

Advertisements

Amin al-Husayni dalam Pusaran Perjuangan Palestina (10)

KONGRES ISLAM

Setelah bulan Februari 1931 dikeluarkan Black Papers, Mufti Amin al-Husayni menyusun langkah-langkah diplomasi dengan melakukan pendekatan sentimen keagamaan terhadap isu Palestina. Menyadari bahwa ini adalah langkah yang dianggap mempunyai sentimen besar dan melawan sekat bangsa dan negara. Jika menjelang 1920-an, Amin begitu sadar akan nasionalisme Arab, memperjuangkan terbentuk Greater Syria, kini dia mencoba menggalang gerakan Pan-Islam. Continue reading

Amin al-Husayni dalam Pusaran Perjuangan Palestina (9)

MASA-MASA TRANSISI DARI DIPLOMASI KE REVOLUSI

Peristiwa 1929 menandai dimulainya sebuah perubahan besar dalam memandang hubungan antara kaum Arab Palestina dengan pemerintah Inggris. Korban yang jatuh di pihak Arab Palestina juga besar, dan mereka disamping menjadi korban perlawanan kaum Zionist radikal, juga banyak yang menjadi korban aparat keamanan pemerintah Inggris. Continue reading

Amin al-Husayni dalam Pusaran Perjuangan Palestina (8)

KONFLIK TEMBOK RATAPAN (WESTERN) WAILING WALL RIOTS,  1928-1929

Komplek Haram al-Sharrif berikut dengan tembok yang mengililinginya adalah komplek waqf yang diperuntukan bagi kaum muslim untuk beribadah. Karena masuk dalam waqf, maka mereka menempatkan penjaga waqf untuk memelihara komplek tersbut atau disebut Mutawalli. Namun sejak abad pertengahan, ada bagian komplek dalam area waqf yang rutin dijadikan sebagai tempat berdoa kaum Yahudi. Tempat tersebut adalah Tembok ratapan (wailing-Western) wall. Continue reading

Amin al-Husayni dalam Pusaran Perjuangan Palestina (7)

MASA DIPLOMASI 1921-1928

Selama masa antara tahun 1921-1928, aktivitas Mufti, memberikan banyak keuntungan pada dirinya. Dia mulai dikenal di banyak kalangan negara-negara muslim lainnya. Dia menjadi salah satu figur pemimpin muslm di Palestina, yang kemudian mempunyai banyak pendukung dan  menjadi keuntungan politik secara tidak langsung terhadap dirinya. Kekuatan inilah yang kemudian memberi  kekuasaan untuk menempatkan orang-orang untuk menjadi  imam, qadi, atau khatib bila dianggap mendukung kebijakannya atau  juga sebagai seorang nasionalis sejauh tidak mendukung gerakan Zionis. Sebagai contoh, Amin menolak gagasan mengumpulkan dana untuk membiayai pembelian senjata dibandingkan pembangunan Masjid, seperti yang diusulkan oleh Izzadin al-Qassam, seorang pejuang Palestina yang mengambil pilihan revolusi untuk menentang Inggris dan Zionis. Akibatnya, Amin pun menolak mengangkat Izzadin al-Qassam sebagai khatib di wilayah yang dikuasai Amin. Continue reading

Amin al-Husayni dalam Pusaran Perjuangan Palestina (6)

MENJADI MUFTI BESAR PALESTINA

Pada tanggal 1 Juli 1920,  Inggris menunjuk seorang kepala Komisi Tinggi Pemerintah Kolonial Inggris di Palestina bernama Sir Herbert Samuel. Dia adalah seorang politisi dengan latar belakang Yahudi dan juga mendukung zionisme. Chaim Weizmann, presiden pertama Israel kelak, menyebut Samuel sebagai orang yang paling berpengaruh dalam memuluskan tujuan Zionis dalam mempengaruhi pemerintah Inggris sebelum deklarasi balfour dibuat. Dia pula yang mencoba meyakinkan Lyod George, perdana mentri Inggris yang menjadikan Palestina sebagai protektorat Inggris, dan mempersuasi agar kebijakan inggris memperhatikan aspirasi kondisi kaum Yahudi  yang tertindas di Eropa Timur. Salah satu solusinya adalah memuluskan mimpi kelompok zionis yahudi untuk mendapatkan Palestina sebagai tanah air bagi kaum Yahudi. Continue reading

Amin al-Husayni dalam Pusaran Perjuangan Palestina (5)

KONFLIK  PERTAMA DI BAWAH PEMERINTAH KOLONIAL INGGRIS

Setelah Turki dikalahkan, Amin Al-Husayni ditunjuk oleh pemerintah Kolonial inggris untuk bekerja sebagai pegawai administrasi membantu Gabriel Haddad, seorang Arab Kristen yang menjadi penasehat Ronald Storr, gubernur militer di Yerusalem. Kemudian dia dipindah ke bagian Kesehatan publik di Damaskus, Syria. Di sinilah Amin yang sangat mendukung Faysal, juga membangun perkawanan dengan para pendukung Nasionalisme Arab, pendukung Faysal ibn Hussein dan menjadi pegawai penghubung organisasi dalam mempersiapkan Kongres Syria. Sebagaimana yang pernah disepakati dalam perjanjian antara McMAhon dengan Sharif Hussein, ayahanda Faysal, bahwa setelah mereka lepas dari Turki, maka Inggris akan memberikan kelak kemerdekaan bagi Greater Syria yang terbentang dari Syria, Irak, Jordania, Hejaz (Saudi Arabia) dan Palestina.  Inilah yang menjadi pendorong utama, pemberontakan orang-orang arab terhadap Turki Ottoman disamping kegalauan mereka terhadap perubahan kebijakan politik Turkifikasi. Maka kongres Syria yang disiapkan Faysal juga turut mengundang orang-orang Palestina di dalamnya. Continue reading